6 Langkah Cara Menghadapi Badai di Selat Kotabaru


Siapa yang tidak suka diajak jalan-jalan? Saya sih suka. Malah suka banget. Makanya ketika diajak ke Kotabaru, tanpa berpikir langsung saya iyakan. Sama sekali tidak terbayang nantinya akan diterpa badai di selat laut. 

Waktu itu saya hanya fokus sama perjalanan darat yang akan memakan waktu 6 jam. Jadi apa saja barang dan jajanan yang perlu dibawa untuk menghibur hati selama duduk manis dikendaraan. 

Begitulah emak-emak, ransum selalu menduduki peringkat satu dalam daftar barang yang harus dibawa.
Esoknya, pagi-pagi buta kami sudah bersiap. 

Masih dalam keadaan setengah mengantuk, namun sudah mandi, saya memasukkan semua tas berisi pakaian dan tas makanan ke dalam mobil. Tak lupa bantal dan jaket untuk penghangat tubuh.

Ketika semua orang masih asyik dengan mimpinya, kami sudah merayapi aspal dingin. Enak juga sih, jalanan masih sepi. Tidak ada truk yang melintas. Jalanan seperti milik pribadi.

Pelan-pelan, rasa kantuk mulai menyapa. Maunya tidur lagi, tapi gagal total karena tidak biasa tidur di mobil. 

Lagi pula selalu ada yang menarik perhatian saya. Seperti beberapa motor yang disulap sedemikian rupa untuk mengangkut potongan besar kayu. Orang menyebutkan ojek kayu. Sayangnya saya nggak sempat memotret. 

matahari terbit
Matahari terbit yang indah

Kantuk pun seutuhnya pergi ketika di ufuk, langit mulai berwarna. Semburatnya sungguh indah. Ah, ini dia momen yang saya nanti-nanti. Matahari pun muncul. Menandakan kehidupan akan dimulai.

Satu per satu lampu di teras rumah penduduk mulai dipadamkan. Beberapa motor mulai mewarnai jalan raya bersama truk besar. Ruas jalan yang tidak seberapa lebar, seketika terlihat mengecil.

Untungnya permukaan jalan terbilang mulus. Tapi kondisinya langsung berubah ketika memasuki Sebamban. Sebenarnya daerah transmigran ini cukup maju, terlihat dari banyak rumah berukuran cukup besar di tepi jalan.

Tapi, entah mengapa jalan utamanya kerap rusak. Padahal 6 bulan lalu masih mulus tanpa jebakan. Sepertinya hujan yang turun membawa serta debu dan aspal. Oke, mari menikmati ayunan hingga memasuki Kintap.


Sawah, Laut, dan Pegununungan

Pelan-pelan pemandangan yang semula hanya rumah dan pepohonan, mulai berganti dengan deretan sawah hijau. Sejauh mata memandang hanya terlihat hamparan padi setinggi pinggang. Rasanya seperti di jalur pantura saja.

Seperti sebuah potongan film, tiba-tiba pemdangan berubah. Laut terlihat di depan mata. Deburan ombaknya tidak terlalu besar. Pantai landai sepertinya nyaman untuk disinggahi. Pantai berpasir cokelat itu sepi.

Lagi berkhayal bermain di pasir, tahu-tahu pemandangan sudah berganti lagi. Kali ini berupa deretan pegunungan meratus. Hutan lebatnya mulai terlihat dari kejauhan.

pegunungan meratus
Pegununan meratus


Saya jadi tidak sabar untuk melihatnya lebih dekat. Seperti anak kecil saja, setiap melewati sebuah kelokan jalan, saya menebak apakah pegununan itu akan semakin terlihat. Hore, akhirnya kelihatan juga. wah, bagus banget pegununangannya.

Badai di Selat Laut

Akhirnya kami memasuki Kabupaten Kotabaru. Mobil lalu meninggalkan kota menuju pelabuhan penyeberangan Tarjun. Sontak pemandangan yang terlihat hanyalah deretan pohon sawit dan ban berjalan milik Indocement.

ban berjalan milik indocement
Ban berjalan milik Indocement yang berada di tepi jalan

Beruntung jalannya bagus jadi tidak sampai 30 menit kami sudah tiba di pelabuhan penyeberangan Tarjun menuju pelabuhan Stagen di Kotabaru. Semua saya kira pelabuhannya besar seperti Bakaheuni, ternyata berbeda sekali. 

pelabuhan tarjun
Pelabuhan Fery Tarjun
Pelabuhannya tidak terlalu besar. Berada tepat disamping pelabuhan milik sebuah perusahaan pengolahan sawit.

Untuk yang pertama kali ke sini, seperti saya, pasti bingung karena tidak ada gapura atau tulisan pelabuhan Tarjun. Bangunan untuk penjualan tiket adalah tanda kalau kita sudah tiba di pelabuhan. 

loket penjualan tiket kapal laut
Loket penjualan tiket kapal fery di pelabuhan

Sebenarnya ada sebuah bangunan besar dekat loket. Namun sepertinya sudah tidak dipakai lagi. Para calon penumpang ferry lebih suka menunggu di dalam mobil atau duduk di pos dekat dermaga.

Ada dua kapal ferry yang bertugas mengantar jemput penumpang secara bergantian. Kedua kapal ini akan berangkat bersamaan dari masing-masing pelabuhan. Nanti kita ketemu di tengah selat ya.

Ketika itu langit sangat cerah. Udara juga cukup panas. Memang dikejauhan terlihat awan hitam. Saya mengira awan itu tidak mungkin menyapa kami. Tetapi saya salah.15 menit setelah meninggalkan pelabuhan Tarjun, tiba-tiba hujan turun. Makin lama makin deras. Angin semakin kencang. 

ruang vip di kapal fery
Ruang VIP yang juga difungsikan sebagai mushola



mushola di kapal fery
Bagian dalam mushola di ruang VIP

Bagian sisi kapal mulai basah. Cepat-cepat saya masuk ke dalam ruang VIP. Di dalam sudah ada sepasang suami istri yang sesekali berjalan dari satu pintu ke pintu lainnya.

Wajah sang istri terlihat cemas. Saya sendiri berusaha tenang. Tapi sebenarnya mata saya terus mengawasi keadaan. 

Mencoba mengingat dimana saja letak pelampung dan sekoci penyelamat. Pokoknya bersiap untuk segala kemungkinan deh.

Untuk mengusir kecemasan, saya mencoba memulai perbincangan. Terkuaklah mengapa sang Ibu begitu cemas. Rupanya ia pernah mengalami kejadian tak menggenakkan. Kapal ferry yang ditumpanginya terjebak badai, seperti saat ini. 

badai di selat laut
Badai membuat jarak pandang di selat laut terbatas


Kerasnya angin membuat kapal ferry terseret mundur. Meski mesin tetap menyala, kapal tak bisa bergerak maju. 

Kapal bahkan hampir menabrak sebuah tongkang. Beruntung musibah tidak terjadi. Kapal akhirnya bisa maju dan berlabuh dengan selamat.

kapal ferry
Kapal ferry lain menuju pelabuhan Tarjun
Meski tidak ada kapal tongkang di belakang, namun bukan berarti kapal ferry yang saya naiki aman-aman saja. Kerasnya angin dan lebatnya hujan seperti membuat kapal sedikit berputar. Saya hanya bisa pasrah dan berdoa.

Kecemasan baru sirna waktu melihat sebuah kapal mendekat. Pelan-pelan pelabuhan mulai terlihat. Alhamdulillah, badai sudah berlalu. 

penumpang setelah badai reda
Ketika badai mereda

Satu per satu penumpang langsung turun menuju kendaraannya masing-masing. Rasanya tak sabar untuk segera menginjak daratan lagi. Penyeberangan yang seharusnya memakan waktu 30 menit ternyata berlangsung selama 1 jam. 

pelabuhan stagen
Pelabuhan stagen di Kotabaru

Benar-benar perjalanan yang mendebarkan, bersyukur sekali tidak terjadi hal-hal yang tidak diharapkan. Dari perjalanan itu saya memetik beberapa pelajaran, khususnya ketika menghadapi badai di selat.

1.       Duduklah di bagian penumpang yang terletak di atas, jangan di dalam kendaraan. Berada di lantai khusus penumpang memudahkan memantau keadaan kapal dan kondisi laut.
2.       Amatilah dimana saja letak pelampung kapal. Warnanya yang oranye terlihat jelas. Pelampung biasanya terikat di sisi kanan dan kiri kapal.
3.       Amati dimana letak sekoci. Biasanya berada di bagian kanan dan kiri kapal. Pada kapal yang saya tumpangi, sekoci juga berada di bagian depan.
4.       Perhatikan tanda peringatan yang tertulis di kapal. Tulisan ini cukup jelas terbaca. Patuhi dan ingat baik-baik dimana letak titik kumpul penumpang.
5.       Ikuti arahan awak kapal jika terjadi musibah.
6.       Bersikap tenang dan tidak panik.


Demikian pengalaman saya, semoga bisa membantu teman-teman yang baru pertama kali menyeberangi lautan. 

Baca juga :
12 cara menyiasati bagasi agar tak kelebihan muatan
Perpustakaan nasional kami datang

Komentar

  1. Di manapun memnag kita harus sigap mencari tau emergency way ya mbak, untuk antisipasi. Safety first :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. benar mbak, kalau perlu tanya sama kru dimana letak sekoci dan lain-lain. demi keamanan.

      Hapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung ke blog saya. Mohon tidak membagikan tautan disini. Silahkan meninggalkan komentar yang baik dan sopan.