Pengalaman Pertama Mengikuti Kelas Make Up Daring Bersama Wardah dan FBB

Ke Bambangin Barito Kuala lewat Jalan Darat atau Sungai Barito

Desa Bambangin adalah sebuah desa yang berada di Kabupaten Barito Kuala. Jaraknya tidak terlalu jauh dari Kota Marabahan, namun apakah mudah mencapainya? 

Kantor desa bambangin
Kantor desa Bambangin (foto: wikipedia)


Suatu hari, sebuah email muncul dari seorang teman yang bertanya tentang Desa Bambangin. Sejujurnya saya belum pernah menuju ke desa yang berada di Kabupaten Barito Kuala. Perjalanan saya di Kabupaten itu baru sampai kota Marabahan.

Meski demikian pertanyaan tersebut mengusik rasa penasaran sebab menyangkut soal bagaimana cara mencapai desa tersebut?

Otomatis dong, saya kembali mengingat perjalanan yang pernah dilakukan saat ke Marabahan tahun lalu. Waktu itu saya tengah mengikuti kegiatan penelitian tentang kain sasirangan bersama Museum Lambung Mangkurat.

Kala itu saya bersama anggota tim yang lain melakukan perjalanan darat. Melintasi kota Banjarmasin yang memiliki jalan mulus dan ramai dengan lalu lalang kendaraan. Hingga sempat menikmati serunya guncangan saat melewati jalan berbatu menuju pelabuhan penyeberangan sungai.

Namun bukan itu yang ingin saya cari tahu, namun seperti apa akses menuju Desa Bambangin dan apa keistimewaan desa ini hingga membuat teman penasaran. 

Akhirnya dengan mengumpulkan informasi dari beberapa sumber, plus pengalaman melakukan perjalanan ke Marabahan saya mencoba menjawab pertanyaan tersebut.

Desa Bambangin adalah desa yang berada di kecamatan Belawang

Seperti halnya kota Marabahan yang berada ditepian sungai Marabahan, maka Desa Bambangin pun berada di tepian sungai, namun bukan sungai Marabahan melainkan sungai Barito. Sungai Barito jelas lebih besar dari sungai Marabahan.

Desa ini terletak di Kecamatan Belawang. Jika dilihat di google map, jarak dari kota Marabahan ke desa Bambangin dapat ditempuh selama 30-an menit saja. Dengan catatan perjalanan dilakukan melalui jalan darat ya.

Desain : canva


Luas desa ini mencapai 4000 km persegi dengan bentuk seperti persegi empat. Salah satu sisi desa ini tepat berada di tepi sungai Barito. Tidak heran kalau masyarakatnya sangat bergantung pada sungai untuk menghidupi diri. 

Air sungai Barito tidak hanya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, namun juga untuk mengairi sawah penduduk. 

Demikian lekatnya sungai dengan masyarakat sehingga hampir semua aktivitas, termasuk transportasi, memanfaatkan aliran sungai.

Itu sebabnya desa ini memiliki sebuah dermaga penyeberangan fery yang masih dimanfaatkan masyarakat untuk menuju dan keluar dari desa Bambangin.

Bagaimana menuju ke Bambangin

Ada dua alternatif cara menuju Desa Bambangin, melalui jalan darat maupun sungai. Keduanya tentu memiliki keunggulan masing-masing.

Karena belum pernah menumpang fery menuju kawasan Kabupaten Barito Kuala, tentu saya tidak bisa menceritakan seperti apa rasanya berayun-ayun di atas Sungai Barito.

Namun, saya akan berbagi cerita perjalanan darat menuju kota Marabahan. Alternatif ini bisa digunakan untuk mereka yang ingin menuju desa Bambangin.

Baiklah, mari kita mulai perjalanannya. Dimulai dari kota Banjarbaru menuju kota Banjarmasin. Infrastruktur jalan di kedua kota ini terbilang mulus. Beraspal hitam dengan pembatas di tengah jalan.

Lebar jalan cukup besar sehingga bisa dilintasi oleh 3 buah mobil secara berjajar. Tetapi biasanya ruas jalan paling kiri digunakan oleh kendaraan roda dua ya.

Ruas jalan mulai mengecil saat memasuki kawasan Handil Bakti. Hm, lebar jalanan bisa sewaktu-waktu mengecil, lalu melebar lagi.

Jadi jangan sampai lengah ya kalau tidak mau menginjam rem mendadak. 

Disamping lebar jalan yang tidak sama, kehadiran jembatan pun perlu mendapat perhatian. Mengapa? Beberapa jembatan memiliki tanjakan cukup curam sementara lainnya ada yang langsung menikung.

Wow, kebayangkan ketika di atas jembatan tiba-tiba ada kendaraan muncul. Jadi hati-hati dan jangan meleng.

Tingkat kewaspadaan menjadi berlipat kala malam tiba. Nyaris tidak ada lampu penerang jalan raya.

Cahaya sepenuhnya berasal dari lampu-lampu teras rumah penduduk atau toko di tepi jalan.

Saya sempat kaget waktu melewati ruas jalan yang cukup gelap. Apalagi di kiri kanan jalan dipagari pepohonan.

Beruntung pengemudi sudah terbiasa melintas di jalan itu. Katanya jalan ini masih termasuk terang dibanding jalan lain. Dan saya pun terbengong-bengong mendengar penjelasannya.

Naik Apa ke Bambangin

Yup, kalau infraatruktur jalan sudah bagus, lantas apakah banyak kendaraan umum melewatinya.

Hm, sayangnya jawabannya adalah tidak. Dari penelusuran yang saya lalukan, angkutan umum atau biasa disebut taksi yang berada di terminal Pal 6 hanya menuju kota Marabahan. 

Oh ya, bisa juga menumpang moda transportasi BRT, Banjarmasin Rapid Transport. Pilih BRT tujuan Barito Kuala.

Selanjutnya dari Kota Marabahan perjalanan dilanjutkan dengan menaiki ojek.

Agar aman dan tidak perlu gonta-ganti kendaraan, sebaiknya menyewa kendaraan atau naik motor.

Sebenarnya jalan utama menuju kota Marabahan hanya satu tapi buat jaga-jaga angan lupa memasang peta agar tidak tersasar ya. 

Asal muasal nama Desa Bambangin

Di peta, jarak dari kota Marabahan menuju desa Bambangin dapat ditempuh dalam waktu 30 menitan.

Kemungkinan waktu tempuhnya bisa lebih lama karena kondisi jalan provinsi tidak mulus. 

Meski demikian, saya tertarik mencari tahu nama desa ini karena terdengar unik.

Rupanya nama desa Bambangin berasal dari kata bambang dan angin yang berarti kejayaan tertinggi.

Mengapa ke Bambangin

Mengutip apahabar, Bambangin merupakan desa yang unik. dilihat dari embel-embel gusti di depan nama warga, hampir seluruh warga.

Penyematan ini sudah turun temurun karena garis keturunan kesultanan banjar.

Tak hanya nama, masyarakat desa Bambangin masih menjaga adat kesultanan dengan menggelar kegiatan budaya seperti sinoman hadrah, baayun maulud, batapung tawar, anisan, hingga mandi-mandi. 

Meski tetap menjaga budaya namun desa ini bukan desa adat. Mereka sadar untuk tetap menjaga budaya nenek moyang agar tetap lestari.

Wow, saya sangat mengapresiasi dan mendukung upaya peleatarian budaya yang dilakukan oleh masyarakat. Dengan demikian adat istiadat dan budaya bangsa akan tetap terjaga dan lestari.



Komentar