Si cantik dan lembut, cake papakin




cake papakin
cake papakin, buah khas kalimantan (dok: pribadi)




Ketika udara seperti tak jelas, antara hujan dan panas, saya tetap merasa bahagia. Saat inilah beragam buah lokal Kalimantan Selatan bermunculan. Warna dan bentuk buahnya cakep-cakep, menarik sekali bikin saya jatuh hati. Acara antar jemput sekolah pun jadi menyenangkan karena saya sengaja mengendarai motor dengan kecepatan pelan. Supaya bisa lihat kiri kanan. Alias pajangan buah-buah dipinggir jalan.

Menyesuaikan dengan cuaca, buah yang ditawarkan pun seperti silih berganti. Semula warna merah dari buah naga seakan mencerahkan suasana. Harganya pun tidak terlalu mahal, sekilo Rp 10.000. Saya suka membelinya untuk disimpan di kulkas dan disantap saat dingin.

Berikutnya, warna-warni buah yang dijajakan menjadi agak kecokelatan. Kelihatannya tidak menarik ya, tapi jangan salah karena dia justru memikat banyak orang lewat keharumannya. Berbondong-bondong masyarakat menikmatinya sambil duduk ditepi jalan. Ya, ini cara paling asyik menikmati durian tanpa kuatir sekitar rumah beraroma duren.

Baca juga tentang : Kapul, buah eksotik Kalimantan

Nah, disaat bersamaan dengan musim durian ini muncullah buah lain yang termasuk keluarga durian juga. Ukurannya lebih kecil tapi warna kulitnya lebih kuning. Inilah dia si lai atau papakin. Selain warna kulitnya yang terang, perbedaan lain adalah duri si lai (lai, durian kuning, durian tinggang, durian pulu, nyekak, ruas, sekawi, dan pekawai adalah nama lain papakin) tidak setajam durian. Agak lunak gitu jadi ketika dipegang tidak menyakitkan tangan. Warna daging buahnya juga sangat cerah, oranye gitu. Cantik banget. Wanginya pun tak setajam kerabatnya. Ini yang saya suka.

Alhasil, saya membeli sebuah papakin. Tidak banyak sebab niatnya mau dibuat cake. Hah! kok repot-repot banget sih. Kenapa tidak langsung dimakan saja?

Hahahaha, sabar para pembaca. Saya memang suka iseng dan ingin mencoba sesuatu. Saya juga suka ngemil, tapi malas jajan keluar. Lebih enak bikin sendiri, rasanya lebih puas dan puas sekali.

Karena termasuk proyek eksperimen, maka saya mencari inspirasi plus resep di internet. Dari beberapa resep yang berseliweran, pilihan dijatuhkan pada resep bolu durian milik Mbak Diah Didi. Alasannya, bahan yang dipakai sedikit, jadi kalau gagal nggak terlalu nelongso, dan proses pembuatannya tidak rumit. Resep aslinya tidak menggunakan emulsifier, namun karena saya merasa masih belum jago maka perlu menambahkan emulsifier ke adonan. Tambahan lainnya berupa baking powder. Nah, ini dia resepnya

Cake Papakin

Bahan:
5 butir telur ayam
175 gram gula pasir
250 gram tepung terigu
1/4 sdt garam
1/2 sdt emulsifier
1/4 sdt baking powder
210 gram daging pampakin
75 ml santan siap pakai

Cara Membuat:
1. Haluskan pampakin dengan santan dengan menggunakan blender. Saring agar mendapatkan hasil yang halus. Sisihkan.
2. Ayak tepung terigu, garam, dan baking powder. Sisihkan.
3. Kocok telur, gula pasir, dan emulsifier hingga mengembang dan kental. Masukkan tepung terigu dan pampakin secara bergantian. Aduk balik hingga rata.
4. Tuang ke dalam loyang yang sudah diolesi mentega dan ditaburi tepung terigu. Panggang hingga matang sekitar 30 menit. Angkat lalu dinginkan. Sajikan.

Tip:
1. Saya memanggang cake papakin dengan menggunakan baking pan. Agar tidak menempel baking pan sudah diolesi oleh carlo yang terbuat dari 1 sdm minyak goreng dicampur 1 sdm tepung terigu. Gunakan api kecil saat memanggang. Pastikan lubang baking pan dalam keadaan tertutup. 5 menit menjelang kue matang, lubang dapat dibuka sepenuhnya.
2. Pastikan telur dan gula pasir dikocok hingga kental dan berjejak. Lama waktu penggocokan tergantung dari mikser atau alat yang dimiliki. Untuk mengetahui apakah adonan telah kental bisa dilakukan dengan mengangkat mikser sedikit ke atas. Jika adonan turun perlahan dan berbentuk seperti lipatan berarti sudah kental.
3. Teknik melipat balik berarti mengaduk dengan cara mengarahkan spatula dalam posisi rebah lalu naik ke atas menyusuri tepi wadah, masuk ke tengah adonan dan menyusuri tepi wadah lagi. Lakukan dengan pelan agar telur tidak turun.

Baca juga tentang:
Sapala, make over kue tradisional Banjar
Roti kawah






Komentar

  1. Denger namanya aja mah asing ya mba... Bentuknya ky apa sih... Kynya yumi gt di buat cake 😋😋

    BalasHapus
    Balasan
    1. di belakang ada sedikit penampakan papakinnya mbak. seperti durian tapi warnanya oranye. baunya nggak setajam durian. daging buahnya lebih sekel (apa ya, kokoh nggak lembek).

      Hapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung ke blog saya. Mohon tidak membagikan tautan disini. Silahkan meninggalkan komentar yang baik dan sopan.