Menyusuri Ribuan KiloMeter Demi Melihat Keindahan Kain Sasirangan Kalimantan Selatan

Siapa coba yang mau melakukan perjalanan ini demi kain? jawabannya, saya dan teman-teman. Mungkin bagi banyak orang apa yang kami lakukan terbilang aneh. Bahkan tidak masuk akal. Tetapi, kegiatan ini sangat menyenangkan, sekaligus menantang untuk saya.

Maka, ketika rencana untuk melakukan perjalanan menyusuri 4 kota di Kalimantan Selatan diungkap, saya sungguh bersemangat. Rasanya tidak sabar untuk segera memulai perjalanan. Tetapi, harus sabar sebab harus mengurus perijinan.

Ketika rencana itu akhirnya menjadi nyata, saya girang bukan kepalang. Sejak malam semua perlengkapan disiapkan. Tidak banyak sih, hanya membawa pakaian pribadi, alat tulis, dan telepon gengam. Dan, siang itu setelah segala sesuatunya beres, perjalanan pun dimulai dari halaman Museum Lambung Mangkurat.

Dengan menggunakan sebuah mobil, rombongan yang terdiri dari 4 orang langsung berangkat. Sebelumnya kami telah berbagi tugas. Seorang mengemudi, saya sesekali mengabadikan jalan, seorang bertugas sebagai tenaga ahli, dan seorang lagi bagian keuangan plus surat menyurat.

Misi kami adalah mendokumentasikan keindahan kain sasirangan. Tekstil khas banjar ini semakin lama semakin menggeliat dan memperlihatkan keelokannya.

Mulus dan Gelap


Ada 4 kota yang akan didatangi, yaitu Kota Banjarmasin, Marabahan di Kabupaten Barito Kuala, Rantau di Kabupaten Tapin, dan Kandangan di Kabupaten Hulu Sungai Selatan.

Selama perjalanan, saya yang paling banyak bertanya. Maklum dari kami berempat hanya saya yang baru pertama kali menjelajah ke kota-kota di kabupaten Barito kuala, Tapin, dan Kandangan.

Sambil bertanya saya asyik mengamati jalan dan keadaan sekitar. Ruas jalan antara kota Banjarbaru dan Banjarmasin sangat rata. Lampu jalan pun setia menerangi jadi memudahkan saya melihat toko dan bangunan di kiri kanan jalan. Perjalanan menuju Kampung Sasirangan di Kota Banjarmasin terbilang lancar.

Kondisi jalan mulai berubah ketika memasuki perbatasan Kota Banjarmasin dengan Kabupaten Barito Kuala. Luas jalan sedikit menyempit selepas jembatan. Badan jalan pun tidak sepenuhnya mulus. Ada tambalan di sana sini. Meski begitu saya masih bisa menikmati perjlanan meski langit sudah gelap.
jalan gelap tanpa lampu menuju kota marabahan
Jalan minim penerangan menuju kota Marabahan (dokumentasi pribadi)

Minimnya penerangan jalan, membuat saya mengira lebar jalan tetap sama, maksudnya dapat dilakui dua mobil dan dua motor. Ternyata tidak. Ruas jalan tiba-tiba mengecil. Hanya bisa dilewati dua mobil berukuran kecil.

Jika tiba-tiba dari arah berlawanan datang kendaraan, keduanya harus sama-sama menepi agar bisa lewat. Karena  kendaraan yang kami pakai termasuk agak besar, aturan tersebut tidak bisa dipakai. Jadi begitu melihat ada mobil dari arah berlawanan, mobil harus berjalan di pimggir sekali. Nyaris menyentuh tanah. Kalau ketemu truk, sudah jalan di tanah saja supaya aman.

Seru juga loh. Berutung teman yang bertugas membawa kendaraan hapal kondisi jalan. Meski gelap dan jalan kecil tetap tidak masalah. Dia kelihatan santai, katanya daerah sini aman walau tanpa lampu. Hm, maksudnya apa ya? Begitu dijelaskan, bahwa tidak ada begal disepanjang jalan, saya hanya bisa melongo. Doa sudah pasti dipanjatkan agar perjalanan aman dan selamat.

Baiklah. Kota marabahan sudah di depan mata. Rasanya senang sekali melihat deretan lampu kota. Terbayangkan betapa leganya saya ketika melihat lampu nan terang benderang. Lebih lagi karena ini saatnya mencari penginapan untuk mengistirahatkan badan.

dinas pendidikan kota marabahan
Mampir ke Dinas Pendidikan di Marabahan (dokumentasi pribadi)

Kota di Tepi Sungai


Karena sudah larut saya segera beristirahat supaya besok segar. Beruntung saya tidak bangun kesiangan. Suara ramai dari para pedagang membuat saya terjaga. Rupanya tempat kami menginap berada di samping pasar.

Sebenarnya ingin sekali melihat keramaian, sayang asap kebakaran agak tebal. Lebih baik segera mandi dan sarapan. Lalu bersiap menuju Kantor Dinas Pendidikan Kota Marabahan untuk mengurus surat-surat.

Ternyata, Kota Marabahan itu terletak di tepi Sungai Barito dan di muara sungai Bahan. Ada sebuah pelabuhan untuk naik turun penumpang. Duh, sayang waktu sangat terbatas, kalau tidak, asyik juga mencoba naik perahu.


pelabuuhan kapal dan kelotok di kota marabahan
Pelabuhan dan sungai di Kota Marabahan (dokumentasi pribadi)

Jembatan Rumpiang



Setelah makan siang, perjalanan pun dilanjutkan. Cuaca cukup terik. Asap kebakaran lahan masih terlihat meski tidak terlalu tebal. Pelan-pelan kami meninggalkan kota Marabahan.

Jalan raya beraspal mulus membuat saya mengantuk. Di antara kantuk yang hampir berhasil memaksa mata terkatup, dikejauhan tampak rangkaian besi berwarna merah. Itu jembatan. Besar sekali.

Ternyata ini adalah jembatan Rumpiang. Jembatan besi yang membentang di atas sungai Barito, Kota Marabahan. Panjang jembatan mencapai 753 meter dengan bentang utama sepanjang 200 meter. Bentuknya yang melengkung membuatnya terlihat cantik.

Jembatan Rumpiang merupakan salah satu jembatan terpanjang di Kalimantan. Beruntung sekali bisa melintas di atasnya, walau tidak sempat berfoto dengan latas belakang jembatan rumpiang.


jembatan rumpiang di kota marabahan yang sangat cantik
Jembatan Rumpiang di Kota Marabahan (dokumentasi pribadi)

Setelah menempuh perjalanan selama 1 jam, kondisi jalan berubah. Aspal hitam menghilang digantikan batu-batu halus. Untung tidak ada lubang besar, jadi mobil tidak perlu bergoyang riang.

Kapal Penyeberangan


Kondisi jalan yang tanpa aspal sebenarnya pertanda kalau sudah dekat dengan pelabuhan penyeberangan. Semula sempat ragu karena dikejauhan terlihat sebuah jembatan yang sedang dikerjakan. Ternyata, tidak jauh dari proyek tersebut terdapat tempat penyeberangan.

Saya tidak bisa mengatakan pelabuhan karena tidak ada bentuk fisik pelabuhan. Hanya ada sungai dengan tepian yang melandai untuk naik dan turun kendaraan dari atas kapal.

Tidak ada tanda atau plang sebagai penanda. Tidak ada loket tiket juga. Hanya ada area terbuka untuk kendaraan mengantre, beberapa buah warung, sebuah mushola dan wc umum.

Lalu mana kapalnya?

Wow, rupanya kapal yang dipakai untuk menyeberang ukurannya kecil. Hanya bisa menampung dua buah mobil dan 10 buah motor. Bentuk kapalnya mirip kapal tunda. Mungkin karena sungai yang akan dilayari tidak terlalu besar.

Karena cuaca di luar sangat panas, kami sepakat menunggu di dalam mobil. Beberapa kali kapal bolak-balik mengantar penumpang. Giliran kami masih lama sebab motor selalu mendahului. Ditambah, kapal sempat mengalami kerusakan mesin dan terbawa arus sungai. Kapal baru bisa kembali ke tepian setelah dibantu merapat oleh kapal tunda lainnya.

kendaraan dinas museum lambung mangkurat banjarbaru
Kendaraan yang setia menemani (dokumentasi pribadi)


Mengasyikan juga melihat motor adu cepat masuk ke dalam kapal. Lalu sebuah mobil yang tidak bisa keluar dari kapal karena bagian knalpot terisi pasir setelah menghantam tepian sungai. Beruntung para petugas sigap membantu dan mobil bisa berjalan kembali.

Dari semua tontonan yang disuguhkan, saya paling takjub melihat tongkang lalu lalang di depan mata. Rupanya sungai yang tidak terlalu lebar itu bisa dilayari tongkang bermuatan batu bara. Kalau si tongkang lewat, seketika kapal menahan keberangkatannya.

kerjasama memandu mobil keluar dari dalam kapal penyeberangan
Kerjasama memandu mobil keluar dari kapal penyeberangan (dokumentasi pribadi)
Tidak terasa hari menjelang sore ketika akhirnya kami menyeberang. Oh ya, tarifnya Rp30.000 untuk mobil dan Rp10.000 untuk motor. Lega rasanya waktu meninggalkan tempat penyeberangan. Perjalanan pun dilanjutkan menuju kota Rantau, Kabupaten Tapin.

Perjalanan di kota Rantau, Kabupaten Tapin dan kota Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan bisa dikatakan lancar dan tanpa halangan. Jalan yang mulus dan lebar, membuat mobil dapat dipacu lebih cepat. Ruas jalan dalam kota Rantau dan Kandangan pun nyaris tanpa lubang.

Kegiatan pengumpulan data pun berlangsung lancar. Senang sekali melihat berbagai motif kain sasirangan yang dibuat oleh para pengrajin di kedua kota yang saling berdekatan.

Setelah tiga hari, kini saatnya kembali ke kota domisili dengan segudang informasi tentang kain sasirangan.

Baca juga :
rumah-bubungan-tinggi-rumah-tradisional
oase-di-tengah-kota-banjarmasin
menara-pandang-33-banjarbaru




Komentar

  1. Saya menunggu artikel lanjutannya tentang proses pembuatan batik sasirangan. Apakah akan dibuat juga artikelnya?

    BalasHapus
  2. Terima kasih mbak Lasmicika sudah mampir ke blog saya, sebenarnya proses pembuatan kain sasirangan sudah pernah saya unggah. Mbak bisa membacanya di blog ini juga. terima kasih.

    BalasHapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung ke blog saya. Mohon tidak membagikan tautan disini. Silahkan meninggalkan komentar yang baik dan sopan.

Postingan populer dari blog ini

Cara Membuat Kain Sasirangan Dengan Pewarna Alam

Ke Banjarmasin Naik Transportasi Umum Yang Adem dan Nyaman? Ya, Pakai BRT dong.

Asyiknya Menumpang Travel ke Bandung