Dapur umum tahunan

Setiap tahun, kegiatan itu selalu berulang. Pertanyaan seputar kue dan masakan gencar membombardir dan baru akan berhenti saat terigu, mentega, telur, dan gula halus muncul. Pertanda dapur akan segera berbau harum.

Rutinitas ini dimulai dengan beberapa buah nanas yang bersalin rupa menjadi selai. Dia akan berdiam ditempat yang nyaman hingga saatnya tiba. Tepat setelah para terigu, telur, dan gula bersatu. Ini saatnya kami berkumpul. Memulungi adonan yang dibuat dalam waktu cepat. Sepertinya tak seimbang dengan proses merubahnya menjadi nastar yang bisa menghabiskan waktu sampai satu jam. Biar pun sudah dilakukan bersama-sama.

Banyak tangan yang terlibat sudah pasti memberi dampak di ukuran yang beragam. Untung tak ada patokan resmi. Tapi tetap diingatkan supaya ukuran tidak jumbo benar. Kasihan yang kecil bakal gosong dan tak cantik.

Tunai satu jenis, berlanjut ke kue lainnya yang gurih dan sangat digemari. Untuk membuat kastengel lumayan lebih cepat karena dibantu cetakan. Anak-anak pun kebagian tugas mengoles dan menempelkan keju. Begitu juga dengan kue sagu keju nan renyah. 20180608_174231Bisa diselesaikan dengan baik dan memuaskan.

Keriuhan ini bisa jadi melelahkan. Apalagi saat ini ada aktivitas tambahan yang harus dilakukan berupa kunjungan ke kawasan pasar rebo, jakarta timur. Sudah pasti harus pandai mengatur diri.

Namun apalah artinya dibanding senyum dan tawa gembira anak-anak ketika mencicipi hasil karya tahunan ini. Tak perlu ada kata-kata yang meluncur dari mulut mereka, cukup senyum manis dan tandasnya satu loyang kue sudah sangat membahagiakan.

Baru kemudian berpikir, apakah kue-kue ini akan bisa disajikan di hari bahagia nanti?.

Tak apa. Untuk saya, membahagiakan anak-anak lewat rasa adalah tujuan utama.

Comments