Menikmati Cirebon

Setiap perjalanan itu buat saya sangat menyenangkan. Dekat atau jauh selalu punya cerita sendiri, seperti perjalanan kali ini. Kami, rombongan yang terdiri dari 17 orang, tua dan muda menuju kota Cirebon untuk menikmati batik. Sebenarnya ini kali ketiga saya menjejakan kaki di kota udang. Tidak pernah bosan lho, selalu saja menarik. Panasnya kota pesisir ini tidak bisa menguapkan aura semangat menjelajah.

Berbeda dengan dua perjalanan sebelumnya yang saya lakukan sendiri dan dalam rangka menjalankan tugas, perjalanan ini murni jalan-jalan melihat keindahan kota Cirebon. Lalu, ini kali pertama saya mengurus perjalanan untuk kami semua. Mulai mencari agen yang bisa membantu, sampai membeli tiket kereta api dan bis yang akan digunakan. Tidak ada pewandu wisata sebab ini adalah jalan-jalan bersama. Agenda yang sudah disusun bersifat sangat lentur dan bisa sewaktu-waktu berubah sesuai keinginan dan kesepakatan bersama.

Maka, kami tidak kecewa saat tiba dan ingin bersantap di nasi jamblang ternama karena belum buka. Alihkan saja ke tempat lain, dan nikmati saja kelezatan nasi jamblang yang tersohor di depan Grage Mal. Setelah itu mampir sebentar ke toko roti ruby untuk membeli roti ayam yang tenar itu. Ada alasan lain lagi lho, mencari kamar mandi. Hahahahaha. Inilah tentengan belanjaan pertama. Sadar masih ada tempat yang akan didatangi, tak ada kesan kalap saat berbelanja. Semua tenang dan membawa satu kantung besar ke dalam mobil. hehehehe.

Lanjut ke tempat tujuan utama, perkampungan pengrajin batik di Trusmi. Memasuki kawasan ini kesan kuno sebenarnya hampir tertutupi oleh keberadaan gerai-gerai yang menjajakan batik. Kaca-kaca besar penutup depan rumah yang diubah fungsinya menjadi toko adalah penyebabnya. Namun cobalah masuk lebih dalam, dimana lebar jalan semakin mengecil dan hanya muat dua mobil berukuran sedang. Bangunan lama mulai menampakan keanggunannya. Rumah-rumah para juragan batik mulai terlihat. Halaman luas dan papan nama pengrajin adalah petunjuk penting. Ini yang membantu kami mencari rumah pengrajin batik Ninik Ikhsan.

Begitu kami sampai di sana, tak ada gerai pajang layaknya toko, hanya rumah besar dengan halaman yang ditumbuhi pohon besar. Sebuah gazebo berada di pinggir kiri seperti mengundang untuk singgah sejenak, tapi kami menolaknya, memilih langsung memasuki rumah besar itu, tak sabar melihat dan mengagumi batik cirebon. Sambutan sang pemilik adalah salam hangat yang bisa menghilangkan lelah. Lalu rangkaian itu dimulai, duduk bersimpuh di karpet dan satu per satu kain pun dibentangkan. Buat yang tak sabar bisa memilih, mengambil, dan membentangkan kain-kain dihadapannya.

Motif khas cirebon pun menari-nari memamerkan keindahannya dihadapan kami. Kekaguman pun terpancara hingga sulit mengalihkan pandang. Motif mega mendung, burung hong, jawa modern, gringsing, parang, sekar jagatan gadis jepun, merak bunga tabur, dan lainnya bermunculan secara bergantian. Kami mulai memilih motif yang disukai. Tentu juga sesuai dengan kemampuan kami membeli. Karya terbaik memiliki harga cukup mahal karena proses pembuatannya yang lama. Mulai dari membuat pola, membatik, mewarnai, hingga penjemuran bisa memakan waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun.

Namun demikian ada juga kain yang dibuat dengan cara colet, print, dan cetak sehingga harganya lebih terjangkau. Apa pun pilihannya, semua menawarkan keindahan dan kekayaan bangsa kita. Saya sangat bangga memilikinya.

Acara melihat dan memilih kain sempat disela oleh kegiatan lain yaitu mengintip proses pembatikan di bagian belakang rumah. Lima orang pembatik, duduk tekun di belakang alat pembuat batik, sibuk menorehkan malam di atas kain yang sudah diberi corak. Seorang laki-laki seperti bersembunyi di belakang kain putih, dia tidak mengintip. Seluruh perhatian dan pikirannya terfokus pada kain putih dihadapannya. Dia sedang menorehkan motif ke atasnya. Inilah yang akan diberi malam oleh pembatik perempuan.

pembatikMeski tidak dibatasi tembok, ruangan beratap tinggi ini terasa cukup panas. Mungkin kompor-kompor pemanas malam ikut menyumbang udara panas ke sana. Walau demikian tidak ada gerutuan atau keluhan yang terdengar. Semua tekun bekerja. Ada hal yang mengembirakan saya saat melihat mereka, usia para pembatik itu cukup muda. Mudah-mudahan ini pertanda proses regenerasi pembuat batik mulai berjalan.

Cukup sudah menyaksikan semua proses dan membeli batik, saatnya mengunjungi tempat lain yang sama-sama menawarkan batik yaitu Batik Lebet Sibu. Warna yang ditampilkan lebih ceria. Tidak cuma kain, produk jadi berupa baju pun tersedia dalam beragam model. Siap untuk dibawa pulang.

Tak terasa, perut mulai memberi tanda. Waktu juga semakin sore, jika tak bergegas, kami tidak akan sempat makan sebelum kembali ke Jakarta. Bergegas kami semua menuju bis dan menuju restoran ayam panggang alas demang. Pesan-pesan-pesan. Makan-makan-makan.

Bersamaan dengan tergelincirnya matahari, bis yang membawa kami pun memasuki halaman stasiun Cirebon. Begitu memasuki lobi, terdengar pengumuman bahwa kereta yang akan membawa kami akan segera masuk di jalur 5. Saatnya kembali ke Jakarta. Kembali ke keluarga. Tanpa melupakan segala kenangan dan keindahan Cirebon, kota pesisir yang indah.aa


Comments