Posts

Showing posts from August, 2015

Naikkan kecepatanmu, kawan!

Cihuy, saatnya berkendara. Pakai motor warna merah. Pakai jaket, sepatu, dan helm. Jangan lupa sarung tangan buat meredam sinar matahari. Maksudnya biar kulit terlindungi, biar pun tidak seratus persen, tak apa.

Nyalakan mesin. Atur spionnya supaya mudah mengintip kendaraan di belakang. Siap, Mari kita jalan. Tak perlu kencang, jalanan tak mulus dan berbatu. Aspalnya sudah menghilang entah kemana. Di salah satu bagian jalan malah sudah tertutup tanah dan agak rata, ini dia lahan bermain bola milik anak-anak yang jarang dipakai. Lewati tanjakan kecil dan sampailah di jalan beraspal mulus.

Upss, jangan dipacu dulu. Lihat ada polisi tidur terbuat dari tambang kapal. Tidak banyak hanya dua. Tidak ampuh benar menahan laju kendaraan yang lewat, terutama motor. Godaan jalan mulus sudah mulai menggelitik. Harus ditahan karena jalan tidak terlalu besar. Ikuti terus maka sampailah di jalan utama yang lebih besar dan mulus.

Ini dia saatnya. Nyalakan dulu lampunya supaya pengendara lain tahu arah ya…

Kabut itu datang

Pagi ini berbeda dari kemarin. Sapuan awan tipis pembuka pagi memang tetap ada, namun kali ini disertai bau terbakar tipis. Semula tidak tercium, namun lama kelamaan bau itu mulai teraba indra penciuman. Pelan-pelan ada rasa sesak yang membelai. Aih, apakah ini.

Jarak pandang memang masih belum terhalang benar. Masih jauh mata melihat, tetapi saat melihat ke Bandara Samsudin Noer, tak terlihat deretan pesawat yang parkir di apron. Gedungnya pun tampak samar saja.

Matahari yang semakin meninggi tidak juga menghilangkan sapuan tipis putih itu. Anginlah yang mampu menghalaunya pergi. Itu pun setelah bujuk rayu manis sang bayu pada kabut. Dia mau pergi membawa serta sesak di dada.

Inilah kemarau adanya, mudah-mudahan sudah memasuki puncaknya agar hujan segera datang. Agar kabut putih itu yang merupakan asap kebakaran hutan tidak lagi bertandang. Tak terbayang jika asap itu makin pekat. Bagaimana dengan sesak yang bisa semakin kuat terasa.

Memang kehijauan di tepi jalan, sudah berganti menjadi…

Memulai yang baru

Pagi di sini, dingin sekali. Musim kemarau memang membuat pagi menjadi dingin. Kabut juga selalu turun menyapa. Sementara sinar mentari masih belum sepenuhnya menyengat. Semburatnya masih lembut menyapa.

Inilah pagi di kota Banjarbaru, dekat Banjarmasin Kalimantan Selatan. Inilah tempat kami semua bersama berkumpul, memulai hari, menjalani aktivitas yang berbeda dengan sebelumnya, khususnya untuk saya.

Kami seperti memulai kembali kehidupan. Dari yang semula berjauhan menjadi dekat dan saling bergandengan tangan. Bekerjasama mengerjakan segala sesuatu. Kembali untuk mengenal diri kami masing-masing juga sekitar yang sama sekali baru. Budaya, adat istiadat, kebiasaan, dan tabiat, dan masih banyak lainnya, termasuk bahasa setempat yang kerap membuat saya bengong karena tidak mengerti apa maksudnya.

Maka, belajar adalah kunci utama untuk mengenal semuanya. Mengerti dan memahami agar tidak salah mengerti dan menyakiti orang lain. Karena ini adalah tanah baru untuk kami berpijak dan dijunjung…