Posts

Showing posts from June, 2018

Nyamannya menikmati soto banjar

Image
Sudah dua hari hujan turun. Nggak terus menerus sih, tapi, intensitasnya cukup besar plus angin. Sudah dingin, badan lagi nggak enak karena batuk pilek.
Suasana kayak gini, enaknya ngemil atau makan sesuatu yang hangat. Gorengan yang baru diangkat pun hangat dan cocok. Sayang, inget sama batuk jadi coret dari daftar.
Soto, wah, cocok nih. Kuahnya hangat, masih sedikit beruap, mantap deh. Entah si hujan paham akan isi hati ya, tiba-tiba berhenti. Langsung cuzz cari soto di depan.
Nggak perlu waktu lama sudah menemukan warung yang menawarkan soto banjar. Beli dua bungkus ah. Isinya dipisah dengan kuah supaya bisa dihangati lagi.
Sigap, paman penjual memasukkan bihun, potongan wortel dan kentang serta irisan telur ayam. Setelah itu suwiran ayam ke dalam plastik. Taburi daun bawang. Kuah soto ditempatkan di plastik lain. Semua lantas disatukan dalam plastik besar. Sebelum serah terima dilakukan, paman penjual masih memberikan persyaratan terakhir agar rasa soto makin mantap yaitu potongan jer…

Pur bapupur biar maknyes

Image
Tinggàl di bumi Kalimantan, sudah pasti harus siap terpapar panas matahari. Apalagi panas matahari siang, rasanya uhuy sekali. Kerap dikasih bonus angin kering.

Lalu apakah aktivitas jadi berhenti? Nggak dong. Lanjut terus. Nah buat menangkal hawa panas yang menerpa, saya suka pakai bedak dingin atau pupur dingin.



Pemakaian pupur dingin ini bisa dikatakan sudah menjadi tradisi masyarakat Banjar. Mereka tanpa ragu menggunakannya di ruang publik macam pasar atau saat berkendara. Tak apalah wajah dan lengan tangan terlihat putih yang penting kulit terlindungi.

Saya sendiri sudah lama berkenalan dengan bedak dingin. Dulu, pertama pakai karena penasaran. Ternyata enak juga. Rasanya maknyes dikulit. Waktu musim kemarau datang, bedak dingin ini efektif menghalau biang keringat pada anak-anak. Sensasi rasa dingin membuat mereka nggak nolak dibaluri bedak.

Sekarang, saya jadi makin sering pakai bedak dingin yang bisa dibeli dimana saja. Bisa juga sih bikin sendiri. Caranya dengan merendam beras se…

Ngebioskop ah

Image
Tanpa ada rencana alias dadakan langsung pergi ke bioskop. Letaknya dekat saja, lima menit dari sekolah si kecil. Ini pertama kalinya kami nonton di bioskop yang baru dibuka maret lalu. Jadi bisa dibilang wahana rekreasi baru di kota Banjarbaru.



Sesampainya di bioskop yang ada di q mall, antrean terlihat memanjang. Wah, harus siap berdirilah. Nggak apa-apa deh kan tempatnya adem.

Calon penonton sepertinya didominasi remaja. Bisa jadi mereka ingin menikmati uang lebaran yang didapat bersama teman-temannya. Sekalian menghabiskan libur lebaran yang masih lama.

Seru juga melihat gaya mereka, sepertinya menggenakan pakaian terbaik mereka, lengkap dengan sepatu dan tas kecil, untuk yang perempuan. Kalau anak laki-lakinya beberapa menggenakan jaket. Sambil berceloteh, tangan mereka tak henti memainkan telepon gengam. Selfi, sudah wajib hukumnya hehehehe.

Selama mengantre saya berpikir kenapa kok jalurnya sampai mengular begini? Apa loketnya hanya satu? Maklum kalau nonton di kota saya besar, san…

Menjajal kalayang

Image
Menjajal hal baru, pasti menyenangkan dong. Apalagi wahana yang ingin dicoba baru ada di Jakarta dan cuma di kawasan  Bandara Soekarno Hatta. Makin penasaran kayak apa.



Kebetulan, mudik kali ini tanpa sengaja pesawat yang mau mengantar kami terlambat datang. Daripada duduk diam menunggu diputuskan buat keliling saja. Sekalian mencoba wahana yang diincar yaitu skytrain alias kereta layang atau kalayang bandara.

Sempat bertanya sama petugas disana, ini penting lho, jangan sampai gara-gara kepincut kalayang lupa sama jadwal penerbangan dan tertinggal pesawat. Ternyata masih ada waktu dua jam. Jadi keluarlah kami dari ruang tunggu menuju stasiun kalayang. Oh ya, sebaiknya check in dulu dan masukkan bagasi supaya lebih nyaman.

[gallery ids="244,246" type="rectangular"]

Stasiun kalayang tersebut berada tepat di depan terminal 1b. Bangunannya besar berwarna abu-abu muda. Dengan tangga berjalan kami menuju lantai atas. Bisa juga sih naik lift untuk mereka yang membutuhkannya. …

Stasiun Bogor

Image
Ternyata sudah lama juga saya nggak main ke Bogor. Makanya ketika ada tawaran buat main ke sana, langsung cuss aja.

Dengan menumpang komuter line, nggak perlu waktu lama buat sampai ke Bogor. Sampai sana suasana stasiun masih sama. Ternyata begitu mau keluar stasiun, jalannya sudah berubah. Tidak bisa lagi melewati bangunan lama, tapi menuju ke arah tangga penyeberangan. Oh, ini toh jalan keluarnya.

Para penumpang rupanya harus menaiki tangga jika mau ke arah taman topi. Ukuran tangganya sih lumayan, tapi begitu sampai ujung tangga serasa ketemu gang senggol. Hehehe.

Karena tujuannya ke pasar anyar, jadi saya belok ke arah depan stasiun. Ada beberapa pedagang di kiri kanan jalan. Saya lihat yang mendominasi adalah pedagang soto bogor. Lalu pedagang manisan pala seperti terselip di antara mereka.

Sempat tergoda sih..buru-buru mengalihkan pandangan ke gedung stasiun bogor. Bangunan tua ini ternyata masih menyimpan pesonanya. Pagar besi didepannya tak mampu menghalangi pesona yang terpancar.

Jalin menjalin

Image
Entah kenapa sekarang benang dan hakpen seperti menjadi teman. Benda ini kerap menemani menepis sepi. Kala menunggu di halaman sekolah, di dalam bank, atau sekadar duduk di teras rumah.

Kali ini, tempatnya berbeda. Sembari menemani si sulung menjalani perawatan, jemari tangan ini kembali menari. Benang katun berwarna ungu muda membalut manik-manik kayu. Satu...dua...tiga...hingga beberapa manik-manik berukuran kecil berselimut benang-benang halus.

Selanjutnya enam buah manik-manik kayu berukuran sedikit lebih besar tertutupi benang. Nah, jumlahnya sudah cukup untuk merangkainya menjadi kalung.

Cari dulu kaitan bagian belakang. Masukkan benang lalu jalin semua manik-manik menjadi satu. Jadi deh kalung manik terbungkus rajutan. Bentuknya sih sederhana, tapi saya suka. Sebab, menunggu menjadi bukan lagi yang membosankan. Namun justru mengasyikan dan menghasilkan.

Risol made in beji

Image
Dulu.

Entah lima atau enam tahun lalu, saya suka berburu makanan kecil di daerah beji, depok. Minggu pagi, sengaja keluar rumah untuk melemaskan kaki di kawasan Universitas Indonesia.

Jam delapan pagi, kadang lebih sedikit harus sudah selesai. Kemudian langsung kabur ke daerah beji, tepatnya ke arah gedung Betesda. Dekat situ ada kios kecil penjual gorengan plus lontong. Namanya gorengan pasti nggak jauh dari pastel, risoles, tempe goreng sama risol.

Risol ini jagoannya. Ukurannya cukup besar. Isinya sih bihun tanpa tambahan apa pun. Tapi yang bikin endes itu kulitnya. Kriuk bin krispi plus garing. Disiram saus kacang makin top.

Nggak heran banyak yang terpikat dan rela jadi fans setia. Mereka ini, termasuk saya, rela pagi-pagi sudah datang ke kios itu. Kalau kebetulan nggak beruntung alias kehabisan, harus rela nunggu si penjual menggoreng lagi. Biasanya tambahannya nggak banyak. Tapi bisalah mengobati kerinduan.

Kebetulan, beberapa hari lalu, secara tak sengaja saya lewat lagi di daerah …

Pada suatu ketika

Image
Lama tak berkunjung kemari. Ke tempat yang tak akan pernah terlupa. Disinilah anak-anak dilahirkan dan almarhumah ibunda menjalani pengobatan.



Meski lama tak menapakkan kaki, kesan akrab masih tetap melekat. Banyak kenangan seperti tergambar di selasar, tangga, lift, hingga masjid di belakang sana.

Mereka seperti menuntun kami melewati lantai menuju ke poli. Ya, ini kisah tentang si sulung yang harus menjalani perawatan karena amandel nan mendera. Tak ada kata tunda, begitu ujar dokter setelah melihat keadaannya. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya diputuskan untuk melakukan tindakan pengangkatan.



Dari informasi yang saya dapat, ternyata amandel tidak hanya dua, tetapi enam. Amandel yang meradang dan membesar jelas mengganggu kegiatan. Mungkin itu yang menyebabkan si sulung gampang sekali terserang kantuk. Batuk pilek dan radang pun sangat senang mengunjunginya.

Kabarnya, amandel yang membandel ini sudah tak punya peranan berarti untuk anak di atas usia 8 tahun. Sistem pertahanan tubuh…

Dapur umum tahunan

Image
Setiap tahun, kegiatan itu selalu berulang. Pertanyaan seputar kue dan masakan gencar membombardir dan baru akan berhenti saat terigu, mentega, telur, dan gula halus muncul. Pertanda dapur akan segera berbau harum.

Rutinitas ini dimulai dengan beberapa buah nanas yang bersalin rupa menjadi selai. Dia akan berdiam ditempat yang nyaman hingga saatnya tiba. Tepat setelah para terigu, telur, dan gula bersatu. Ini saatnya kami berkumpul. Memulungi adonan yang dibuat dalam waktu cepat. Sepertinya tak seimbang dengan proses merubahnya menjadi nastar yang bisa menghabiskan waktu sampai satu jam. Biar pun sudah dilakukan bersama-sama.

Banyak tangan yang terlibat sudah pasti memberi dampak di ukuran yang beragam. Untung tak ada patokan resmi. Tapi tetap diingatkan supaya ukuran tidak jumbo benar. Kasihan yang kecil bakal gosong dan tak cantik.

Tunai satu jenis, berlanjut ke kue lainnya yang gurih dan sangat digemari. Untuk membuat kastengel lumayan lebih cepat karena dibantu cetakan. Anak-anak pun…

Belanja, belanja

Mendekati hari raya, kesibukan semakin bertambah. Nggak cuma menyiapkan makanan untuk berbuka, tapi juga perlengkapan yang akan dipakai di hari raya.

[gallery ids="216,217" type="rectangular"]

Yap. Saatnya berbelanja. Mungkin, banyak orang sudah siap-siap duluan alias udah belanja baju dan teman-temannya. Tapi nggak semua bisa melakukannya. Banyak yang baru bisa berburu sandang mendekati waktu lebaran. Makanya mal dan departement store penuh sesak. Begitu juga dengan pasar tumpah yang rutin digelar pada hari minggu.

Pasar yang ada di jalan merdeka, depok, ini digelar sejak jam 6 pagi. Tempatnya di sepanjang jalan merdeka. Bagian kiri-kanan jalan disesaki penjaja. Tak ada tanah tersisa. Beragam barang kebutuhan warga bisa didapat dengan harga terjangkau.

Pakaian sudah pasti mendominasi, diikuti oleh sepatu dan sandal. Barang lain macam gorden, handuk, taplak, selimut, bunga plastik sampai peralatan dapur juga bisa dibeli. Mau masak? Tenang. Ada penjual sayur mayur dan b…

Cerita pagi

Image
Pagi-pagi antrian pasien sudah banyak. Mereka dengan sabar duduk menunggu di depan loket yang belum dibuka. Beberapa tampak tertidur dengan bersandar pada tembok. Sementara yang lain mencoba bertahan dari deraan kantuk.



Loket masih belum dibuka. Masih pukul 07.00 pagi. Seorang Bapak yang bertugas di situ, sepertinya paham menunggu sangat menjemukan. Diambilnya pengeras suara lalu berdiri di luar loket.

Dengan pelan dan sabar, bapak itu menyapa para calon pasien. Mengingatkan tentang surat rujukan yang diperlukan. Jangan sampai tertinggal atau sudah lewat masanya. Memastikan rujukan itu berasal dari puskesmas atau klinik dekat tempat tinggal calon pasien.

Sesekali, pembicaraannya disela dengan canda. Membuat mereka yang tertidur jadi terjaga. Ketika semua menyimak apa yang diingatkan, laki-laki itu mengingatkan akan mudik lebaran.

Saat banyak orang memutuskan untuk kembali ke tempat kelahirannya. Sekadar bersilaturahmi atau berwisata dengan keluarga. Jangan lupa membekali diri dengan kartu…

Maaf, absen menggoreng

Image
Gorengan? Kriuk-kriuk, garing, renyah. Mau dong. Apalagi puasa gini, buka puasa sama gorengan rasanya endes deh.

Setiap sore selalu ada gorengan yang disajikan, mau tahu goreng, bakwan, oncom goreng, sampai pisang goreng. Tinggal ganti-ganti aja modelnya atau bahannya.



Tetiba, kok pingin sesuatu yang nggak berminyak ya? Cek bahan baku dulu. Ada pisang uli rupanya. Eh, daunnya juga ada, tapi sedikit. Terigu sudah pasti ada dong. Boleh dibilang bahan wajib di dapur.

Selanjutnya buka resep, aslinya nyari resep. Ketemulah nagasari sama dorayaki. Kebetulan punya cetakan kue carabikang peninggalan ibunda tercinta. Jadilah kombinasi sempurna.

Si pisang dipertemukan dengan tepung beras, gula, garam, dan santan. Plus daun pandan dari pot tetangga. Bersatulah semuanya hingga solid dan kompak. Mereka menyatukan rasa dalam panci kukusan. Hingga lahirlah rasa yang menggugah selera.

Lanjut sama dorayaki yang dibuat dari tepung terigu plus telur sama gula pasir. Ada kenekatan di sini gegara tidak menemuk…

Idola baru

Image
Pagi yang cerah. Saat yang tepat untuk terjun ke keramaian. Mumpung tempat tujuan masih bisa disusuri dengan agak nyaman. Jadi ayo berpetualang.



Lokasinya nggak jauh dari rumah. Lima menit pakai kendaraan roda dua. Sengaja tidak mampir di tempat parkir kendaraan. Bablas saja ke dalam komplek lalu menyeberangi rel kereta api. Sampai deh.

Benar saja. Tak begitu banyak yang datang ke sini. Ragam barang dagangan bisa terlihat dengan jelas sekali. Gampang menaksir kualitas barangnya. Mudah juga mencari barang yang dicari.

Apalagi dia lagi jadi idola banyak orang, khususnya ibu-ibu ya. Lebih spesifik lagi yang senang bikin kue. Begitu tumpukannya terlihat, langsung merapat ke lapaknya.



Tanya sedikit soal harga. Ternyata ada dua pilihan, beli butiran atau kiloan. Harga satuan lebih tinggi sedikit sih. Meskipun layanan yang diberikan sama, dikupasin.

Alhasil memilih kiloan saja. Alasaanya kondisi fisik barangnya nyata. Nggak hoax. Hehehehe.



Bayar dan cuzz meninggalkan pasar kemiri. Siap buat mendad…

Lelah

Image
Sisa perjalanan kemarin.

Sore menjelang. Selepas azan ashar berkumandang. Perjalanan berkeliling kabupaten tapin diputuskan untuk disudahi. Ini hari terakhir setelah tiga hari berkeliling, mulai dari kota rantau, singgah di desa banua halat kiri, lalu ke desa timbaan.

Sebenarnya tugas belum tuntas benar, masih berlanjut ke ibukota banjarmasin. Nggak apa-apa. Sore ini waktunya menikmati dan mencari (lagi) makanan untuk buka puasa dan makan malam.

Agar tidak terasa merepotkan, segala bawaan yang kami dapat sepanjang perjalanan disimpan di hotel. Baru saja mau melangkah masuk, saya melihat sesuatu yang ganjil di depan pintu.

Berwarna hitam dan diam tak bergerak. Penasaran, saya dekati. Rupanya ia seekor burung kecil. Ah, apakah ia mati? Kasihan sekali.

Pelan-pelan, saya menyentuhnya. Burung itu bergerak. Bergeser saja. Rupanya ia menabrak pintu kaca hotel ketika hendak terbang entah kemana.

Pintu kaca berwarna hitam itu mungkin membuatnya tak tahu kalau ada rintangan di depannya. Pantulan pepo…