Wisata Rumah Pohon, Riwayatmu Kini.

Pariwisata bisa mendatangkan keuntungan, untuk masyarakat maupun pemerintah setempat. Berbagai tempat bisa tiba-tiba disulap menjadi sebuah kawasan wisata, seperti halnya Rumah Pohon. Namun untuk bisa eksis perlu kerja keras agar tetap memikat perhatian masyarakat. 

Dua tahun lalu, kawasan wisata Rumah Pohon yang berada di Sungai Tiung, Cempaka, Banjarbaru menjadi buah bibir masyarakat. Kawasan yang asri, sejuk, dan nyaman menjadi magnet kuat bagi banyak orang. Tidak hanya keteduhan yang menaungi area wisata ini, beragam permainan bisa dimanfaatkan wisatawan yang datang ke sana.

rumah pohon banjarbaru
Wisata Rumah Pohon (dokumentasi pribadi)

Duduk di ayunan sambil menikmati semilir angin sambil melihat buah hati mengamati beberapa hewan peliharaan di dalam kandang. Adalah pilihan menyenangkan untuk mereka yang datang bersama keluarga.

Buat mereka yang ingin menguji adrenalin bisa mencoba menaiki papan titian dan menyeberang dari satu pohon ke pohon lain. Melayang bagai burung pun bisa dilakukan dengan bermain flying fox.

Meski sudah ada sejak dua tahun lalu, saya termasuk sangat-sangat tertinggal, Maksudnya, saya baru bisa berwisata ke Rumah Pohon bulan lalu. Itu pun setelah membujuk miswa lebih dulu. Penyebabnya, jalan menuju ke sana sangat berliku, naik turun seperti di puncak.

Naik..turun... menuju Rumah Pohon


Di suatu sore yang cerah, akhirnya saya dan miswa sepakat untuk pergi ke Rumah Pohon. Sebelumnya, mampir dulu ke SPBU untuk mengisi bensin. Ini penting sebab tidak ada SPBU di sekitar kawasan Cempaka, tempat wisata itu berada.

Karena belum pernah ke sana, untuk petunjuk arah saya mengandalkan google map. Petanya benar-benar diamati, termasuk bangunan yang berada di dekat kawasan wisata. Bukan apa-apa, saya kawasan tersebut tidak terjangkau sinyal telepon.

Setelah semuanya siap, perjalanan pun dimulai. Arus lalu lintas dari Banjarbaru hingga Cempaka sangat lancar. Jalan pun mulus tanpa lubang. Beberapa kali berpapasan dengan truk pembawa pasir dari daerah Cempaka. Yup, daerah Cempaka dikenal sebagai kawasan pertambangan intan dan pasir. 

Jalanan pun tidak selamanya datar. Kadang menanjak atau menurun. Mendekati kawasan pertambangan intan, kecepatan motor dikurangi. Saya mencoba mencari tanda-tanda atau petunjuk arah menuju Rumah Pohon. Sayangnya nihil.

Mengikuti arahan dari Goolge map, sebelum sebuah minimarket, motor berbelok ke kiri. Beberapa laki-laki duduk di tepi jalan. Beberapa sekop tergeletak tak jauh dari mereka. Rupanya mereka para penggali pasir yang sedang mencari pekerjaan. Mereka menunggu truk yang ingin menggunakan tenaga mereka menaikkan pasir ke truk.

Kini jalan yang kami lalui tidak selebar jalan utama. Jalan pun mulai meliuk-liuk, sebentar berbelok ke kanan atau ke kiri. Begitu terus sampai sebuah pertigaan. 

Sebuah tanda yang sudah copot membantu kami menentukan arah. Google map tidak lagi bisa diakses karena tidak ada sinyal. Kini sepenuhnya mengandalkan kejelian mata untuk mencari petunjuk jalan. 

Kontur jalan mulai berubah, tidak lagi datar. Jalan menanjak dan menikung mengikuti permukaan tanah. Saya jadi merasa lagi jalan-jalan di puncak saja, tapi tanpa kebuh teh dan hawa dinginnya.

Beruntung ruas jalan tidak bercabang, jadi kami bisa menyusurinya dengan santai. Tau-tau, sebuah plang besar terlihat di depan mata. Wisata Rumah Pohon, demikian bunyi plang tersebut.

Akhirnya, sampai juga di kawasan tersebut. Tapi, kok yang terlihat hanya perkebunan karet dan rumah penduduk serta sebuah sekolah dasar? Rumah Pohonnya mana?

Riwayatmu Kini


Di dorong rasa penasaran, plus kami sudah kadung sampai sini, lebih baik terus menyusuri jalan sambil tengok kanan kiri. Mau bertanya, tidak ada warga yang keluar. Jadi, maju terus, pantang mundur.

Pikiran saya, nanti toh ada kendaraan milik pengunjung yang diparkir. Pasti berderet-deret, ya, kan. 

Namun, saya lagi-lagi harus menelan kenyataan. Hingga dua kilometer, kami tidak melihat kendaraan yang terparkir rapi. Kami memang melihat sebuah motor berada di lahan terbuka yang berada tidak jauh dari rumah terakhir. Jangan-jangan, Rumah Pohon berada di situ. Putar balik saja deh.

Ternyata benar, tepat di depan lahan terbuka itulah Rumah Pohon berada. Sebuah gerbang terbuka lebar. Di atasnya terdapat tulisan Wisata Rumah Pohon yang sudah usang. Keadaan dibalik gerbang itu sangat sepi. Apakah benar ini kawasan wisata Rumah Pohon? tanya saya dalam hati. 


tempat penggelola rumah pohon
Tempat penggelola rumah pohon (dokumentasi pribadi)

Aduh, rasanya sedih sekali mendapati kenyataan tak seindah yang dibayangkan. Namun demikian, saya nggak maru rugi. Sudah jauh-jauh datang masa langsung pulang. Mending masuk sekalian, setidaknya bisa melihat seperti apa keadaannya seperti apa.

jalan masuk menuju kawasan wisata rumah pohon
Jalan masuk menuju rumah pohon (dokumentasi pribadi)

Tepat di dekat pintu gerbang, terdapat sebuah bangunan yang masih terawat. Mungkin dulu dipakai oleh penggelola untuk berbagai kegiatan. Rumah dua lantai itu masih dihiasi pernak-pernik yang membuatnya semarak.

Tidak jauh dari rumah, terlihat deretan kandang dari kayu. Pintunya sudah terbuka. Pertanda penghuninya tidak ada. Di seberangnya ada kandang dari besi untuk tempat tinggal para burung. Kini hanya sebuah kandang saja yang masih berpenghuni. Lainnya kosong.

kandang kosong
Kandang yang tidak lagi berpenghuni (dokumentasi pribadi)

Seorang laki-laki terlihat menuju pintu keluar, kepadanya kami meminta ijin masuk untuk melihat-lihat.

Makin ke dalam, semakin terlihat bekas-bekas atraksi yang dulu begitu diminati pengunjung. Beberapa bangunan dibuat tinggi agar pengunjung bisa naik ke atas.

rumah pohon yang masih tersisa
Bangunan yang masih tersisa (dokumentasi pribadi)

Saya tidak berani naik ke atas, walaupun anak tangganya tidak terjal. Kuatir kayunya lapuk termakan cuaca hingga tidak mampu menahan berat badan saya. Lebih baik cari aman dengan memotretnya.

Panggung mini tampak dibuat mengelilingi batang pohon. Didepannya tergantung tali dengan beberapa buah papan. Pasti ini titian untuk berpindah tempat.

seekor unggas di dalam kandang
Seekor unggas masih berada di kandang (dokumentasi pribadi)
Balok-balok berukuran sedang pun ditaruh melintang di antara dua pohon. Balok ini merupakan penyangga ayunan. Eh, ada pengunjung lagi asyik main ayunan. Kami ada temannya.

Ayunan yang tersisa hanya satu, tidak mungkin saya menunggu mereka selesai bermain. Jadi lebih baik meneruskan eksplorasi saja.

Makin ke dalam, semakin banyak daun kering menutupi jalan. Di sebelah kiri terlihat seperti danau kecil, entah asli atau buatan. Pinggir danau terlihat dipagari dengan bambu. Diujungnya terdapat kandang bebek dan ayam. Mungkin para hewan ternak itu sengaja dipindahkan agar lebih mudah memeliharanya.

panggung untuk berpindah tempat
Atraksi yang terlupakan (dokumentasi pribadi)

Baiklah, tidak ada lagi yang bisa dinikmati di sini. Sebaiknya kami kembali pulang saja. Kawasan wisata ini seperti ditinggalkan sebab tidak jauh dari sini telah berdiri sebuah kawasan wisata baru yang lebih luas.

rumah pohon
Jejak yang tertinggal (dokumentasi pribadi)

Namun demikian, saya tetap gembira karena mendapati beberapa pohon besar masih berdiri dengan gagah. Saya berharap pepohonan ini terus bertahan dan bisa memberikan manfaat untuk makhluk hidup lainnya.

Baca juga :
Menyusuri ribuan kilometer demi melihat keindahan kain
Museum basoeki abdullah
Menarapandang 33 banjarbaru















Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ke Banjarmasin Naik Transportasi Umum Yang Adem dan Nyaman? Ya, Pakai BRT dong.