Mari berjumpa di taman dan pasar

Hari minggu, saya selalu menyempatkan diri berjalan kaki. Cerita olahraga. Beneran sih olahraga, kan jalan kaki dari rumah.

Karena kebetulan ada di rumah keluarga, jadilah jalan-jalan ke kawasan lembah gurame. Dulu...dulu sekali, saya rutin lho jalan ke sini. Waktu itu tamannya masih dalam proses pembuatan. Tetapi sudah banyak warga yang bertandang.

[gallery ids="323,325,326,327" type="rectangular"]

Ada yang olahraga, lari atau jalan kaki, bisa juga senam (khusus hari minggu). Anak-anak yang ikut bisa main di area bermain. Atau iseng ngeliatin ikan di kolam besar.

Setelah sekian lama tak ke sana, taman lembah gurame sudah sedikit berubah. Ada tambahan jalur buat lari dan jalan kaki. Ada papan berisi informasi apa saja kegiatan yang haram dilakukan di sini. Lalu tulisan-tulisan lain agar suasana lebih semarak. Ada alat fitnes umum juga, sayang kondisinya sudah memprihatinkan.

Kebetulan hari itu hari minggu, pastinya ada senam di sana. Betul juga. Tapi nggak ikutan ah. Pesertanya membludak sampai ke bagian berumput. Eh malah lebih jauh, sampai ke parkiran dekat kamar mandi.

Ya, sudah keliling aja. Menikmati lagi trek buat lari dan jalan. Rupanya sama dengan senam, peminatnya banyak. Jadilah agak sedikit bersenggolan sebab lebar jalurnya tak seberapa. Cukup untuk dua orang berjalan bersisian.

Pindah ah. Katanya kawasan sebelah lembah gurame juga sudah dipermak. Pintu gerbang ditempat ini ditutup. Area parkirnya ditempati oleh mobil perpustakaan keliling. Ada tikar dihampar buat pengunjung yang mau baca. Enak juga ya. Baca ditempat teduh begini. Kalo lapar tinggal beli makanan di warung atas yang ramai.

Saya mah nggak mampir ke warung. Masih kuat menahan godaan dari para gorengan. Mending jalan lagi ah. Ke arah kolam-kolam di belakang sana. Sekilas terlihat berbeda. Dulu, belum dibuat kolam. Masih sekumpulan tanaman besar. Sekarang sudah dijadikan beberapa kolam.

Ada juga rumah-rumahan untuk berjualan yang tanpa pedagang. Ketika berkeliling, baru ketahuan kalau jalannya tak terlalu padat. Beberapa batu jalan terlepas. Kelihatan sekali bekas genangan air. Apa mungkin di sini agak banjir. Berhubung suasananya lebih dingin, pamit undur diri saja.

Cari tempat yang ramai saja. Bukan di lembah guramenya, geseran lagi ke arah sekolah saya dulu. Ehm..ehm almamater nih.

Sepanjang jalan saya sibuk tengok kanan dan kiri. Bukannya mau nyebrang ya, tapi melihat para penjual makanan. Ada bubur ayam, mi ayam, gado-gado, kue-kue, nasi uduk, gorengan, lauk dan sayur matang, risol, ah semua bikin lapar mata.

Sempat mampir sih dan dapat 3 kantung plastik berisi macam-macam kue. Hahahaha. Dijamin kenyanglah. Urusan perut beres, keliling lagi dong lihat-lihat. Mulai dari baju anak-anak, celana, kaos, sepatu, sandal, seperti melambaikan tangan. Menyapa supaya mampir.

[gallery ids="329,328,330,331" type="rectangular"]

Akhirnya berhenti juga di penjual peralatan. Beli tempat minum untuk si kecil. Lanjut lagi ah. Semakin ke ujung, saya melihat penjual tanaman. Ah...ada anggrek. Meluncur ke lokasi.

Beberapa pot anggrek hibrida sungguh menawan. Ada yang ungu dan putih. Tidak ada anggrek bulan. Kata penjualnya lagi kosong. Kata hati ingin membeli, tapi ingat tak bawa koper. Jadi saya berusaha membujuk kakak supaya membeli. Hahahahaha teuteup usaha. Berhasil sih, namun yang dibeli bukan bunganya. Hanya potnya. Katanya di rumah baru saja dapat anggrek tapi belum ada tempatnya. Baiklah. Nggak apa-apa. Kali ini lihat-lihat saja.

[gallery ids="333,332" type="rectangular"]

Perihal anggrek ini, semula saya yang suka mengurus anggrek milik almarhum ibu. Waktu mau pindah, saya nekat membawa beberapa batang anggrek. Beruntung anggrek-anggrek itu lolos sensor dan masih hidup sampai sekarang. Malah ada satu pohon yang rajin berbunga.

Baru belakangan ini mulai mencari anggrek hutan kalimantan. Dari tiga jenis yang dibeli, satu jenis mati waktu saya tinggal pergi. Sedih deh. Apalagi sudah sempat berbunga. Dua pohon lainnya sempat hidup segan, mati tak mau. Sekarang sudah teratasi dan mulai tumbuh daun. Rasanya gembira banget. Padahal belum berbunga lho.

Ah...ceritanya sedikit melantur ya. Dari pasar ke bunga. Tapi kalau saya cermati, ada persamaannya juga. Ada interaksi. Antara pedagang dan pembeli lalu pemilik tanaman dan bunganya. Interaksi inilah yang memberikan kebahagiaan, khususnya untuk saya. Mudah-mudahan juga untuk Anda.

Comments