Ketika harus sendiri

Suara musik penanda pesan masuk sebentar-sebentar terdengar. Setelah itu suara tombol ditekan untuk menulis pesan pun terdengar pelan. Begitu terus selama hampir 2 jam. Kepala ini jarang sekali mendongak untuk melihat keadaan disekeliling. Terus tertunduk menatap layah telepon gengam.

Sesekali berjalan ke depan layar televisi besar bukan untuk menontong film atau iklan, cuma menatap kode-kode pesawat yang akan terbang. Tidak ada perubahan untuk pesawat menuju Banjarmasin. Hanya gate A dan tidak ada keterangan akan masuk ke ruang boarding. Padahal jam sudah hampir pukul 16.00. Di jadwal katanya pesawat akan lepas landas jam 16.50.

Sebuah pesan masuk lagi menanyakan harus bagaimana. Di tiket tertera gate A 9 sementara di LCD terpampang gate A 5. Memang tidak jauh sih, tetapi agak merepotkan juga, terutama buat si sulung yang baru kali ini terbang sendiri. Saya hanya bisa membantunya dari luar melalui pesan-pesan yang terkirim.

Saya pastikan betul si sulung tidak diam dan asyik dengan telepon gengamnya, kalau tidak bisa-bisa tidak dengar pengumuman tentang penerbangan. Makanya apa saja saya kirim ke pesannya. Agak ampuh sedikit untuk mengurangi kegugupannya, juga kecemasan saya sih hehehehe.

Makanya rela mondar-mandir ke televisi besar, kalau-kalau ada pengumuman di sana. Tapi tidak ada sama sekali. Maka manfaatkan saja indra pendengaran dengan baik. Untung di luar suaranya cukup keras, jadi agak amanlah buat saya.

Tak lama terdengar penerbangan ke Makassar sudah masuk ruang boarding. Harusnya penerbangan ke Banjarmasin dulu sebab penerbangan ini lebih cepat 5 menit dibanding ke Makassar. Sebelum ke Banjarmasin adalah penerbangan ke Balikpapan. Maka mulailah saya membujuk si sulung agar mau menemui petugas di dalam, tujuannya menanyakan gate mana yang benar.

Kelihatannya agak segan dia, tapi untunglah pergi juga. Pertama ke gate A 5 yang dekat dengan tempatnya menunggu. Ternyata penerbangan itu berada di gate A 9, maka menuju ke sanalah ia. Kembali bertanya dan benar disinilah tempat menunggu. Untunglah si sulung tepat waktu, sebab tak lama kemudian para penumpang sudah siap masuk ke bis.

Saya sendiri tidak mendengar pengumumannya itu, mungkin kelewat konsentrasi mengarahkan si sulung, atau alasan lainnya. Itu juga yang membuat saya lupa membeli minuman untuk berbuka puasa si sulung. Maklum kami tiba di Bandara tepat waktu cek in hampir habis. Tabrakan beruntun di tol bandara membuat arus kendaraan tersendat.

Tidak sempat pesan apa-apa ketika si sulung masuk ke ruang cek ini, cuma bisa bilang hati-hati ya sayang. Selanjutnya berdoa dalam hati semoga perjalanannya lancar. Dan saya bersyukur perjalanan itu berlangsung aman hingga ke Banjarmasin.



Comments