Amban pengikat cincin


Asyik hari ini cerah. Bisa dong jalan-jalan. Mau lihat-lihat keramaian di pasar Martapura. Nggak tau kenapa senang muter-muter di sana. Lihat kalung-kalung cantik dari manik-manik, gelang, kain sasirangan, baju yang juga dibuat dari kain sasirangan, dan barang-barang kerajinan lainnya.

Biasanya, kalau pergi sendiri ke sana, saya biasa parkir di belakang pasar. Alasannya, kawasan itu bukan favorit pengunjung. Biasanya para pemilik toko yang parkir. Bolehlah berkhayal punya kios di sini. Mumpung meengkhayal itu gratis hehehe. Amin. Berhubung sama miswa dan si kecil jadilah parkir dibagian depan. Nggak apa-apa juga sih, kan kita turis lokal.

Beragam amban cincin

Dari sekadar rencana jalan-jalan siang, karena masih siang sih perginya hahaha. Eh tapi memang sebaiknya pergi ke pasar martapura lebih enak siang hari. Menurut saya, kalau siang sudah tidak terlalu ramai pengunjung. Lebih enak cuci matanya. Oh ya sekadar inforrmasi ya, pasar ini sudah buka sejak jam 09.00 wita lho. Tutupnya menjelang magrib.

Balik ke topik awal, setelah ngelantur ke sana kemari. Miswa tertarik sama batu-batu yamg dipajang. Warna yang menarik, kilauan yang bling-bling abis memang magnet banget buat mampir. Dari ngobrol nggak jelas sama pemilik toko, akhirnya beli beberapa buah batu berukuram kecil. Ada yang merah dan ada yang putih....eh ini mah lagu. Batunya ada yang merah, biru, sama cokelat. Yang merah itu batu ruby, kalau yang biru dan cokelat saya lupa namanya.

Ukurannya yang imut memastikan batu ini pasnya buat cincin. Pemilik toko sih nawarin amban alias ikatan untuk cincin tapi nggak ada yang cocok. Maka kami pun menuju bagian belakang pasar. Kawasan ini agak jarang disambangi pengunjung. Bukannya serem atau gimana gitu, tapi di bagian ini nggak banyak penjual cinderamata. Adanya toko penjual minuman dan makanan. Kalau pun ada toko souvenir biasanya merupakan bagian belakang toko.


Tapi, tahukah teman-teman kalau di bagian belakang pasar ini ada pengrajin amban, kalau di jawa disebutnya emban, beda tipislah. Sebuah papan sederhana plus etalase berisikan beragam amban jadi penanda kalau empu toko punya keahlian berbeda. Si Bapak dengan senang hati menerangkan jenis-jenis amban yang tertata manis di bagian atas etalase.

Ada amban untuk cincin laki-laki dan amban untuk perempuan. Bisa diketahui dari ukurannya yang besar dan kecil serta ukiran alias motif yang ada di amban tersebut. Untuk bahannya sendiri ada beberapa jenis, ada bahan campuran, perak, dan titanium. Kalau mau yang emas bisa juga sih. Saya juga lihat ada amban yang dibuat dari titanium plus emas.
Pengrajn amban pasar martapura


Ngeliat model yang macem-macem ternyata biń∑in puyeng hahahaha. Untung harganya nggak bikin migrain. Kalau yang campuran bisa dibeli dengan harga Rp 25.000 kalau yang perak murni tergantung kadar peraknya. Emas juga begitu. Jadi bisa pilih sesuai ketebalan dompet ya.

Setelah menentukan pilihan, si Bapak mulai bekerja. Saya kira Cuma sebentar, kan tinggal bengkokin dikit-dikit. Ternyata saya salah. Si Bapak langsung duduk manis di belakang meja kerjanya. Asli ini beneran meja kerja ya biar pun nggak gede dan sederhana abis. Di atas meja berjejer beragam peralatan yang mau digunakan. Ada tang berujung runcing, kikiran, kaca pembesar, lampu penerang, dan beberapa alat lain yang bisa saya lihat. Kan saya nggak.mungkin menuntaskan rasa penasaran
Pengrajin amban cincin pasar martapura
dengan duduk manis di samping si Bapak, yang ada saya dikasih tang trus disuruh pasang sendiri hahahaha.


Sebagai pemerhati berjarak, saya melihat betapa telatennya si Bapak memasang amban cincin. Diukurnya batu dengan bagian atas amban. Dihaluskannya bagian-bagian amban yang menurutnya masih kasar. Baru setelah itu batu diletakkan dengan hati-hati agar berada tepat di tengah. Nggak miring ke kanan atau ke kiri. Apalagi sampai serong atau balik badan karena batu tidak sedang latihan baris berbaris.

Kalau batu sudah pas benar, barulah bagian yang mengikat ditekuk pelan-pelan. Proses sepenuh hati ini benar-benar memberikan hasil yang maksimal. Batu terpasang dengan baik dan rapih. Aduh senang rasanya. Sayang cincinnya kegedean. Ah tau gitu tadi ikutan beli batu ya hahahaha. Sayang, godaan datang belakangan.
Beragam amban cincin

Saya mau cerita, selama menunggu proses ikat mengikat dilakukan, seperti biasa saya bertanya apa saja sama si Bapak. Mulai dari jenis amban, jenis batu, sampai cerita horor (yang ini nggak usah disebarkan ah). Biar lebih lengkap saya juga buka google, ternyata amban alias emban dibuat oleh para penduduk di desa Tragah, Jawa Timur. Mereka sudah turun temurun membuat emban. Uniknya proses pembuatan dilakukan secara berpindah-pindah. Hmmm, mungkin mirip cara ban berjalan kalau di pabrik ya. Jadi satu orang akan jago di satu bagian tetapi tidak sombong sebab harus bekerjasama dengan pengrajin lainnya. Emban buatan mereka inilah yang melanglang buana di nusantara. Jadi ingat waktu demam batu akik sekitar 3 tahun lalu, bisa dipastikan permintaan amban pun meningkat.

Sayangnya tren ini hanya semusim, kini sudah surut jauh meski permintaan akan batu dan emban tetap ada. Buktinya ya saya ini, dari sekadar jalan-jalan akhirnya belanja, nggak apa-apa kan untuk kepentingan bersama. Miswa bahagia, pedagang batu gembira, si Bapak merasa senang, dan saya bisa berbagi cerita.





Komentar