Tantangan

Awal tahun ini saya menantang diri sendiri. Sebenarnya nggak sengaja karena lihat postingan teman yang ikutan tantangan 30 hari menulis di instagram. Pernah sih ada tantangan serupa tapi menulisnya di blog. Namun saya belum berani ikutan.

Entah mengapa kali ini kok tergelitik untuk mencoba. Mungkin karena bisa menulis apa saja dan medianya instagram yang lebih ringkas dibanding blog. Walau demikian, saya serius menjalaninya. Setiap hari selalu mencari ide tulisan apa yang bisa saya kisahkan. Termasuk juga fotonya agar tulisan lengkap. Sejauh ini foto dan tulisan masih sejalan sebab saya berusaha membongkar koleksi foto yang sesuai dengan draft tulisannya. Jenis tulisan yang dibuatpun beragam.

Hahahaha, baru saya sadar, ternyata mengikuti tantangan itu tidak sederhana. Tapi betul-betul menyenangkan buat saya.

Akhirnya, saya memutuskan untuk menggungah ulang remahan tulisan itu disini. Sebagai dokumentasi dan pengingat diri sendiri bahwa kita bisa melalui tantangan asalkan mau berusaha.

Hari 1.

Baca postingan seorang teman tentang 30 hari bercerita di instagram. Tertarik juga. Apalagi ceritanya bebas...bas...alias suka-suka. 
Kegiatan menulis rutin bagus juga untuk latihan menulis. Terutama buat saya yang kerap terpengaruh sama alasan. Bukan mood ya tapi alasan hahahaha. 
Biar tidak kalah sama alasan yuk ah mencoba. Diawali dengan perjalanan kembali ke pulau seberang. Biasanya naik maskapai c dan g, kali ini mencoba naik maskapai b. Keberangkatan dari terminal 2 bandara soekarno hatta. 
Sejauh ini kabarnya penerbangannya tepat waktu. Ruang tunggu pun sudah hampir penuh. Semua setia menunggu pengumuman yang mengatakan pesawat sudah siap. 
Tadi sempat melihat beberapa petugas maskapai b berkeliling. Mereka membawa papan berjalan. Entah apa yang ditanyakan dan ditulis, saya berharap sih ditanyain tapi....rupanya saya tidak termasuk kategori mereka. Waduh, padahal saya baik lho dan dengan senang hati menjawab pertanyaan.

Ya sudah, kalau begitu kita lihat saja pesawat yang parkir dulu. Sama pak pilot yang bersiap untuk bertugas. 



Hari 2. 


Yey naik damri ke bandara. Maaf kalau saya agak norak soalnya moda transportasi ini sempat hilang dari peredaran. Lho kok bisa? Saya juga tidak tahu jawabnya.

Tapi ingatan soal damri ini nggak hilang. Dulu...dulu sekali sekitar tahun 2000-an, damri jadi andalan warga depok yang mau ke bandara soekarno hatta dengan biaya terjangkau. Bisnya besar berwarna putih. Tarifnya kalau nggak salah sekitar 20 ribuan. 
Entah kenapa, tiba-tiba armada ini menghilang. Alhasil kalau mau naik damri harus ke pasar minggu. Beberapa tahun kemudian muncul armada lain dengan rute sama. Bisnya besar juga, cakep, dan bersih. Jadwalnya juga teratur. Tiketnya beberapa kali naik, sekarang Rp 65.000. Rutenya langsung ke bandara lewat tol. Bablas pokoknya.

Sekarang damri muncul lagi di depok, tapi pangkalannya eh shelter deh pindah ke dmall. Ukuran busnya lebih kecil ketimbang bus bandara satunya. 
Pertama kali naik damri lagi, sebenarnga nggak sengaja, dari bandara. Busnya biru dan agak kurang okelah. 

Kemarin naik bus damri lagi. Ternyata armada busnya baru. Warnanya abu-abu. Bangkunya cakep dan nyaman. Busnya bersih dan dingin. Nyaman.

Yang asyik lagi di setiap bagian tepi bangku ada colokan listrik. Ho...ho...ho...ini penting banget apalagi yang nggak bawa power bank atau udah sekarat baterainya. Tinggal colok aja telepon gengam pun aman terkendali. Bisa lanjut foto-foto sama update status atau bikin cerita kayak saya ini hehehehe.

Tarif bus damri lebih murah, cukup bayar Rp 45.000. Rutenya sedikit beda karena bus akan melewati jl margonda, lenteng agung, baru masuk tol di tanjung barat. 
Karena masih suasana tahun baru, jalanan masih seupi dan lancar banget. 60 menit kemudian sudah sampai di bandara, itu pun sudah dikasih bonus jalan-jalan keliling bandara dari satu terminal ke terminal lain. 
Nah, buat yang mau naik angkutan umum ke bandara sebaiknya siapkan waktu lebih ya. Jaga-jaga kalau macet. Plus camilan sama air minum biar nggak lapar. Oh ya bus ini akan berangkat setiap 1 jam. Jam operasinya dari depok mulai jam 04.00-21.00 wib. Sedangkan dari bandara mulai jam 05.00-22.30 wib.



Hari 3.


Dalam berpakaian setiap orang mempunyai gayanya masing-masing. Ada senang menggunakan gaun, rok, atau celana. Saya termasuk golongan penggemar celana. Padu padannya tidak jauh dari kaos atau paling top ya tunik.

Kalau pun sedang berkeliling pusat perbelanjaan buat lihat-lihat, pasti berhenti agak lama di bagian kaos dan celana hahahaha. Mulai deh pegang-pegang, lihat motif atau gambarnya. Kalau cocok, baru masuk kamar pas buat nyoba. Mencoba belum tentu membeli ya.

Entah mengapa saya agak rewel kalau berbelanja. Maunya bahannya bagus biar tahan lama. Modelnya pun klasik supaya ever green. Mungkin ini yang menyebabkan koleksi pakaian saya tidak banyak alias sedikit.

Tetapi, terjadi hal yang diluar dugaan waktu bertemu dua orang teman. Mereka memperlihatkan koleksi pakaian yang dibuat. Modelnya macam-macam lho. Bahannya bagus. Kesan saya sih biasa saja alias tidak terlalu tertarik sebab bukan gaya saya hahaha.

Tiba-tiba mereka meminta saya mencoba beberapa pakaian. Kaget juga sebab saya belum dandan (halah nggak mungkin banget). Saya sih nurut aja. Waktu saya pakai, keduanya asyik membahas model yang saya pakai. Puter sana, puter sini. Ganti lagi. Hingga akhirnya mereka meminta saya mencoba sebuah blus hitam. 
Jreng...jreng...sinyal saya menguat. Tiba-tiba hati saya mengatakan baju ini cocok buat saya. Dan....saya jatuh hati sama blus hitamnya.

Bahannya bagus. Tidak panas. Nyaman. Lembut. Modelnya kekinian tetapi sederhana. Yang paling penting pas dibadan saya. Wow...nggak sangka. Takjub.

Ya sudah, akhirnya blus itu berpindah tangan. Kini ia resmi menghuni lemari pakaian dan siap menemani saya ketika dibutuhkan. (Btw, bajunya sudah dipakai kondangan lho). Thanks mbak @zepthi dan mbak @emmy.



Hari 4.

Dari penampakannya sudah ketahuan kalau ini adalah bacem. Terdiri dari bacem tempe dan tahu. Dibuat karena ada permintaan dari yayang. 
Karena tukang sayur sangat jarang mampir ke ujung jalan, jadilah pergi ke pasar dadakan yang hanya buka tiga jam saja. Dapat juga tempe dan tahunya. 
Tidak perlu beli bumbu, tinggal mencari air kelapa. Yup, ini dia yang bikin rasa bacem beda. Untung penjualnya berbaik hati memberikan air kelapa muda. 
Langsung cuzz balik ke rumah. Semua bumbu, macam bawang merah, bawang putih, dan ketumbar dihaluskan pakai blender (edisi malas nih). Lengkuas, serai, dan daun salam ambil dulu di pot. Sip. Semua siap.

Tumis deh biar bumbunya matang dan wangi. Baru tambahin air kelapa. Karena kurang jadi ditambah sedikit air. Oh kasih garam dulu sama gula merah dan kecap manis. Cicipin. Lalu tempe dan tahu pun menyusul masuk.

Apinya sengaja diatur kecil agar proses memasak berlangsung lama. Memberi kesempatan bumbu meresap ke dalam setiap bagian tahu dan tempe. Ah, airnya sudah hampir habis. Sudah matang nih namun belum sempurna.

Ganti penggorengan dulu. Kali ini beri minyak agak banyak. Begitu minyak panas, goreng tempe dan tahu bergantian hingga matang. Tahu dan tempe bacem pun matang sempurna. 
Begitulah kegiatan saya waktu membuat tahu dan tempe bacem kemarin. Makanan ini bisa buat camilan atau lauk. Ditemani cabai rawit akan lebih enak.



Hari 5.

Namanya tom, kucing tetangga yang suka main di depan rumah. Kucing ini keturunan kucing ras lho. Badannya besar gitu. Bulunya juga tebal hanya tidak terlalu panjang. Biar badannya gede, manjanya luar biasa. Selalu menghampiri siapa saja minta dielus dan disayang.

Tadinya, tom tinggal dalam kandang. Cuma bisa melihat para kucing domestik berkeliaran disekitarnya. Kalau sudah bosan, tom memilih melingkarkan badannya dan tidur. Entah kenapa akhirnya dia diberi kebebasan buat main kemana-mana. Lucunya, begitu menghirup aroma kemerdekaan, tom langsung bertualang alias menjelajah tidak jelas arah.

Pernah tersasar di gang sebelah dan berhasil ditemukan. Lain waktu, ekornya tidak tampak selama beberapa hari. Sang pemilik jelas kelimpungan mencari. Setiap gang disusuri. Setiap orang ditanyakan. Tidak ketemu juga. Eh, lho kok, tiba-tiba tom muncul sendiri di gang sebelah lagi. Kelaparan.

Asumsi kami para tetangga, ada yang kepincut sama ketampanannya dan membawanya pulang. Apalagi tom gampang luluh kalau dipanggil. Tipe kucing rumahan banget sih. Namun sipeminat tidak menyangka kalau tom tidak suka ikan. Nggak level ah, ujarnya sambil memalingkan wajah.

Beruntung selama ini tom selalu mengonsumsi makanan khusus meong. Tom tidak mengenal ikan atau tulang ayam. Yang tom tahu hanya bermain dengan kucing-kucing domestik lainnya. Lucunya semua kucing ini memiliki warna sama, kuning.

Mungkin ada aturan tak tertulis yang tidak membolehkan kucing berwarna lain tinggal dilingkungan ini, kecuali si upin kucing jantan penguasa wilayah. Semoga tom kelak tidak menjadi saingan upin, nanti tom tidak tampan lagi.


Komentar