Hanya satai

Selamat pagi.

Begitu sapa matahari. Saya bersyukur hari ini cerah. Artinya bisa pergi keluar rumah. Beberapa hari ini cuaca memang cukup ekstrim. Hujan dan angin bergantian menyapa.

Karena hari ini cerah, rasanya patut dirayakan dengan mencari makanan. Hehehe, urusan ini sangat menyenangkan. Bisa menghibur mata, perut, dan hati.

Ada beberapa pilihan makanan yang bisa dipilih. Mau lontong sayur, nasi kuning, bubur ayam banjar, roti, atau kue alias wadai. Ehmm, mau yang lain ah. Yang bisa dibeli kapan saja. Pagi, siang, sore, atau malam, pasti penjualnya ada. Cuma orang dan lokasinya beda-beda.

Satai ayam.

20180701_102015

Yup, inilah makanan sepanjang masa. Gampang di dapat dan cukup terjangkau. Anak-anak sekolah kerap menjadikannya pilihan untuk sarapan. Sebab, dengan uang Rp 3000, mereka sudah bisa makan dengan lontong serta dua tusuk satai. Ukuran lontong dan satainya menyesuaikan harga ya.

Saya sih cari satai yang standar saja. Seporsi, satu buah lontong dengan sepuluh tusuk satai, dijual dengan harga Rp 15.000.

Begitu memesan, paman pedagang langsung meletakkan jajaran tusuk satai di atas panggangan. Satainya sudah lebih dulu dibalur bumbu kacang. Kalau saya lihat, bumbu kacangnya agak encer. Disimpan dalam termos besar dekat panggangan. Nah, bumbu ini diberi saus sambal dulu, di aduk rata baru dibalurka ke satai.

Agak beda ya dengan satai di tempat saya besar dulu. Bumbu kacangnya kental sebab bumbunya baru diberi kecap dan dicairkan sesaat setelah dipesan. Plus tidak ada tambahan saus sambal ya.

Bicara soal saus sambal tadi ternyata bikin penampilan saus jadi agak kemerahan. Mengingatkan saya pada satai tulang yang pernah saya cicipi di daerah Kelapa Gading.

Karena penasaran, saya tanya paman penjualnya, satai ini alirannya mana, jawa timur atau kalimantan. Dan jawabannya adalah, jawa timur ala banjar. Jadi satai banjar. Rasanya, manis asin dan terasa ringan. Mungkin karena saus kacangnya cair ya. Cocoklah untuk sarapan sebelum memulai hari.

Comments