Perabot Antik Cantik di Museum Fatahillah Jakarta

Kawasan Kota Tua Jakarta selalu menawan. Tidak hanya karena dikelilingi bangunan kuno, namun koleksi yang tersimpan di museum pun sungguh menarik hati. Apalagi perabot cantik yang tersimpan di Museum Fatahillah, benar-benar membuat saya datang lagi, dan lagi.

Begitulah kalau sudah terpikat pesona keindahan karya buatan seorang pengrajin. Entah lukisan, keramik, atau ukiran pada kayu seperti yang terdapat pada perabot, berulang kali datang, rasanya tidak pernah bosan.
Peta Jakarta tempo dulu (koleksi pribadi)
Itu sebabnya ketika si kecil mengajak ke Kota Tua, saya langsung mengiyakan. Dengan menumpang kereta api, kami memulai kembali petualangan di Kota Tua, tepatnya ke Museum Fatahillah Jakarta di Taman Fatahillah 1, Jakarta Barat.

Makam

Setiap kali bertandang ke daerah ini, saya selalu menyempatkan berdiri di tengah lapangan. Memandangi setiap gedung tua yang berada disekeliling tanah lapang tersebut. Dan, kekaguman saya tidak pernah hilang.

Apalagi pada bangunan besar yang berada tepat di depan lapangan itu bisa dikatakan primadona kawasan Kota Tua. Sejarahnya yang panjang menjadikannya saksi bisu perkembangan kota Jakarta.

Gedung berwarna putih dengan jendela-jendela besar itu berdiri tahun 1627. Dahulu dikenal sebagai Syadhuis atau Balaikota. Sayang karena berdiri di atas tanah yang labil, balaikota mengalami kerusakan.

Melihat kondisi gedung yang menyedihkan, Gubernur Jenderal Joan Van Hoom membangun ulang balaikota di tempat yang sama pada tahun 1707.

lukisan di museum fatahillah
Lukisan Jan Pieterszoon Coon di Museum Fatahillah (koleksi pribadi)
Dalam perjalanannya, peruntukan gedung dengan luas lebih dari 1.300 meter persegi kerap berubah-ubah. Tidak hanya sebagai balaikota, namun pernah dijadikan kantor dewan kotapraja (College van Schepenen), dewan pengadilan (Raad van Justitie), kantor pengumpulan logistik tentara Jepang, bahkan makam Gubernur Belanda Jan Pieterszoon Coon sebelum akhirnya dipindahkan ke Museum Wayang.

Koleksi

Kisah perjalanan gedung berlantai dua itu tidak berhenti begitu saja. Nilai historisnya yang kental mengubah wajahnya menjadi Museum Sejarah Jakarta atau Museum Fatahillah.

Pahatan di salah satu pintu ruangan musum Fatahillah (koleksi pribadi)
Satu per satu koleksi dikumpulkan dan dipamerkan. Jenisnya sangat beragam, seperti replika peninggalan masa Tarumanegara dan Pajajaran, hasil penggalian arkeologi di Jakarta, keramik, gerabah, batu prasasti, kebudayaan Betawi, numismatik, mata uang Indonesia, senjata kuno, lukisan, serta berbagai perabot antik dari abad ke-17 sampai 19.

Seluruh koleksi tersebut tersimpan di berbagai ruang, seperti ruang prasejarah Jakarta, ruang tarumanegara, ruang Jayakarta, ruang fatahillah, ruang Sultan Agung, dan ruang Batavia.

patung hermes di museum fatahillah
Patung Dewa Hermes di lapangan belakang Museum Fatahillah (koleksi pribadi)

Selain disimpan di ruangan, ada sejumlah koleksi yang berada di luar ruangan, seperti patung Dewa Hermes (menurut mitologi Yunani, Dewa Hermes merupakan dewa keberuntungan dan perlindungan para pedagang) dan meriam Si Jagur yang dibuat oleh Manoel Tavares Baccaro dari Portugis.

Perabot Antik

Sesungguhnya, saya senang melihat dan mengamati koleksi yang ada di Museum Fatahillah. Membayangkan bagaimana sebuah prasasti yang terbuat dari batu berukuran besar dibuat lalu dipindahkan.

Koleksi uang kuno di Museum Fatahillah (koleksi pribadi)
Di ruang lain, ketika melihat beragam uang kuno Indonesia, saya seperti diingatkan kembali pada masa lalu. Ada beberapa uang lama yang pernah saya miliki. Dulu uang sebesar Rp 5.00 itu bisa dibelikan macam-macam, pokoknya puas deh jajan apa saja. Masa-masa yang menyenangkan sekali.

Namun demikian, hanya pada perabot antiklah saya akan berdiam lebih lama. Melihat wujud dan keindahan ukirannya, betul-betul mengagumkan.

Dari penggalan laporan penelitian milik Amarena Nediari, saya mengetahui jika mebel tersebut dimiliki oleh orang-orang kaya di Batavia pada abad ke-17. Adalah Dr. L. Serrurier, V.I van de Wall dan Dr. Th. Van de Hoop yang mengumpulkan berbagai perabot antik untuk disimpan di museum.

Keduanya berhasil mendapatkan berbagai macam perabot dengan mutu serta gaya yang berbeda. Proses pencariannya tentu tidak mudah karena dahulu perabot yang terbuat dari kayu hitam tersebut dimiliki dan digunakan oleh perorangan.

Bentuk dan ragam ukiran yang tampak masih mengacu pada gaya Eropa dengan pengaruh India dan Indonesia. Tetapi, perabotan ini tidak seluruhnya dibuat di Indonesia, ada yang dibikin di Srilanka.

Mengamati satu persatu perabot antik benar-benar menyenangkan. Terkadang saya membayangkan andai memiliki beberapa perabot cantik itu di rumah.

Meja bergaya kolonial (koleksi pribadi)
Duduk di depan sebuah meja kerja bergaya kolonial sambil menulis. Laci-laci yang ada bisa saya gunakan untuk menyimpan pernak-pernik lucu untuk mengusir rasa jenuh.

Pada bagian atasnya terdapat beberapa buku kegemaran saya. Buku-buku lain tersimpan rapi pada sebuah lemari besar berkaca. Lapisan tembus pandang itu tentu akan melindungi buku dari debu dan kotoran.

Tepat di dekat lemari, saya sengaja meletakkan sebuah kursi panjang. Beberapa bantal empuk tertata rapi, siap digunakan untuk bersandar agar kegiatan membaca menjadi nyaman. Aih, benar-benar menyenangkan. 

Memang berkhayal itu bisa membuat imajinasi terbang tinggi, namun saya harus kembali ke bumi.

Meja Jati Oval

Untungnya kegiatan berkhayal tidak dilakukan sambil berjalan. Kalau tidak, saya pasti akan menabrak tembok atau koleksi lainnya. Saatnya berkeliling lagi.
Meja jati yang indah (koleksi pribadi)
Melewati ruang-ruang besar yang dulu digunakan sebagai kantor. Hingga saya berhenti tepat di sebuah meja jati oval besar. Dahulu meja ini dipakai oleh Dewan Keadilan untuk memutuskan hukuman yang akan dijatuhkan pada seorang pesakitan.

Meja ini sangat istimewa karena dibuat dari gelondongan kayu utuh. Amatilah permukaan meja dengan baik dan perhatikan urat kayu yang tampak. Alur ini menandakan usia pohon besar saat masih hidup.

Saya membayangkan bagaimana seorang tukang kayu mengubah pokok kayu besar itu menjadi meja. Menggunakan peralatan pertukangan sederhana dia mampu membuat meja dengan permukaan rata. Benar-benar sangat mengagumkan.

Lemari untuk menyimpan arsip (koleksi pribadi)
Ada pula lemari buku berukuran 240x60x400 cm yang disebut schepenkast. Terbuat dari kayu jati dengan ukiran yang disepuh emas. Lemari ini dibuat tahun 1748 dan menjadi tempat penyimpanan arsip Dewan Pengadilan (Raad van Justitie).

Ayo berubah

Berjalan pelan-pelan dari satu koleksi ke koleksi lain, dari satu ruangan ke ruangan lain, selain menyenangkan juga memungkinkan saya mengamati koleksi dengan baik. Saya bisa melihat beberapa koleksi mengalami kerusakan.

Seperti pada dua patung dewi keadilan yang terdapat di lemari besar atau schepenkast (konon dibuat tahun 1748) untuk dewan keadilan, sudah tidak utuh lagi. Salah satu lengan patung yang tengah memegang pedang patah. Sementara lengan lainnya hilang.

Pelitur yang hilang karena sering disentuh pengunjung (koleksi pribadi)

Banyak lapisan cat dan pelitur pada perabot yang terkelupas karena disentuh. Yup, selalu ada pengunjung yang menyentuh koleksi padahal hal tersebut tidak diperbolehkan.

Tali senar pembatas (koleksi pribadi)
Tali transparan serupa tali senur tebal yang dijadikan pembatas, tentu tidak mampu membentengi koleksi dari rasa ingin tau pengunjung.

Pengingat untuk pengunjung (koleksi pribadi)
Ah, sebelum kerusakan semakin parah dan kita akan kehilangan jejak sejarah bangsa, ayo kita berubah. Camkan dalam hati untuk tidak menyentuh koleksi. Apalagi duduk di atasnya.

Biarkanlah jejak kaki menjadi pananda keberadaan kita. Kenanglah dengan menyimpannya dalam ingatan. Abadikan lewat foto. Tidak lebih dari itu agar kekayaan negeri ini tetap terjaga untuk anak cucu kita. 

Buka : Selasa – Minggu, jam 08.00-17.00

Museum Fatahillah
Jl. Taman Fatahillah No. 1 Pinangsia, Jakarta Barat.

Buka : Selasa-Minggu, jam 08.00-17.00 WIB
Tiket : Rp 2000-Rp5.000

Komentar

  1. wah pas kerja di Jakarta belum sempat ke sini nih, mungkin akan saya sempatkan kalau ke Jakarta lagi. Terima kasih mbak infonya bermanfaat.
    OH iya, kalau mau baca tentang fotografi silakan datang juga ke blog saya di gariswarnafoto(dot)com, terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. halo mas Zaki, blognya cakep deh, saya suka baca tulisannya tentang fotografi. terima kasih sudah mampir dan berbagi ilmu. kapan-kapan foto dong koleksi museum, pasti lebih bagus dari saya.

      Hapus
  2. makasih mbak liputannya, saya yang ga pernah ke Museum Fatahillah jadi bisa liat2 isi museum dari tulisan ini, ngasih saya wawasan tambahan.

    Suatu saat kalau ke Jakarta, coba saya singgahi museum fatahillah deh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih kembali mas, saya senang kalau tulisan yang saya buat bisa memberi manfaat untuk orang lain. semoga hal ini bisa saya pertahankan dan tingkatkan. terima kasih.

      Hapus
  3. Sayang banget waktu ke Kota Tua dulu saya nggak sempat masuk ke museum yang ada di sana. Pada tutup museumnya soalnya. Akhirnya cuma mejeng di halamannya aja deh

    BalasHapus
    Balasan
    1. ah, mbak Antung datangnya hari senin ya? memang semua museum di kawasan kota tua pasti tutup kalau awal minggu, mungkin dibersihkan dulu. kapan-kapan main lagi ke sana mbak.

      Hapus
  4. kangen jakarta. mudah-mudahan ada kesempatan ke museum fatahillah. aamiiiiinnn

    BalasHapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung ke blog saya. Mohon tidak membagikan tautan disini. Silahkan meninggalkan komentar yang baik dan sopan.