11 janur Yang Dipakai Pada Upacara Baayun Maulid

Baayun maulid museum lambung mangkurat
Ayunan baayun maulid


Dalam sebuah perayaan selalu ada hiasan yang akan menyemarakkan suasana. Begitu juga dengan upacara Baayun Maulid, menggunakan 11 jenis janur sebagai penyemarak sekaligus simbol nan kaya makna. 

Setiap kali bulan Maulid datang, saya selalu menantikan upacara Baayun Maulid. Entah kenapa upacara daur hidup ini begitu menarik perhatian. Mungkin karena banyak sekali hal-hal yang dapat dilihat dan dipelajari. 

Paling nyata tentu saja keberadaan ayunan-ayunan yang dipasang khusus saat upacara. Ayunan yang terbuat dari tiga helai kain tapih panjang atau kain panjang, kakamban atau selendang, serta berbagai hiasan yang digantungkan pada ayunan. 

Baayun Maulid

Dari sekian banyak hiasan, janur tentu paling terlihat jelas. Janur tersebut disematkan di tali ayunan serta ada yang melingkari kayu penyangga ayunan. Saya sungguh tertarik untuk mencari tahu seperti apa cara pembuatannya. Rasa ingin tahu ini semakin kuat karena pembuat janur tradisi di Kota Banjarbaru, begitu saya menyebutnya, tidak banyak. Hanya satu-dua orang saja. 

Pembacaan asrakal baayun maulid
Pembacaan doa 


Sebelum memulai petualangan melihat dan berbincang dengan pembuat janur, akan jauh lebih menyenangkan jika saya bercerita sedikit mengenai upacara Baayun Maulid. Maayun Anak di Banua Halat Upacara Baayun Maulid atau Maayun Anak diperkirakan berasal dari Kabupaten Tapin. Tepatnya di Masjid Keramat Banua Halat yang berada di Rantau. 

Keadaan sehari-hari masjid kuno yang tenang, berubah menjadi ramai pada 12 Rabiul Awal, waktu dilaksanakannya upacara Baayun Maulid. Saat itu masyarakat berkumpul untuk sama-sama merayakan dan mengingat hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, sekaligus mengenang kembali perjuangan Nabi Muhammad SAW. 

Tidak diketahui kapan pertama kali masyarakat mengadakan Upacara Baayun Maulid, namun adat tradisi tersebut tetap dilaksanakan dan dilakukan secara rutin hingga saat ini. 

Semula, pelaku atau peserta upacara daur ini adalah anak-anak para keturunan warga Banua Halat, namun kini tidak sedikit orang tua yang ikut serta dalam kegiatan tersebut. 

Baayun Maulid di Museum Lambung Mangkurat 

Seiring berjalannya waktu, Upacara Baayun Maulid tidak hanya diadakan di Masjid Keramat Banua Halat. Dari pengalaman saya, kegiatan serupa juga diadakan di Masjid Sultan Suriansyah dan Museum Lambung Mangkurat Kota Banjarbaru. 

Waktu pelaksanaan upacara Baayun Maulid di Museum biasanya dilakukan setelah tanggal 12 Rabiul Awal. Jumlah peserta pun tidak sebanyak di Masjid Keramat Banua Halat dan Masjid Sultan Suriansyah. 

Peserta baayun maulid
Salah satu peserta baayun maulid


Kegiatan rutin tahunan ini sempat terhenti pelaksanaannya pada 2020, tepatnya saat pandemic berlangsung. Bersyukur tahun ini Museum Lambung Mangkurat kembali mengadakan Upacara Baayun Maulid dengan membatasi jumlah peserta. Meski jumlah peserta tidak banyak, namun perlengkapan untuk Baayun Maulid seperti ayunan, janur, kue, dan piduduk tetap tersedia. 

Inilah kesempatan saya untuk melihat proses pembuatan janur yang menjadi salah satu pelengkap upacara. Saat ini pembuat janur tradisi sudah sangat jarang. Hanya ada satu keluarga yang membuat janur tersebut. Tempatnya di Kecamatan Cempaka. 

11 Janur Tradisi 

Berbekal ancer-ancer rumah Acil Rahma, pembuat janur, saya mulai menyusuri jalan utama di Kecamatan Cempaka. Meski kerap wara-wiri di sini, perkara mencari alamat tidak mudah. 

Apalagi petunjuk yang diberikan hanyalah rumah panggung, letaknya setelah jembatan, dekat Masjid Jami, dan sebelum warung 41. Setelah bertanya sana-sini, akhirnya ketemu juga rumah panggung bercat biru. Inilah rumah Acil Rahma. 

Pembuat janur baayun maulid
Membuat janur untuk baayun maulid


Semula agak ragu sebab dari tepi jalan seperti tidak ada kegiatan, namun ketika melihat lebih jelas dari pintu yang terbuka, terlihat pelepah daun nipah bertebaran di dalam rumah. 

Seorang perempuan terlihat menghentikan kegiatannya menganyam daun nipah. Sebagai tamu, saya menjelaskan maksud kedatangan untuk melihat proses pembuatan janur yang akan dipakai di upacara Baayun Maulid. 

Perbincangan pun mengalir dengan santai. Sambil tetap menganyam janur, perempuan yang aktif di kawasan tempat tinggalnya ini bercerita bahwa kepandaiannya menganyam janur di peroleh setelah mengikuti pelatihan di Museum Lambung Mangkurat beberapa tahun lalu. 

Sejak itu ia memutuskan untuk menjaga warisan budaya agar tetap terjaga. Khusus untuk upacara Baayun Maulid, ada 11 jenis janur yang dibuat. Janur-janur ini dibuat sejak 3 hari sebelum pelaksanaan. 

Kesebelas janur itu adalah: 

  1. Janur tangga pangeran

    Janur Tangga Pangeran. Dapat dikatakan inilah janur utama karena bentuknya lebih besar dan proses pembuatannya lebih rumit. Menggunakan dua batang janur yang disatukan lalu dianyam pada bagian kanan dan kiri. Setelah bagian atas disatukan dan kembali di anyam dengan bentuk serupa hanya arahnya yang berbeda. Bagian atas janur akan disatukan sehingga terlihat menguncup. Disebut tangga pangeran karena berkaitan dengan cerita Putri Junjung Buih. Diharapkan kehidupan sang anak kelak akan mulia. 
  2. Janur talakup laki baayun maulid

    Janur Talakup Laki. Menggunakan janur dari sebatang daun. Daun janur akan di sayat memanjang namun sebagian masih menyentuh lidinya. Setelah itu kedua helai akan disatukan dengan arah mengharap ke bawah. Biasanya jumlah ganjil. Maknanya hingga saat ini masih belum terungkap. 
  3. Janur talakup bini baayun maulid

    Janur Talakup Bini. Cara pembuatannya serupa dengan janur talakup laki tetapi arah hadapnya berbeda, tidak ke bawah melainkan ke atas. Makna yang terkandung sampai saat ini masih belum terungkap. 
  4. Janur keris baayun maulid

    Janur Keris. Janur berbentuk zig-zag sehingga menyerupai senjata tradisional keris yang kerap digunakan untuk mempertahankan diri dari serangan musuh. Makna yang tersirat dari keberadaan janur ini belum diketahui. 
  5. Janur pecut baayun maulid

    Janur Pecut. Proses pembuatan janur pecut seperti melapisi batang tengah daun nipah dengan helaian daun secara melingkar. Bentuknya lurus serupa dengan pecut yang digunakan untuk menggembala ternak. Maknanya masih belum diketahui 
  6. Janur kambang sarai baayun maulid

    Janur Kambang Sarai. Daun nipah yang digunakan akan digunting atau diiris-iris tetapi tidak sampai putus. Selanjutnya daun nipah akan menutupi permukaan lidi. Kambang sarai memiliki arti semangat hidup. Maksudnya agar si anak mempunyai semangat dan tujuan hidup yang baik. 
  7. Janur gelang-gelang baayun maulid

    Janur Gelang-gelang. Janur ini tidak menggunakan lidi atau bagian tengah daun nipah. Hanya lembaran daun nipah yang dipotong-potong dengan panjang tertentu, lalu setiap helai disatukan dengan cara digulung. Janur ini melambangkan kesatuan, tujuannya agar anak yang diayun tali persaudaraan dengan para tutus Banua Halat tidak putus. 
  8. Janur payung baayun maulid

    Janur Payung. Proses pembuatan janur ini hampir serupa dengan gelang-gelang, namun setiap helainya disatukan dengan cara ditumpuk serta disusun secara melingkar. Pada bagian tengah akan disematkan lidi agar memudahkan mengantung janur pada ayunan. Keberadaan janur ini memiliki arti agar anak selalu mendapat perlindungan dalam menempuh kehidupan. 
  9. Janur halilipan baayun maulid

    Janur Halilipan. Terbuat dari helaian daun nipah yang dianyam sedemikian rupa sehingga janur terlihat seperti memiliki banyak kaki serupa halilipan. Diharapkan anak kelak menjadi pemberani dalam menegakkan prinsip (tidak mau diganggu) namun tetap rendah hati. 
  10. Janur ketupat baayun maulid

    Janur Ketupat. Ketupat yang dibuat ukurannya tidak terlalu besar. Berbentuk segi empat, seperti ketupat yang banyak dijumpai pada perayaan hari lebaran. Ketupat ini melambangkan agar kehidupan si anak kelak bisa membekali dirinya dengan kebaikan. 
  11. Janur walut baayun maulid

    Janur Walut. Bentuknya memang tidak menyerupai belut atau welut, namun janur ini dianggap merefleksikan hewan belut yang licin. Sampai saat ini arti sesungguhnya janur walut masih belum diketahui. 
Janur-janur yang dibuat selama tiga hari akhirnya dibawa ke Museum Lambung Mangkurat. Sebagian besar warna janur sudah berubah menjadi cokelat namun bentuknya masih tetap. 

Pemakaian daun nipah membuat janur tetap kekar meski warnanya tak lagi sama seperti daun nipah yang baru tiba. Setelah ayunan selesai dipasang, kini saatnya menghias ayunan dengan 11 jenis janur. Kecuali janur gelang-gelang yang dipasang sepanjang kayu penahan ayunan, janur lain diikatkan di kanan dan kiri tali ayunan. 

Wuah, ayunannya jadi terlihat sangat menarik. Kesan perayaan semakin kental. Namun demikian syarat lain masih perlu dipasang di ayunan. Wadai manis seperti cucur yang melambangkan kejujuran serta kue cincin perlambang kehidupan yang berputar, dikemas dalam plastik lalu digantung di ayunan. 

Begitu juga dengan sebuah pisang maulid. Sebagai penutup, bunga-bunga pun ditaruh di dalam janur tangga pangeran. Kini, ayunan sudah siap untuk digunakan oleh para peserta yang akan mengikuti Upacara Baayun Maulid.

Komentar