Raragudig

Ketika berkunjung ke Cirebon, udara panas adalah sapaan pertama yang dirasakan oleh saya. Angin seperti tidak berhembus. Sinar matahari juga bukan main teriknya. Saat itulah baru sadar tidak membawa kacamata hitam. Buat mengurangi sinar matahari yang masuk ke mata, terpaksa dipicingkan saja. Lalu, lanjutkan perjalanan untuk menikmati kota udang.

Tiga jam di perjalanan, sudah pasti membuat perut lapar. Ada banyak makanan yang bisa dicoba, dari doclang, nasi jamblang, bakso, nasi lengko, dan empal gentong. Pilihannya jatuh ke nasi jamblang supaya cepat. Setelah itu perjalanan dilanjutkan ke toko roti Ruby yang sudah ada sejak dulu kala.

Biar pun sudah berdiri lama, tampilan toko ini cukup modern. Jendela-jendela besar tembus pandang membuat pengunjung leluasa menikmati bagiana dalam toko. Melihat sekilas jajaran kue dan roti yang ditawarkan. Sebelum akhirnya masuk dan memilih beragam kue dan roti tadi.

Dan itulah yang saya lakukan. Langsung memilih roti-roti berukuran sedang yang ada di rak-rak kaca tidak jauh dari pintu masuk. Sebenarnya banyak macamnya, tapi saya lupa apa saja sebab fokusnya hanya mencari roti ayam yang legendaris itu. Dan saya mendapatkannya.

Baru setelahnya melonggok deretan kue tradisional di atas etalase yang dibentuk seperti huruf L dekat kasir. Pandangan langsung tertuju pada makanan berwarna cokelat yang dibungkus plastik tembus pandang. Sekilas tampilannya mirip dengan dodol krasikan khas jawa tengah. Hanya warnanya lebih cokelat.

Panganan yang digulung memanjang itu ternyata bernama raragudig. Teksturnya kering dan terbuat dari kelapa di dalamnya serta gula merah. Rasa manisnya sebenarnya tidak terlalu kuat, dan ini saya suka, diseling oleh gurih kelapa. Enak sekali.

Dari hasil pencarian, saya baru tahu kalau raragudig merupakan makanan tradisional dari Kuningan yang letaknya dekat Cirebon. Sajian yang diimpor dari kuningan ini pun mengembara ke berbagai daerah untuk dinikmati banyak orang. Salah satunya saya.


Komentar