Tantangan 2

Masih berkaitan dengan unggahan terdahulu mengenai tantangan bercerita yang saya ikuti. Kali ini unggahan hari keenam hingga sepuluh.

6. Wati menatap hiasan dindingnya. Wajahnya kesal. Alisnya sedikit berkerut. 
Tahun baru sudah lewat seminggu, tetapi hiasan dindingnya belum berganti. Tahunnya masih 2018. Biasanya selalu ada yang memberikan hiasan dinding di akhir tahun. Entah mengapa tahun ini berbeda.

Diraihnya telepon gengam, sebuah pesan ditulis dengan cepat. Namun, kenapa jempolnya terasa berat menekan tanda kirim. "Masa sih harus minta sama yongki. Jauh amat," batinnya mengingat sahabatnya yang tinggal diseberang pulau.

Diraihnya kunci motor. Dibulatkannya tekad untuk mencari hiasan dinding baru. Tanpa gambar pun tak mengapa. Asalkan ia bisa menulis catatan kecil diatasnya.




7. Sayangi kendaraanmu. Begitu kata saya yang tidak bisa lepas dari kendaraan roda dua. Bagaimana lagi, kalau tidak ada motor berarti saya tidak bisa kemana-mana, akan terkurung saja di rumah. 
Selain lokasi rumah yang agak ke dalam, di tempat mukim saya sekarang minim angkutan umum. Ada sih angkutan kota alias taksi, tapi buat naik taksi ini saya harus menempuh jarak 1 km menuju jalan raya utama. Wah, bisa luntur bedak saya dong.

Mau tak mau ya naik motor deh. Enak, bisa cari jalan alternatif, tapi tidak mencari jalan tikus ya karena sulit mencari gang kecilnya. Tapi biarpun bisa digunakan kapan saja, mengantar kemana saja, oleh siapa saja (karena sering dipinjam tetangga), saya harus memperhatikan kondisi motor. Jangan sampai dia ngambek dan menolak mengantar saya.

Demi kebahagiaannya, setiap bulan saya rutin mengunjungi bengkel motor. Minimal ganti oli. Selain perawatan lain seperti membersihkan mesin, cek kondisi kampas rem, dan cek aki. Kalau sudah beres si dia akan dimandikan biar makin centil. 
Saya juga tidak pernah tergoda buat mengutak-atik mesinnya. Semua masih asli seperti apa adanya. Kalau pun ada onderdil yang harus diganti saya cari yang asli. Sedikit mahal dibanding produk abal-abal namun kualitasnya beda jauh.

Meski kelihatannya sepele, rutinitas yang saya lakukan sangat memberi manfaat. Sampai saat ini motor masih oke. Mesin masih lancar jaya. Biar pun usianya tidak balita lagi. Sudah mau sembilan tahun. 
Terima kasih motorku. Tanpa dirimu, saya tidak bisa kemana-mana.




8. Belakangan ini perubahan cuaca menjadi topik perbincangan menarik. Berita dari BMKG seputar angin kencang dan hujan deras ramai disebarluarkan melalui media sosial. Tujuannya supaya masyarakat lebih waspada.

Seorang teman bercerita perihal perjalanannya ke hulu sungai. Betapa hujan deras membuatnya seakan terkurung dijalan. Badan jalan tak nampak. Hanya lampu dari kendaraan di depan yang menjadi panduan. Kegerian jepas terbayang, namun tak ada tempat untuk menepi. Beruntung perjalanan berlangsung aman hingga tujuan.

Lain lagi cerita yang dikisahkan juga oleh seorang teman. Kali ini angin besar sempat membuat atapnya menghilang. Dari berbagai kisah yang disampaikan, saya dan kawan-kawan sepakat tidak bepergian jauh.

Meski cuaca tak menentu, tugas negara tetap harus ditunaikan. Sore itu seperti biasa menjemput si kecil pulang. Tak ada gerimis, hanya di depan terlihat awan abu-abu. Santai saja, mungkin hujan belum turun. Benar sih, 500 meter pertama aman. Selanjutnya gerimis menemani hingga tiba di sekolah.

Intensitasnya terus bertambah dan lampu pun mati. Tak mungkin kembali ke rumah, jadi menepi saja dulu sambil menikmati dingin. Hampir 15 menit berdiri. Hujan perlahan pergi. Setelah itu keindahan pun menampakkan diri. Di depan mata kami tampaklah pelangi. Indah sekali. 
Kehadirannya mengingatkan bahwa setelah kesulitan akan ada keindahan. Bersabarlah menunggu waktunya tiba.



9. Liburan memang sudah berlalu, tapi tiket kunjungan ke museum nasional jakarta masih saya simpan. Tiketnya bagus sih. Kertasnya agak tebal dan mengilat.

Lalu fotonya pun keren, mengingatkan banget sama museum nasional. Mungkin karya perupa nyoman nuarta ini akan menjadi ikon baru selain ikon patung gajah yang sudah ada dibagian depan museum. 
Selain memiliki foto nan menawan, dibagian belakang tiket terpampang denah ruangan museum. Wah ini mah panduan banget buat pengunjung. Jadi gampang mencari tahu ruang dan lantai berapa yang ingin dituju. Walau pun tidak bisa menggantikan peran pemandu sesungguhnya.

Gara-gara memegang tiket ini, saya jadi penasaran apakah tiket dari museum lain juga sebagus ini? Kalau iya, tiketnya bisa dikoleksi dong. Lalu ditambahi foto-foto dan cerita, semacam kolase gitu. Nah saya mulai berkhayalkan hahahaha. 
Tidak salah juga sih bermimpi, toh tidak bayar juga. Mudah-mudahan mimpi itu bisa terwujud. Amin.



10. Ternyata ada tema #jalanyang harus dibuat untuk memenuhi ketentuan @30haribercerita. Rasanya perjalanan ke planetarium jakarta masih layak disajikan.
Para siswa sekolah dasar dan menengah pertama mungkin pernah berkunjung ke planetarium di Cikini, Jakarta. Tujuannya sudah pasti memenuhi tugas sekolah. Kalau begini, acara menonton mungkin tidak senyaman jika menonton bersama keluarga. Kalau tak percaya datang saja hari sabtu dan minggu. Hanya dua hari ini saja perorangan bisa menonton pertunjukkan. Hari lain, khusus untuk rombongan.
Terbatasnya waktu membuat antrean di depan loket cukup panjang. Semua dengan sabar bergeser sambil duduk hingga akhirnya tiba di depan loket. Agak dag-dig juga sih sebab tiket yang dijual untuk setiap pertunjukkan terbatas. Hanya 380 tiket untuk pertunjukkan jam 09.00 wib. Lalu jumlah yang sama untuk pertunjukkan ja. 13.00 wib dan 285 tiket untuk pertunjukkan terakhir di jam 15.00 wib. 
Setelah memiliki tiket, berarti ada waktu luang. Saya gunakan saja untuk melihat pameran dan pertunjukkan di ruang bawah. Wow...ruangannya bagus. Beda sekali dengan yang dulu.
Alat peraganya ditata dengan rapih. Pencahayaannya pun mumpuni. Berfoto pun jadi tidak masalah lagi. Alhasil, bergantianlah kami dibagian tata surya agar semua bisa mengabadikan kenangan indah. Serasa seperti ada dimana ya? Sebab tata suryanya dibuat dalam ukuran besar dan bisa disentuh. Benar-benar pengalaman seru.
Tambah seru waktu menonton pertunjukkannya. Rasanya seperti berada di luar saja. Melihat langit penuh bintang. Lalu berbagai rasi bintang muncul bersamaan dengan pergerakan malam. 
Tiba-tiba, keriuhan terdengar saat penonton menjelma menjadi astronot. Mengarungi angkasa raya nan maha luas. Memandang bumi dari kejauhan. Indah banget.
Momen selama satu jam itu sungguh membekas dihati dan pikiran. Menghadirkan senyum setiap kali mengingatnya. 






Komentar