Sasirangan dari Kalimantan Selatan






kain sasirangan
motif sasirangan dandang badangung dari tapin
 
Eksistensi kain sasirangan, tak lepas dari cerita rakyat yang berkisah tentang pertemuan Patih Lambung Mangkurat dengan seorang bayi di sungai yang mengalir di daerah Rantau, anak itu kelak diberi nama Putri Junjung Buih. Ketika itu sang bayi berada di dalam buih. Meski terkenal sakti, Patih Lambung Mangkurat tidak bisa meraih sang bayi, kecuali ia berhasil memenuhi syarat yang diminta berupa sebuah Mahligai Punca Persada dan selembar kain.

Kain bermotif padi tersebut harus dibuat dengan cara ditenun dan diwarnai oleh 40 orang putri. Dengan kesaktiannya, Patih Lambung Mangkurat berhasil memenuhi permintaan tersebut. Sang bayi pun berhasil di angkat dari dalam buih dan diberi nama Putri Junjung Buih.
Menurut para tetua masyarakat, kain yang dibuat untuk memenuhi permintaan Putri Junjung Buih merupakan cikal bakal dari kain pamintan. Bentuk kain pamintan atau kain permintaan ini masih sederhana, berupa selembar kain putih yang diberi warna tertentu sesuai permintaan pemohon. Kala itu, tidak sembarang orang bisa membuat kain pamintan. Hanya keturunan para pembuat kain pamintan saja yang bisa membuatnya. Proses pembuatannya pun dilakukan secara tertutup dan diawali dengan upacara selamatan.

Peminta kain akan menyiapkan sesaji berupa nasi lamak berbentuk gunung, telur masak habang, hinti gula habang, kukulih dengan air gula habang, pisang mahuli, kopi manis, dan kopi pahit. Setelah pembacaan doa selamat hidangan akan di makan bersama. Baru setelah itu pengrajin membuat kain pamintan.
Kain yang telah selesai akan diserahkan pada seorang tabib. Kain kemudian di pakai oleh peminta sebagai laung (ikat kepala) atau sabuk oleh kaum laki-laki. Sementara untuk kaum perempuan menggunakannya sebagai selendang, kerudung, atau kemben.
Walaupun pengobatan dengan media kain pamintan sudah berkurang, namun kain pamintan masih tetap dibuat berdasarkan pesanan. Saat ini kain paminta di pakai dalam ritual mandi badudus. Kepercayaan dan mitos ini menjadikan para pembuat kain pamintan dari Desa Sei Tabukan Amuntai dapat tetap bertahan.
Seiring berjalannya waktu, kain yang dibuat dengan cara dicelup tersebut seakan bersalin rupa. Warna dan motifnya semakin beragam sehingga penampilannya menjadi lebih menarik. Kini, kain tersebut dikenal dengan kain sasirangan.

Kata “Sasirangan” berasal dari kata sirang (bahasa Banjar) yang berarti diikat atau dijahit dengan tangan, dijelujur, lalu ditarik benangnya. Kain sasirangan adalah sejenis kain yang diberi gambar dengan corak dan warna tertentu yang sudah dipolakan secara tradisional menurut citarasa budaya yang khas etnik Banjar. Pola hias atau motif yang dibuat terinspirasi dari tumbuh-tumbuhan, benda alam (seperti bintang), dan binatang.
Untuk teknik pembuatannya, kain sasirangan dapat dikelompokkan bersama jenis batik karena menggunakan teknik rintang warna. Namun demikian cara pembuatannya berbeda.  Halang rintang yang diterapkan pada kain sasirangan dibuat dari benang yang dijelujur mengikuti pola tertentu, lalu ditarik kencang dan diikat kuat. Kerutan benang akan menghalangi warna celupan pada kain sehingga ketika dibuka akan meninggalkan motif  seperti yang diinginkan. Sedangkan pada batik, halang rintangnya memakai lilin (malam).

Dahulu untuk memperindah kain sasirangan digunakan pewarna alam yang di ambil dari buah dan tanaman. Seperti warna kuning diperoleh dari kunyit, merah dari buah mengkudu, hijau dari jahe, ungu dari buah gandaria (ramania), dan coklat dari kulit buah rambutan. Kini, para pengrajin kain sasirangan telah menggunakan pewarna sintesis sehingga warna yang dihasilkan lebih beragam.
Sentuhan modernisasi rupanya juga membawa angin keterbukaan. Saat ini proses pembuatan kain sasirangan tidak lagi tertutup. Siapa saja bisa melihat dan belajar membuat kain sasirangan baik pada pengrajin langsung atau Dinas Pariwisata serta komunitas sasirangan.

kain sasirangan
mencetak pola sasirangan di atas kain

Mula-mula, para peserta akan dikenalkan dengan alat dan bahan yang dibutuhkan untuk membuat kain sasirangan, yiatu kain, pola, jarum, benang, dan pewarna kain. Jenisnya kain yang dipakai berupa kain katun, shantung, belacu, satin, primasima, atau sutera. Pola yang terbuat dari karton akan di cetak di atas kain. Selanjutnya pola di jelujur menggunakan jarum dan benang yang kuat. Setelah selesai, benang akan di tarik atau disisit hingga kain berkerut. Kain pun siap diwarnai.
Proses pewarnaan di awali dengan merendam kain dalam air bersih. Tujuannya agar kain basah sehingga mudah menyerap warna. Setelah itu kain dimasukkan ke dalam cairan penguat warna. Barulah direndam dalam pewarna kain sambil diremas-remas agar warna bisa menembus ke dalam kain. Proses ini bisa diulangi hingga 2 atau 3 kali agar warnanya semakin tajam.

Untuk mendapatkan kain dengan warna-warni berbeda, kain akan di celup beberapa kali pada warna yang diinginkan. Agar warna dasar tidak hilang, pola diikat dengan karet gelang atau plastik. Kain kemudian di celup lagi dengan warna berbeda. langkah ini dapat di ulang beberapa kali sesuai kebutuhan. Setelah selesai, kain akan di bilas dengan air bersih agar sisa pewarna larut. Barulah kain diangin-anginkan di tempat yang tidak terkena cahaya matahari langsung sampai kering.
Satu per satu ikatan dan benang di buka. Pada tahap ini motif sudah terlihat. Pencucian kembali dilakukan agar sisa pewarna benar-benar hilang. Kain yang telah benar-benar kering akan di setrika dan siap untuk di jual.

Perbedaan lain yang ditunjukan oleh kain sasirangan terletak pada susunan atau kompisisi motif yang diletakkan secara vertikal. Jenis motifnya pun sangat beragam, namun terdapat beberapa motif khas yang umum digunakan, yaitu gigi haruan, kambang kacang, hiris gagatas, kambang sakaki, daun jaruju, tampuk manggis, bintang, kangkung kaumbakan, ombak sinabur karang, bayam raja, kulat karikit, hiris pudak, dan gelombang.
 
Untuk memacu kreatifitas para pengrajin, setiap tahun Pemerintah Daerah Kalimantan Selatan menggelar festival sasirangan. Upaya ini berhasil melahirkan berbagai kreasi kain sasirangan yang menjadi identitas khas daerah tersebut. Seperti Kota Banjarbaru yang mengusung kain sasirangan bordir. Penambahan bordir mampu mempertegas motif yang sudah ada.
Lain halnya dengan pengrajin kain sasirangan dari Kabupaten Tapin yang menggali ragam hias milik suku Dayak Meratus. Halang manyaung, layang-layang bakacak pinggang, anak bujang beganding tangan, dan naga balahendang adalah motif yang berhasil di angkat oleh para pengrajin. Tidak berhenti sampai di situ, para pengrajin membuat motif yang bersumber dari tanaman, permainan tradisional serta kesenian yang ada di Kabupaten Tapin, seperti buhan tikup, papakuan, bawang tunggal, wayang topeng, panting, gasing kemuning, dan dandang badangung.

Tidak mau ketinggalan, para pengrajin kain sasirangan dari Kabupaten Hulu Sungai Selatan juga mengembangkan kreatifitasnya. Mereka mengawinkan teknik pembuatan kain sasirangan dengan teknik batik tulis. Hasilnya sungguh mengagumkan. Motif bunga yang dibuat dengan teknik batik tulis berpadu apik dengan motif gigi haruan yang dibuat dengan cara di jelujur.

 Untuk memperluas pasar, para pengrajin sasirangan mulai mengembangkan produknya dengan membuat kaos bermotif sasirangan, jilbab sasirangan, mukena sasirangan, sandal sasirangan, tas sasirangan, dan kalung yang terbuat dari sasirangan. Produk tersebut mudah dijumpai di berbagai toko oleh-oleh khas Kalimantan Selatan dan diminati para wisatawan.

kain sasirangan
proses mewarnai kain sasirangan
Geliat para pengrajin semakin nyata berkat dorongan Pemerintah Daerah. Jumlah pengrajin sasirangan semakin bertambah dan tersebar hampir di seluruh kabupeten di Provinsi Kalimantan Selatan.
Antusiasme masyarakat juga semakin terlihat. Pada berbagai kesempatan masyarakat kerap menggunakan pakaian yang terbuat dari kain sasirangan. Anak-anak pun sejak dini di ajak mengenal kain sasirangan dengan belajar menggambar motif sasirangan.

Perkembangan yang menggembirakan ini patut disyukuri. Namun demikian, kreatifitas harus terus dikembangkan. Khususnya dalam segi pewarnaan agar tidak mudah pudar. Peningkatan ini bukan tidak mungkin akan menaikkan potensi kain sasirangan ke luar daerah. Sehingga kain sasirangan dapat sejajar dengan kain nusantara lainnya.

Comments

Popular posts from this blog

Kriuk-kriuk dari Bati-bati