Ketika emak-emak berani #BilangAjaGak sama soceng

Singapura, never ending story

 

sejenak di orchad road singapura

 

Bertahun lalu. Ya, beratus-ratus purnama sudah sejak terakhir menginjakkan kaki di Singapura, hingga kini belum lagi bisa bertandang ke sana. Rindu sangat pada Merlion, ikon kota nan cantik. Berada di dekatnya benar-benar memberi kegembiraan karena bisa menjelajahi Singapura.

Meski telah lama, namun kenangan akan suasana dan atmosfir negara Singapura tidak hilang. Tetap terpatri kuat dalam ingatan. Dulu, saya belum sempat menuliskan pengalaman menjelajahi negara tetangga sebab fokus mendampingi seorang sahabat menjalani pengobatan.

Memang kedatangan saya ke kota nan resik itu bukan untuk berwisata, melainkan menemani seorang sahabat yang tengah melakukan pengobatan kanker. Hari-hari yang saya dan sahabat lalui tidak jauh-jauh dari rumah sakit. Ah, perjuangan yang memberi banyak pelajaran, bahwa menjalani kehidupan memang tidak mudah, namun bukan berarti tidak bisa.

Pertama kali keluar negeri

Sebenarnya saya tidak mengira akan menginjakkan kaki di Singapura. Memang keinginan untuk melanglang buana sangat kuat, namun belum bisa terlaksana. Hingga suatu saat, ketika sahabat meminta saya untuk menemaninya menjalani pengobatan di Singapura.

Ketika menerima tawaran tersebut, saya menyadari akan konsekuensi tidak bisa melakukan wisata. Namun toh saya tetap bisa menikmati vibe dari kota tersebut. Tentu akan memberi pengalaman yang menyenangkan.

di NUH singapura
Menemani sahabat di NUH

 

Singkat cerita, saya dan sahabat berangkat ke Singapura. Setibanya di Changi, kami langsung menuju National University Hospital. Harus segera sebab janji temu dengan dokter sudah dibuat. Dari balik jendela taksi, saya mengamati kota nan bersih dan tertata rapih. Suka sekali dengan pohon-pohon besar dan taman di tepi jalan. Bersih.

Begitu pun saat tiba di Rumah Sakit. Auranya tidak menakutkan, walau suasananya tidak seramai di sini. Lorong-lorong yang bersih. Orang-orang yang berlalu lalang di selasar rumah sakit. Jumlahnya tidak banyak, sehingga terasa lengang.

Usai bertemu dokter, kami menuju aparteman yang ternyata letaknya tidak jauh dari kopi tiam. Siapa sangka, dari tempat ini saya akan memulai petualangan sendiri.

Jalan Kaki

Kondisi sahabat yang tidak memungkinkan beraktivitas rupanya membuat saya harus siap menjelajah jalan-jalan di sekitar Lanson Place apartemen. Ya, biar bagaimana harus ada bahan masakan untuk makanan. Kalau pun harus membeli makanan, siap-siap untuk jalan kaki menuju resto atau kios makanan. Waktu itu belum ada layanan pesan antar.

Untung saya senang jalan kaki. Jadi mondar-mandir di sekitar apartemen malah membuat gembira. Bisa melihat suasana kota sekaligus olahraga.

pagi di orchard singapura
Pagi di Orhard

 

Beneran surga sekali berjalan kaki di sini. Pedestriannya lebar dan bersih. Penanda jalan untuk kaum disabilitas pun terlihat jelas dan mudah diikuti. Tak ada tepi jalan yang terlalu curam. Tak ada motor yang melintas. Benar-benar menyenangkan.

Sesekali, saya bersama sahabat menyusuri jalan-jalan di sekitar apartemen. Tentu saja sahabat menggunakan kursi roda. Meski tidak lama, namun kelihatan sekali efek yang ditimbulkan membuatnya gembira. Hormon dopamin ini perlu untuk meningkatkan daya tahan tubuh setelah menjalani serangkaian pengobatan.

Supermarket-kopitiam-toko cokelat

Setidaknya satu minggu saya berada di Singapura, aktivitas yang dilakukan adalah ke rumah sakit dan berbelanja. Biasanya sebelum berangkat ke rumah sakit, saya sudah pergi ke killiney kopitiam untuk membeli sarapan. Laksa dan air barley menjadi pilihan. Karena sahabat tidak dapat mengonsumsi makanan berbumbu jadi memilih sarapan dengan roti bakarnya.

Nanti sepulang dari rumah sakit, saya akan kembali menyusuri jalan melewati kopitiam untuk berbelanja di supermarket. Sungguh, berbelanja di sini sangat mengasyikan. Bahan-bahan makanannya segar banget. Rasanya ingin membeli semua, tapi nanti bingung mau masak apa. 

jalan-jalan ke sentosa singapura
Jalan-jalan ke Sentosa

 

Saya juga pernah mampir ke sebuah toko cokelat. Letaknya di gedung yang berseberangan dengan kopitiam. Toko ini benar-benar surganya cokelat karena varian cokelatnya banyak sekali. Jadi pingin borong semuanya.

Pulau Santosa

Kali kedua ke Singapura, penjelajahan saya semakin jauh. Mulai mencoba naik moda transportasinya yaitu MRT. Ternyata ada stasiun MRT di rumah sakit. Benar-benar keren.

Meski pertama dan agak gugup, saya memberanikan diri untuk pergi ke Pulau Sentosa. Sebelumnya melihat peta perjalanannya dulu serta harga tiketnya. Prosesnya ternyata mudah, cukup membeli tiket perjalanan di mesin penjual tiket di dekat pintu masuk. Kalau bingung, bisa banget bertanya sama petugas. Dengan ramah mereka akan membantu membeli tiket MRT.

pulau sentosa singapura
Sampai juga di Pulau Sentosa


 

Setelah itu, ikuti semua petunjuk yang terpampang jelas di setiap sudut stasiun. Berbelok ke kanan, menuruni eskalator, lalu menunggu di peron. Dan, woila, saya berada di dalam MRT, menuju Pulau Sentosa.

Ternyata stasiun MRT menuju Pulau Sentosa berada di bawah pusat perbelanjaan besar. Dari sana terlihat jelas kawasan wisata Pulau Sentosa. Yeay.

Waktu itu suasana tidak terlalu ramai. Senangnya tak terbayangkan ya. Saya bisa menyusuri jalan-jalan dengan santai. Lalu menaiki bis terbuka untuk berkeliling.

Sempat juga mampir ke Disneyland. Berfoto sejenak di depan bola dunia yang ikonik itu. Terima kasih untuk seorang pengunjung yang menolong mengabadikan perjalanan ini. Puas berkeliling, saatnya duduk menikmati suasana di area dekat patung merlion besar. Benar-benar pengalaman yang berkesan sekali.

Siapa kamu?

Beberapa bulan setelah kembali ke Indonesia, saatnya kembali menemani sahabat. Saya dan keluarga sahabat memang berbagi tugas untuk menemani karena proses pengobatan berlangsung cukup lama. Jadi ini adalah kunjungan ketiga ke Singapura.

Berbekal pengalaman, dari Changi menuju apartemen saya memilih memakai MRT. Asyik bisa jalan kaki lagi.

Rupanya, setibanya di apartemen, saya mendapat kejutan. Kondisi kesehatan sahabat sudah membaik. Efek kemoterapinya sudah berkurang dan seorang temannya datang berkunjung. Saya jadi punya kesempatan untuk melihat Bugis Street.

Kali ini saya tidak sendiri. Saya ditemani Nina, seorang pekerja dari Indonesia. Menurut Nina, banyak orang Indonesia yang datang ke sana. Umumnya mereka membeli oleh-oleh karena harga di pasar ini terjangkau. Jenis barang yang ditawarkan juga banyak. Serta makanan yang dijajakan beraneka ragam. Paket komplet.

Ternyata benar, suasana di Bugis Street sangat ramai. Menjelang sore malah makin ramai. Saya memutuskan untuk membeli barang, sebuah ikat pinggang dan sepatu santai. Sebenarnya tidak ada yang aneh selama perjelajahan, namun entah kenapa saya merasa ada yang mengikuti.

Ah, mungkin ini hanya perasaan saja. Saya dan Nina tetap asyik berjalan ke sana kemari. Namun sesekali saya melihat ke belakang. Rasanya tidak tenang. Apalagi setelah melihat seorang pemuda terlihat mengikuti kami.

Mau tak mau saya mengatakan hal ini pada Nina. Kami sepakat melambatkan jalan. Membiarkan pemuda itu mendekat. Ternyata benar, pemuda itu mengajak Nina berkenalan. Untungnya Nina dan saya bisa menolak dengan halus ajakan tersebut. Saat itu juga kami memutuskan untuk segera kembali ke apartemen.

Kejadian di Bugis Street memperkaya petualangan saya di Singapura. Unik, seru, dan menyenangkan. Jadi tidak salah kalau saya ingin kembali ke sana. Semoga terlaksana. 

Kalau mengingat kejadian itu, saya tidak habis pikir bagaimana mungkin saya berani keluyuran seorang diri di negara asing. Padahal bahasa inggrisnya pas-pasan. Tapi, dipadu sama rasa percaya diri yang tinggi ternyata ampuh mendorong jiwa petualang saya. Jadi pingin menjelajah lagi ke sana. Singapura, I am coming.

 

Komentar