Lezat dan renyahnya kue lekker


kue lekker


Dulu, dulu sekali, saya pernah mencicipi kue yang renyah sekali. Berbentuk setengah lingkaran dengan taburan meses. Kue ini tipis banget, kalau sekarang serupalah sama crepe. Ukurannya saja yang lebih kecil. Makan satu rasanya nggak cukup, kue manis dan renyah itu bikin nagih banget.

Sayang tidak banyak yang membuat dan menjual kue bernama lekker ini. Jadi bisa dibilang kala itu saya beruntung bisa mendapatinya sebab penjualnya berkeliling dengan gerobak. Tetapi, ingatan akan kelezatan dan kerenyahan kue itu tidak hilang begitu saja. Masih melekat kuat banget. Hingga suatu hari, saya sempat melihat seorang penjual kue lekker di ujung jalan.

Asli, saya sampai terpana karena tidak menyangka akan menemukannya di sini. Di kota tempat tinggal saya 
kini. Sayangnya, saat itu tempat pertemuan kami sangat tidak greget. Saya sedang berada di tengah kerumunan orang-orang yang asyik menawar sayuran. Yup, saya lagi di pasar melaksanakan tugas negara. Dengan tergesa-gesa saya berusaha menghampiri, waktu sepertinya tidak mau mengerti dan membiarkan penjual kue berlalu begitu saja. Sementara saya tertahan oleh para ibu-ibu yang tidak mengijinkan untuk meninggalkan kerumunan, uhukk, dramatis ya kayak di sinetron.

Gemes dan penasaran. Sejak itu saya rajin pasang mata buat mengawasi kalau-kalau paman penjual kue lekker lewat. Berkali-kali gagal. Mungkin pasar ini bukan jalur utamanya berjualan. Bisa saja hari itu si paman hanya numpang lewat karena alasan tertentu. Jadi si paman tidak lewat lagi dan kembali ke jalannya sebab ditunggu para pembelinya. Kecewa berat.

kue lekker

Sempat melupakan keinginan untuk kembali menikmati kerenyahan si krepes Indonesia ini, hingga suatu saat, mata melihat seleret resep lewat di depan mata. Dan, terpampang resep kue lekker yang sangat saya idamkan. Wuihhh, hati langsung berbunga-bunga. Gembira luar biasa. Cek semua bahannya. Yeay, ada semua di lemari dapur.

Langsung pasang pengumuman ke si kecil kalau akan membuat kue lekker. Si pemamah kecil itu langsung semangat 45. Akhirnya mulailah menyiapkan semua bahannya. Oh ya resep saya dapat dari instagram milik resep_emak_emak, silahkan kalau mau mencoba:

Kue Lekker
Bahan :
8 sdm tepung beras
4 sdm tepung maizena
3 sdm tepung terigu
2 sachet kopi @20 gram
4 sdm gula halus
1 butir telur
150 ml air

Cara membuat:
 Campur bahan kering dengan telur. Aduk dengan balon whisk hingga rata. Tambahkan air dan aduk rata kembali. Siapkan wajan teflon. Panaskan di atas api sedang. Buat dadar dengan cara menuang 1 sendok adonan, pastikan adonan tipis ya. Beri meses atau taburan lainnya. Lipat dua. Angkat dan sajikan.

Meski bahan dan cara membuatnya sederhana, tapi cara penggerjaannya membutuhkan kesabaran dan ketabahan. Membuat dadar yang tipis itu menantang sekali. Ketebalan sedikit kuenya jadi tidak renyah lagi. Berkali-kali gagal tidak membuat patah semangat. Hingga akhirnya dipakailah kuas untuk mendapatkan lapisan yang tipis. Tentu saja pelapisan dilakukan berkali-kali dan dijauhkan dari atas api supaya tidak gosong. Trik ini berhasil dengan baik.

Satu persatu kue lekker jadi. Bukan main senangnya si kecil meskipun isinya hanya meses tanpa lainnya. Kami pun menikmati kelezatan dan kerenyahan kue ini dalam waktu 10 menit saja. Sangat cepat, dibandingkan waktu pembuatannya yang lebih dari 30 menit. Maklum masih amatir. Rasanya senang banget bisa makan kue ini lagi.

Tidak berhenti sampai dititik menikmati, saya mulai mencari tahu apa itu kue lekker. Memang belum ada penelitian lebih mendalam tentang sejarah kue lekker. Sayang juga karena kudapan ini sudah menjadi jajanan tradisional yang disukai.

Akhirnya dengan bantuan om gugel dan sinyal yang bersahabat, saya tahu daerah mana saja yang mengenal kue lekker. Rupanya pulau Jawa diyakini sebagai kota kelahiran kue lekker. Belum diketahui kota mana yang menjadi awal keberadaan kue ini. Namun jika melihat sejarah, kehadiran bangsa Belanda di pulau Jawa secara tidak langsung menjadi pencetus lahirnya kue ini.

Bermula dari kegemaran warga Belanda membuat pancake, selain roti tentunya, untuk sarapan atau teman minum teh rupanya menarik perhatian. Tidak mau menjadi penonton, warga berinisiatif menduplikasi dengan memakai bahan yang ada. Agar kue yang dibuat bisa dinikmati banyak orang dan menyesuaikan dengan ketersediaan bahan, kue ini dibuat tipis saja. Tetapi jangan tanya soal rasa ya, tak kalah dengan kue asalnya. Endes, enak, alias lekker. Jadilah kue ini diberi nama lekker, yang diambil dari Bahasa Belanda yang berarti enak.

Bulan berganti, tahun pun berlalu. Kue lekker ini tetap bertahan dan menjadi camilan yang digemari. Setidaknya kelezatan camilan ini bisa ditemui di beberapa kota besar di Pulau Jawa, seperti di Solo, Semarang, Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, hingga Malang. Masing-masing dengan ciri khasnya sendiri.
Hingga kini kue lekker dijajakan dengan berbagai cara. Maksudnya ada yang pakai gerobak dan warung. Bentuk gerobak yang dipakai biasanya tidak terlalu besar. Ada etalase untuk meletakkan kue lekker yang sudah jadi. Di depan etalase terdapat kompor lengkap dengan wajan untuk memasak kue.

Penjualnya kebanyakan berkeliling di perkampungan atau perumahan. Kecuali yang berjualan di warung ya. Persaingan sudah pasti terjadi. Untuk memikat hati para calon pembeli, para penjual pun mengeluarkan sejumlah jurus baru. Tidak sedikit yang membuat kue lekker dengan isianya yang berbeda-beda.

Kue lekker ini tidak cuma diberi irisan pisang dan taburan gula pasir atau gula jawa saja, tapi cokelat, keju, susu, hingga es krim pun ada. Harganya tentu saja menyesuaikan dengan isiannya. Kalau standarnya sekitar Rp2.000,00 per buah, isianya yang lain tentu lebih mahal. Ah, membayangkannya saja sudah menerbitkan air liur, apalagi bisa menikmatinya secara nyata. Jadi ingin bikin kue lekker lagi.

Comments

Popular posts from this blog

Kriuk-kriuk dari Bati-bati