Jaranan banyumasan dan kuda lumping, serupa tapi berbeda

Sama-sama menggunakan kuda lumping untuk menari, namun memiliki nama dan daerah yang berbeda. Jaranan banyumasan dan kuda lumping, ini dia bedanya.

Kemarin, sebuah kelompok kuda lumping meresmikan sanggarnya. Saya datang dong, nonton sembari kerja (tetep). 

Kelompok yang berada di Kampung Dalam, Sungai Ulin itu sebenarnya sudah lama berdiri, kerap juga manggung di beberapa tempat, namun baru memiliki sanggar saat ini. 

Tak lama setelah saya sampai, kegiatan pembukaan dilakukan. Pembacaan doa dilakukan oleh para tetua dan biyung. Asap tipis keluar dari parapen. Menyapu sesaji dan barongan. 

Memanjatkan doa jaranan banyumasan
Memanjatkan doa


Tak lama, gamelan ditabuh. Seorang sinden menyanyi, suaranya memanggil warga untuk mendekat. Saya yang berada di dalam segera mengambil posisi dekat meja, rasanya ini posisi paling aman. 

Para tetua dan biyung menepi ke dekat panggung. Segala rupa sesaji dan perlengkapan pertunjukan seperti kuda lumping dan pecut, di tata rapih pada sebuah meja yang berada di samping saya.

Tak lama berselang penari senterewe membuka acara. Delapan penari menari mengikuti irama. Cuaca cukup cerah. Awan yang tadi memayungi lokasi, perlahan menepi. 

Mereka terus menari meski peluh mulai membasahi pakaian. Sesekali berhenti kala musik mereda. Ini kesempatan untuk melepas dahaga. Lalu menari lagi hingga nyanyian usai. 

Lho, kursi saya bergeser waktu saya tinggalkan mengambil data untuk laporan. Benda berwarna hijau itu pindah ke dekat barongan dan sesaji. "Ibu di dekat sini saja," kata Ibu berbaju biru. Beliau adalah Biyung utama dari kelompok ini. 

Kejutan pertama

Wes, ayem. Duduk manislah melihat tarian kuda lumping kedua yang diiringi musik berirama cepat. Brak, empat penari berjatuhan di lapangan. Wajah mereka datar. Mereka tengah trance atau kesurupan. Namun gerakan mereka masih bisa saya tolelir, maksudnya nggak menakutkan, karena hanya menari. 

"Bu, nanti ada jaranan banyumasan. Menunggu pengendangnya datang," kata seorang biyung laki-laki. Saya cuma mengangguk. Belum paham perbedaan dengan jaranan yang ada di depan mata. Mungkin akan sama saja, pikir saya. 

Penari kuda lumping
Penari senterewe kuda lumping


Satu persatu pemain yang trance sadar. Panggung sepenuhnya diisi nyanyian dari para pesinden. Tiga anak kecil memanfaatkan panggung untuk menari. Gerak tubuh mereka begitu lincah dan luwes. 

Anak-anak itu seperti tak peduli meski musik berhenti. Mereka justru seperti bergantian mencontohkan tarian. Adu luwes, adu gagah, adu keras memainkan pecut. Kejutan yang menyenangkan banget.

Jaranan banyumasan

Di atas panggung para pengrawit berganti. Pengrawit banyumasan datang. Ini dia, jaranan banyumasan akan dimainkan. Sepuluh penari memasuki lapangan. Enam penari pria menggunakan kacamata hitam, sementara penari perempuan tidak. 

Mereka membuat dua barisan memanjang. Senyum terkembang ketika menghadap ke penonton. Gerakan mereka terlihat lembut, tak sekaku penari kuda lumping. Mungkin karena musik yang dimainkan iramanya lebih lambat 

Jaranan banyumasan
Jaranan banyumasan


Ah, tak hanya gerakan. Ada perbedaan lain yang bisa dilihat dengan jelas antara kuda lumping dan jaranan banyumasan. Pakaian yang dikenakan lebih sederhana, tanpa hiasan di bagian dada. Ukuran kuda lumping yang dimainkan pun lebih kecil. 

Penari terus saja menari dalam tempo cukup lama. Sesekali mereka memutar lalu kembali ke posisi awal. Pelan-pelan suara kendang semakin cepat dan kencang. Lalu, lima penari pria mulai trance. 

Ternyata trance yang dialami penari lebih heboh dari sebelum penari kuda lumping, saya sampai meloncat dari kursi karena seorang penari merangsek ke arah sesaji. Meski ditenangkan para biyung, saya sudah berpikir untuk kabur. Tapi susah, di belakang saya penonton cukup rapat. 

Akhirnya berdiri saja, siap-siap lari kalau ada penari yang menghambur ke arah saya. Benar saja, lagi-lagi seorang penari merangsek dengan gaya jumpalitan. Waduh, untung nggak ketendang. 

Kabur saja ke arah panggung, bergabung dengan para sinden. Eh, posisinya kok nggak aman. Tahu-tahu seorang penari lari ke arah kendang di belakang saya. Waduh, minggir lagi. 

Pemain jaranan yang trance
Pemain jaranan yang trance 


Duh, muka saya pasti nggak jelas. Antara ngeri takut sama penasaran. Buru-buru seorang biyung meminta saya menyeberangi lapangan. Waduh, musti lari nih melewati para trancer. 

Akhirnya saya bisa sedikit bernapas lega. Sedikit saja, sebab waktu tarian jaranan kuda lumping yang biasa ditarikan, saya harus melindungi wajah agar nggak kena ujung pecut. Terima kasih untuk para anggota kelompok yang sigap menjadi tameng pelindung.

Sore semakin menguning, keadaan di dalam arena sudah tak karuan. Semakin banyak yang trance sebab ada beberapa anggota kelompok jaranan lain ikut kesurupan. Kata Biyung, penyebabnya tabuhan musik yang dimainkan sesuai sehingga membuat mereka tak sadar.

Jaranan banyumanan beda dengan kuda lumping

Sepulang dari pertunjukan, saya mencoba mencari tahu perbedaan dari kedua kesenian yang tadi tampil.

Ternyata jaranan banyumasan dikenal dengan sebutan ebeg. Para penari menggunakan kuda yang terbuat dari anyaman bambu dengan surai dari ijuk. Belakangan kuda yang dipakai ada yang dibuat dari bahan lain yang mudah didapat namun tetap ringan.

Ebeg jaranan banyumasan
Ebeg, jaranan banyumasan


Kesenian ini menggambarkan para prajurit kerajaan. Mereka tengah bersiap menuju medan laga untuk membela kerajaannya.

Diperkirakan ebeg mulai dimainkan pada abad ke-9. Saat itu masyarakat masih menganut animisme dan dinamisme. Jejak ini masih dapat dilihat dari bentuk trance atau kesurupan yang dialami pemain.

Dari informasi yang terdapat di Wikipedia, Ebeg dianggap sebagai bentuk kesenian asli dari Jawa Banyumasan karena tidak mendapat pengaruh dari budaya atau tradisi suku lain.

Ebeg tidak mendapat sentuhan atau menceritakan kisah tokoh atau cerita tertentu dari suatu agama atau daerah tertentu. Lagu yang dimainkan selama pertunjukkan pun bercerita tentang kehidupan masyarakat yang dirangkai dalam bentuk pantun. Ada juga lagu yang liriknya berisikan wejangan atau nasehat bahkan tentang kesenian itu sendiri.

Begitu kuatnya tradisi masyarakat yang di kedepankan sehingga bahasa yang digunakan dalam mengiringi penari adalah bahasa Jawa Banyumasan atau biasa disebut Ngapak dengan logat khasnya.

Wow, benar-benar saya mendapat kesempatan menambah ilmu dari pertunjukkan ini. Apalagi setelah saya tahu kalau Ebeg lebih kerap ditampilkan di Kabupaten Banjar dibanding Kota Banjarbaru karena memang lebih disukai masyarakat Kabupaten Banjar.

#penggiatbudaya

#pemggiatbudaya2022

Komentar