Melihat Upacara 7 Bulanan di Banjarbaru


Acara selamatan menyambut kelahiran seorang bayi merupakan salah satu upacara daur hidup manusia. Upacara lainnya akan dilakukan ketika ia lahir, menikah, dan diakhiri dengan upacara kematian.

Siang itu saya bersiap-siap menghadiri undangan dari seorang tetangga. Ia akan mengadakan selamatan untuk menyambut kelahiran cucunya. Meski sudah tidak sabar, saya memilih menunggu ibu-ibu lain untuk berangkat bersama.

Bersama-sama kami menuju rumah bercat hitam. Tikar dihampar memenuhi teras dan bagian dalam rumah. Pada bagian tengah terlihat beberapa kue ditata memanjang. Tepat di ujung tikar terdapat dua buah kursi dan beberapa botol air. Pasti kursi itu akan digunakan untuk memandikan ibu yang akan di upacarai, begitu duga saya.

Bersama beberapa ibu, saya memilih duduk di bagian dalam, tepat dihadapan kedua calon orangtua. Wajah keduanya tampak gembira, begitu juga dengan calon nenek yang tak henti meminta kami menikmati kue-kue yang tersaji.

Upacara Daur Hidup

Acara selamatan tujuh bulanan yang akan saya ikuti merupakan bagian dari upacara daur hidup seorang manusia. Upacara daur hidup adalah bentuk upacara adat sebagai wujud realisasi dari penghayatan manusia terkait dengan tiga fase penting kehidupannya. Kelahiran, perkawinan, dan kematian. 

Upacara 7 bulanan (foto: pribadi)


Khusus mengenai acara selamatan 7 bulanan, umumnya dilakukan pada kehamilan yang pertama. Tujuannya untuk memberikan dukungan bagi sang ibu, bahwa perubahan bentuk tubuh yang terjadi selama masa kehamilan membuatnya tetap terlihat memesona. 

Itu sebabnya, si calon ibu akan mengenakan roncean melati dan menganti pakaian atau kain sebanyak 7 kali. 

Upacara 7 Bulanan.

Saya sama antusiasnya dengan tuan rumah. Saya sudah tidak sabar lagi ingin melihat jalannya upacara 7 bulanan dari daerah Banjar. Dari buku yang pernah saya baca, upacara 7 bulanan, ada juga yang melaksanakan saat kandungan memasuki 4 bulan. Upacara ini biasa disebut mandi-mandi karena sang ibu akan dimandikan. 

Kegiatan upacara 7 bulanan bertujuan untuk memohon keselamatan bagi calon bayi dan ibu, serta proses persalinan dapat berjalan dengan lancar. Dari perbincangan dengan calon ibu, upacara 7 bulanan akan mengikuti adat istiadat Jawa, sesuai dengan asal daerahnya.  

Sayang perbincangan harus disudahi sebab upacara akan dimulai. Dipandu seorang guru, kegiatan dimulai dengan membaca ayat suci al’quran serta doa.

Botol Air dan Manggar

Usai pembacaan doa, pasangan suami istri tersebut diminta berpindah tempat ke teras depan. Mereka lantas didudukan di kursi yang telah disiapkan di ujung tikar. Tidak mau ketinggalan, saya dan ibu-ibu lain langsung membentuk lingkaran di depan pasangan tersebut. Siap melihat dan mengabadikan upacara selanjutnya.

Supaya leluasa, saya sengaja berdiri paling depan. Nah, kini saya leluasa mengamati apa saja yang dipakai untuk upacara.

Tepat di lantai dekat kaki sang calon ayah terdapat beberapa botol air kemasan. Ukurannya beragam, ada yang besar dan kecil. Sebilah golok juga tergeletak di dekat dua buah kelapa bergambar wayang, Kamajaya dan Dewi Ratihi. Sementara di samping calon ibu, terdapat sebuah manger pinang dan baskom berisi air dan kembang. Beberapa lembar kain ditaruh tepat di belakangnya.




Para tetua kemudian berkumpul di belakang pasangan suami istri itu. Upacara pun dimulai. Ditandai dengan penyiraman air dari baskom oleh orang yang paling dituakan. Wajah si calon ibu terlihat terkejut saat air pertama mengenai kepalanya. Pasti airnya dingin karena cuaca mendung. Sang calon ayah juga ikut mendapat siraman, namun dia tidak terlalu terkejut.

Setelah semua tetua menyiramkan air dari baskom, prosesi mandi-mandi dilanjutkan dengan menyiramkan air yang diambil dari 7 sumber mata air. Air itu tersimpan dalam botol plastik yang berada di dekat kaki calon ayah.

Tentu saja tidak sembarang mata air yang digunakan. Sayangnya saya tidak bisa mencari tahu dari sumber mana saja air itu berasal.

Uniknya ketika air tersebut akan disiramkan ke atas kepala calon ibu, terlebih dahulu diletakkan  sebuah bunga manger yang masih belum mekar. Posisinya diatur sedemikian rupa sehingga air akan mengalir melewati dahi dan hidung. Sang ibu harus bisa meminum air yang mengucur dari bunga manger itu.

Kelapa bergambar Kamajaya dan Dewi Ratih (foto: pribadi)


Setelah semua air dari mata air habis, sang calon ayah diminta untuk membelah dua buah kelapa cangkir yang telah digambari tokoh Kamajaya dan Dewi Ratih. Hanya kelapa bergambar Dewi Ratih yang dapat dibelah dengan mudah. Sementara kelapa bergambar Kamajaya baru terbelah sempurna setelah dua kali dihantam golok.

Ketika kedua kelapa terbelah, semua bersorak gembira. Namun rangkaian acara belum selesai. Bunga manggar harus dikupas. Sebagian besar isinya dibagikan kepada para tamu. Sisanya dilempar ke atas atap.
Angin yang bertiup membuat calon ibu terlihat menggigil, namun ia masih bertahan sebab masih harus memantaskan pakaian. Beruntung acara memantaskan pakaian berlangsung cepat sehingga dia bisa segera berganti pakaian.

Dawet dan Rujak

Semua undangan kembali duduk dan menunggu calon orangtua berganti pakaian. Baru setelah itu upacara 7 bulanan dilanjutkan dengan berjualan dawet dan rujak. Kedua sajian ini dikemas dalam plastik, para tamu lantas membelinya.

Dawet yang dibuat sebenarnya memiliki makna agar kelak bayi yang dikandung akan lahir dengan mudah. Sedangkan rujak yang disajikan saat upacara 7 bulanan berkaitan erat dengan jenis kelamin bayi yang dikandung si ibu.Jika rasa rujak kurang pas, diyakini anak yang lahir berkelamin laki-laki. Sebaliknya, jika rujak yang disuguhkan meiliki rasa pas maka sang Ibu mengandung bayi perempuan.

Kegiatan jual beli dawet dan rujak ini menutup rangkaian upacara 7 bulanan yang saya ikuti. Senang rasanya bisa melihat langsung upacara 7 bulanan di kota Banjarbaru.. Melihat ragam budaya yang berbeda akan memperkaya pengetahuan dan pengalaman saya. Semoga budaya ini tetap lestari.

Komentar

  1. Saya belum pernah menghadiri acara tujuh bulanan, seringnya liat di tv saja :D tapi baca cerita mbak lebih lengkap akan maknanya tiap hal di upacara.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mudah-mudahan nanti mbak bisa melihat langsung. Asyik mbak, plus pengetahuan bertambah.

      Hapus
  2. hampir mirip yang kaya di Jawa ya.
    Ada pecah kelapanya juga, cuma kelapanya gak di gambar hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mirip mbak karena yang bikin acara orang jawa juga.

      Hapus
  3. pernah liat juga pas sepupu ngadain 7 bulanan, pake pelaminan tapi khusus untuk si calon ibu. kue-kue khas banjar yang 21 macam disajikan juga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah ini yang tujuh bulanan gaya banjar ya mbak. Pingin lihat deh.

      Hapus
  4. Unik ya. Apalagi kelapanya yg harus digambar. Seru juga liat adat2 gini XD berarti kalau kehamilan selanjutnya gak lagi ya cuma pertama aja

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya hanya kehamilan pertama. Nggak tau kenapa saya suka ngeliat acara kayak gini wkwkwkwkwk seru dan unik

      Hapus
  5. Duh, inget acara 7 bulanan anak pertama dulu. Malu2 gimana gitu dimandiin di depan rumah. Habis itu auto bertekad gak mau acara 7 blnn lg anak k2.. Wkkw

    BalasHapus
    Balasan
    1. Untung acaranya cuma untuk kehamilan anak pertama mbak. Jadi nggak harus ngulangin lagi.

      Hapus
  6. Aku selalu suka acara adat begini. Rasa kekeluargaannya terasa kental banget.. Sayang anak pertama dulu aku mengadakan acara 7 bulanan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Acaranya jadi ajang kumpul keluarga ya mbak. Senang pasti karena semua datang dan support.

      Hapus
  7. Saya pas hamil anak pertama dulu juga ada mandi-mandi kayak gini tapi untungnya cuma dilihat sama tante dan Keluarga dekat. He

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wow masih menjalankan tradisi ya mbak. Keren banget.

      Hapus
  8. Udah lama rasanya ga liat org acara begini eh, dulu waktu kecil suka liat acara begini terus ngambil mayangnya gitu. hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah iya kembang mayangnya disebar gitu sama uang receh. Ramai lho pas anak-anak rebutan.

      Hapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung ke blog saya. Mohon tidak membagikan tautan disini. Silahkan meninggalkan komentar yang baik dan sopan.

Postingan populer dari blog ini

Cara Membuat Kain Sasirangan Dengan Pewarna Alam

Ke Banjarmasin Naik Transportasi Umum Yang Adem dan Nyaman? Ya, Pakai BRT dong.

Review: Vitalis Body Wash Hijau dan Body Positivity