Melihat Acara Mandi Sungai Riam di Cemapaka

Malam-malam nonton jaranan

 Untuk pertama kalinya nonton jaranan alias kuda lumping di malam hari. Beneran di luar kebiasaan karena penasaran dan kebetulan ada temennya plus kelompok kuda lumpingnya dah kenal akrab. Jika terjadi keriuhan pasti saya bisa kabur ke panggung atau sanggarnya.




Kelompok kuda lumping ini tampil untuk merayakan dua anggotanya yang menikah. Mereka tampil sejak pukul 14.30 Wita sampai malam. Nah, malam itu saya dan teman beriringan menuju lokasi yang jaraknya mencapai 12 km dari daerah Loktabat.

Sampai lokasi di Sungai Ulin, suara gamelan terdengar kenceng. Pinggiran jalan di dekat sanggar hingga lokasi pertunjukan penuh dengan motor penonton. Motor langsung masuk ke depan sanggar, tempat biasa parkir, lalu jalan ke tempat pagelaran. Tidak jauh sekitar 100 meter saja.

Ramai. Penonton penuh. Penonton paling depan yang berbatasan dengan pagar kalangan tampak duduk. Tiba-tiba ada yang memanggil nama saya.  Ternyata anak wayang dari kelompok jaranan di dekat Yonif. Ngobrol sebentar dulu, menanyakan kabar kelompoknya.

Baru masuk ke dalam kalangan. Rupanya kedatangan saya mengagetkan mereka. Biasanya nonggol siang hari, lah kok hampir tengah malem muncul. Wkwkwkwkw. Wes, wes, salaman dulu. Baru duduk di bagian depan. Berasa VIP banget saya tuh.

Tarian yang ditampilkan masih senterewe. Penarinya perempuan. Tidak lama kemudian mulai pada trance. Bahkan salah satu anak wayang kecil yang membantu melepaskan hiasan pakaian penari dewasa ikutan trance. Dia langsung menuju tempat sajen dan minta kelapa. Duduk santai sambil makan kelapa. Anak wayang lain asyik menari mengikuti irama sampai satu persatu disadarkan oleh para bopo.

Sekarang tampil para penari pria. Dandannya sederhana. Cuma pakai lipstik dan bedak. Bajunya juga tidak terlalu ramai. Wah, gerakan mereka dinamis banget. Lari ke sana kemari. Kadang loncat. Beda dari tarian yang saya lihat kalau siang. Musiknya juga lain, lebih khas.

Ternyata tarian yang ditampilkan berasal dari Banyuwangi yaitu ebeg jaranan. Belajar lagi saya nih. Rupanya jenis kuda lumping lumayan banyak dan untuk membedakannya nggak mudah.

Sekitar 15 menit mereka menari. Diselingi minum aqua yang dibawakan para bopo. Nggak lama masuk seorang pemain barong kepruk. Barong ini terbuat dari kayu dengan hiasan kecil di bagian belakang. Topeng ini cukup besar dan berat. Penari yang membawa barong kepruk harus menjunjungnya di atas kepala sambil menari.




Nanti anak wayang akan menggoda di barong sampai kejar-kejaran. Topeng ini akan dipukulkan (kayaknya dibanting sambil dipegang) agar mengenai anak wayang, namun mereka pinter menghindar jadi tidak kena.

Suasana sudah heboh. Namun belum maksimal sebab masih ada ritual yang dilakukan. Menjelang tengah malam, dua orang bopo atau pawang masuk membawa kendil dan kembar mayang. Keduanya di angkat tinggi. Macam kode aja, tiba-tiba anak wayang makin heboh dan kayak mengundang pemain barong agar menjatuhkan topengnya ke arah kendil.

Duar!

Kencil hancur dan kembar mayang berserakan (kayaknya direbut sama anak wayang). Anak wayang dan pemain barong pun bergeletakan. Ternyata semua nggak sadar. Nggak lama, penonton dari luar arena juga mengalami hal serupa. Arena penuh sama orang nggak sadar yang asyik menari.




Saya melihat semua sambil duduk. Memperhatikan situasi juga kalau makin heboh paling nggak udah siap kabur wkwkwk. Bisalah ngeloncatin pager bambu.

Untung situasi terkendali. Para bopo berhasil mengembalikan kesadaran para pemain. Fiuh. Pagelaran pun usai tadi pagi.

Komentar