Besan Perekat Keluarga Yang Hampir Punah

Batamat quran, tradisi banjar yang masih terjaga hingga kini.

Usai sholat zuhur, bagian dalam Masjid Jami Cempaka, Kota Banjarbaru Kalimantan Selatan mulai ramai. Satu persatu anak-anak dan ibunya masuk ke dalam melalui pintu samping. Mereka bersiap mengikuti acara batamat quran yang digelar sebagai tanda syukur telah selesai membaca Alquran. 

Acara batamat quran suku banjar yang masih dilaksanakan hingga kini
Acara batamat quran di Cempaka Kota Banjarbaru.


Pelan-pelan gadis kecil itu menghapus keringat di wajahnya. Lipatan tisu yang dipegangnya hanya ditepuk-tepuk tanpa berani mengusap, meski wajahnya terlihat basah. Ia tak mau riasan yang mengubah wajahnya hilang. 

Sesekali dibenahinya letak penutup baju yang terbuat dari rangkaian bunga melati. Meski bagian belakangnya telah diikat, penutup baju itu kerap turun akibat gerakannya memperbaiki gaun putih. 

Satu jam sudah ia dan kawan-kawannya menunggu acara dimulai. Mereka tak berani beranjak dari tempatnya kuatir mengganggu teman-temannya. Dahaga yang terasa pun tak bisa dituntaskan sebab air minum miliknya berpindah tangan. 

Penyebabnya air kemasan itu dipakai menyangga telepon genggam saat berkaca, tiba-tiba diambil teman lain yang menggodanya. Untunglah seorang teman mau berbagi minuman sehingga tenggorokannya basah. Tak lagi kuatir suara parau saat membaca surat dari alquran. 

Bersiap mengikuti acara batamat quran
Bersiap mengikuti acara batamat quran


Satu persatu guru, mulai duduk di deretan belakang. Ustad yang memimpin acara pun tampak bersiap. Para ibu mulai menyiapkan telepon genggam untuk mengabadikan momen saat sang anak membaca surat, sementara petugas dokumentasi sibuk mengatur posisi agar dapat mengabadikan momen istimewa. 

Suara sang Ustad mulai terdengar. Mengucap doa dan mulai membaca surat Alfatihah. Setelah itu acara batamat quran dimulai. Satu persatu anak membacakan surat yang telah ditentukan. 

Suara nyaring khas anak-anak kontras dengan penampilan mereka. Batamat quran Siang itu memang istimewa sehingga anak-anak tampil sangat berbeda. Menggunakan pakaian serba putih lengkap dengan baju penutup dari bunga melati. Kerudung penutup kepala pun dihias sedemikian rupa, tak lupa disematkan hiasan dari bunga melati. 

Anak lelaki pun ikut mengubah penampilan dengan memakai baju panjang putih dan tutup kepala yang dibelitkan. Ada rangkaian bunga yang disematkan. Bentuknya bulat seperti bros. 

Duduk menunggu acara batamat quran dimulai
Menunggu acara batamat quran dimulai.


Penampilan tak biasa ini memang disiapkan untuk mengikuti acara batamat quran yang termasuk dalam adat daur hidup manusia. Kegiatan ini dilakukan sebagai ucapan syukur setelah seorang anak berhasil menuntaskan pelajarannya, membaca alquran. Anak-anak sudah duduk dengan rapi, sesuai urutan surat yang akan dibaca. 

Acara serupa tidak hanya dilakukan saat seorang anak selesai membaca atau belajar alquran. Batamat quran dilakukan oleh seorang calon pengantin. Tujuannya agar dalam mengarungi bahtera rumah tangga keduanya berpegang pada ajaran alquran sehingga perjalanan hidupnya mendapat berkah. 

Piduduk tak ketinggalan 

Jika anak-anak tampil istimewa, begitu pun dengan para orangtua. Memang mereka tak menggunakan pakaian berhias bunga, namun lihatlah nampan-nampan yang dibawa. 

 Pada wadah tersebut terlihat hidangan khusus untuk disajikan. Inilah piduduk yang kerap hadir di setiap acara yang berkaitan dengan daur hidup manusia. Piduduk ini terbuat dari beras ketan yang dimasak dengan santan hingga menjadi ketan dengan tampilan mengilap, di sebut dengan nasi lemak. 

Piduduk di acara batamat quran
Piduduk yang terdiri dari nasi lemak, telur, dan unti.


 Di atas nasi lemak ini terdapat telur rebus. Ada yang meletakkan satu butir telur di atas nasi yang dibentuk menyerupai gunung. Namun ada juga yang menyusun telur di atas nasi berbentuk kotak, menyesuaikan tempatnya. 

 Jenis telur yang dipakai ada 3 jenis. Saya melihat telur puyuh, telur ayam, dan telur bebek. Jumlah telur yang dipakai ganjil. Agar terlihat menarik, telur puyuh diberi warna sehingga nasi lemak terlihat meriah.

 Sebenarnya selain telur ada pula unti. Pelengkap nasi lemak ini terbuat dari kelapa parut dengan gula merah. Dimasak dengan cara diaduk hingga matang. Nantinya unti kelapa ini ditaruh di atas nasi lemak yang telah dipotong-potong. Rasanya enak, paduan gurih dan manis lho. Waktu pertama kali mencicip, saya ketagihan. 

 Sesungguhnya penyajian nasi lemak bukan tanpa arti lho. Piduduk yang terbuat dari beras ketan ini bersifat lengket. Dengan demikian diharapkan bacaan alquran yang dipelajari sang anak akan tetap melekat sepanjang hidupnya. 

 Tiga lapis kain 

Hampir luput dari perhatian saya adalah alas duduk anak-anak yang mengikuti acara batamat quran. Alas duduk ini bukan sesuatu yang besar atau tinggi, ukurannya pun tidak lebar sehingga ketika diduduki akan tertutup. 

Alas duduk peserta batamat quran
Tiga lapis kain untuk alas duduk.


 Alas duduk ini berupa 3 helai kain panjang. Masing-masing kain dilipat lalu ditumpuk. Bentuknya segi empat. Disusun dengan cara setiap sudut berjauhan. Hm, seperti membentuk bintang segi empat. 

 Tiga lapis kain ini terdiri dari dua helai kain panjang bermotif dan sehelai kain putih. Kedua kain bermotif berada di bawah kain putih. Ketika harus bergeser dan berpindah tempat, anak-anak sibuk membawa serta alas duduk, alquran, dan mejanya.

 Berpayung bunga 

Kini semua sudah siap. Para guru duduk dengan takzim di belakang. Anak-anak duduk sesuai urutan surat yang akan dibaca. Ustad pun telah siap. Surat Alfatihah pun dibacakan dengan syahdu. Semua terdiam. Usai doa dibacakan, pemuka agama bersiap memimpin kegiatan. Acara pun mulai. Nantinya setiap anak akan membaca sebuah surat pendek atau juz 30. 

Payung bunga melati pelengkap acara batamat quran
Payung bunga melati.


Di setiap akhir surat, semua yang hadir akan membaca bersama. Uniknya selama pembacaan surat berlangsung, anak yang membaca akan dinaungi payung yang terbuat dari rangkaian bunga melati. Payung ini terdiri dari 3 tingkat. Semakin ke atas ukurannya semakin kecil. Karena anak-anak duduk berdekatan, tugas memegang payung pun dilakukan secara estafet. 

 Ada kalanya pada bagian ujung bunga diikatkan uang dan kue-kue. Nanti setelah acara selesai, anak-anak yang menyaksikan acara akan memperebutkan uang dan kue yang tergantung di payung. Sayang, kali ini payung tanpa gantungan uang dan kue manis, sehingga tak ada anak-anak yang memperebutkannya. 

 Meski demikian, raut bahagia tampak terpancar di mata mereka. Ketika doa penutup dibaca dan acara selesai, anak-anak langsung menghampiri orang tua mereka. Ada yang langsung kembali ke rumah dengan membawa piduduk yang akan disantap bersama keluarga. Ada pula yang menikmati piduduk bersama di masjid. Saya pun ikut dalam kegembiraan sembari menikmati nasi lemak yang disajikan.

Komentar