Madu kelulut, si manis dari hutan

Peternakan lebah trigona kelulut
Peternakan lebah trigona alias kelulut (foto: koleksi pribadi)

Sebuah perjalanan tak sengaja mengantarkan saya pada sekelompok kelulut. Mereka berdiam di rumah berbentuk kotak. Dibalik tubuhnya yang kecil, makhluk ini memiliki rahasia yang baik untuk kesehatan manusia.


Ketika senja tiba, cuaca cukup bersahabat. Langit biru tanpa noda. Angin pun bertiup pelan. Menghadirkan kesejukan untuk semua makhluk.

Sayangnya, saya tak bisa menarik lebar mukut untuk membentuk sekadar senyum kecil. Saya kecewa. Sungguh, saya kecewa.

Perjalanan ke kawasan Cempaka, Kota Banjarbaru yang dilakukan sore itu tak memberikan hasil. Tempat yang ingin saya datangi, karena digadang-gadang memiliki sejumlah permainan yang mengandalkan hijaunya pepohonan, ternyata sudah tak lagi dikelola.

Sebuah Perubahan

Terpaksa deh putar balik. Cuma mau langsung pulang kok gimana gitu. Perjalanannya lumayan jauh, dari rumah mambutuhkan waktu 45 menit menggunakan sepeda motor. Mana haus lagi. Stok air minum sudah habis.

Akhirnya dengan langkah gontai, saya meninggalkan kawasan wisata yang sudah ditinggalkan pengunjung. Tujuannya ke warumg yang ada di dekat pintu gerbang, sekitar 2 km dari tempat saya memarkir si merah.

Untuk menghibur hati, sengaja si merah dipacu dalam kecepatan rendah. Kebetulan jalan sepi. Jadi saya anggap saja lagi naik becak biar bisa melihat ke kanan dan ke kiri. 

Baca juga : riwayat rumah pohon

Eh, ternyata di sini ada Sekolah Dasar. Oh ada masjid juga. Rumah penduduknya pakai kayu dan berbentuk panggung, khas rumah banjar. 
Nah itu dia warungnya. Rupanya warung ini belum lama dibuka. Kayunya masih berwarna cokelat muda. Lucunya warung ini punya dua lantai. Bagian bawah yang difungsikan sebagai warung terdapat sebuah kulkas, etalase kaca tempat meletakkan kartu perdana untuk telepon gengam. Di atas etalase ada wadah plastik berisi roti. Lalu ada toples untuk kacang goreng dalam kemasan plastik. Di sebelah etalase, ada meja panjang dengan beberapa kotak kayu. Salah satu kotak berisi telur buyung puyuh yang telah dikemas plastik.

Tanpa banyak cakap, saya membeli sebuah minuman botol. Sang pemilik warung meminta saya untuk mengambil sendiri di dalam kulkasm ia tengah sibuk menuang cairan berwarna keemasan ke dalam botol plastik kecil. Matanya tak lepas mengawasi cairan agar tak tumpah. Setelah selesai, dipasangnya label merek dengan senyum puas.


Alat penampung madu kelulut
Alat untuk menampung madu kelulut (foto: koleksi pribadi)

Kesibukannya bikin saya penasaran. Sebenarnya saya tahu sih cairan itu madu. Hati menggatakan begitu. Hehehehe. Stt. Tak perlu jadi cenayang kok buat tahu itu madu. Tapi darimana sumber madunya ya?

Dari pada penasaran, mending tanya langsung ya kan. Biar nggak jadi jerawat dan nggak tersesat di jalan hehehehe. 

Maka tidak lama berselang, saya dan pemilik warung sudah terlibat dalam percakapan. Kebanyakan sih saya yang nanya. Entah bosan menjawab cecaran pertanyaan atau kasian sama saya yang penasaran soal sarang lebah, akhirnya pemilik warung mengajak ke peternakan lebahnya.


Sarang lebah kelulut
Sarang lebah kelulut (foto: koleksi pribadi)

Kenalan sama kelulut

Sekitar 50 meter dari warung, kami tiba di perkebunan karet. Tepat di bawah tiap pohon terdapat kotak kayu. Hm, kok kecil ya? Bukannya rumah lebah lebih besar? Dan, saya nggak melihat seekor lebah pun yang terbang.

Dengan santai pemilik warung meminta saya mendekat ke kotak kayu yang berada di depannya. Ia lalu membuka tutup kotak berlapis plastik tebal. Woila, ada banyak bulatan-bulatan di sana. Beberapa serangga hitam kecil tampak hilir mudik.

Ternyata makhluk hitam itulah lebah penghasil madu. Namanya lebah trigona alias kelulut. Beda banget sama lebah madu yang umum kita kenal. Si kelulut memiliki ukuran tubuh kecil dan berwarna hitam. Dia juga tidak memiliki sengat. 

Kotak sarang lebah trigona
Kotak sarang lebah kelulut (foto: koleksi pribadi)

Kenalan sama kelulut

Sekitar 50 meter dari warung, kami tiba di perkebunan karet. Tepat di bawah tiap pohon terdapat kotak kayu. Hm, kok kecil ya? Bukannya rumah lebah lebih besar? Dan, saya nggak melihat seekor lebah pun yang terbang.

Dengan santai pemilik warung meminta saya mendekat ke kotak kayu yang berada di depannya. Ia lalu membuka tutup kotak berlapis plastik tebal. Woila, ada banyak bulatan-bulatan di sana. Beberapa serangga hitam kecil tampak hilir mudik.

Ternyata makhluk hitam itulah lebah penghasil madu. Namanya lebah trigona alias kelulut. Beda banget sama lebah madu yang umum kita kenal. Si kelulut memiliki ukuran tubuh kecil dan berwarna hitam. Dia juga tidak memiliki sengat. 

Sarang lebah kelulut
Pintu masuk menuju sarang lebah kelulut (foto: koleksi pribadi)

Alat pengambil madu

Menurut pemilik warung untuk memanen madu si kelulut sebenarnya nggak sulit. Cukup menggunakan alat penyedot madu yamg dibuat sendiri. Supaya cepat, alat penyedot madu telah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga dapat dioperasikan dengan menyambungkannya ke akki motor.

Kalau cuma mau nyicip sih nggak perlu bantuin mesin, cukup sedotan saja. Tusukkan ke salah satu bulatan lalu hisap deh. Asyik bisa nyoba madu asli langsung dari sarangnya.

Memanen madu lebah kelulut
Memanen madu kelulut (foto: koleksi pribadi)

Asam manis

Ternyata rasa madu si kelulut enak lho. Nggak manis banget, ada rasa asamnya juga. Enak banget. Apalagi kalau dicampur ke dalam teh hangat. Beuh, mantap banget.

Meski ukuran sarangnya terbatas, madu dari sarang bisa dipanen dalam jarak waktu tak lama setelah panen sebelumnya. Hanya sebulan saja, dengan catatan saat itu musim panas dan banyak sumber pakan di sekitar sarang.

Yup, si kelulut ini memang menyukai bunga-bunga, terutama yang berwarna kuning. Pohon favoritnya adalah asteria, air.mata pengantin, akasia, pinang, dan kelapa. 


Madu lebah kelulut
Mengemas madu kelulut (foto: koleksi pribadi)

Oh ya, ada syarat lain yang harus diperhatikan kalau ingin memelihara kelulut. Pastikan di dekat sarang ada pohon yang mengandung getah, seperti nangka, mangga, dan rambutan yang dipakai untuk memperbaiki sarang.

Baca juga : Menyusuri ribuan kilometer demi melihat keindahan kain sasirangan.

Karena asyik mencicipi madu sambil mendengarkan penjelasan pemilik warung soal kelulut pwliharaannya, saya sampai nggak sadar kalau matahari sudah semakin tergelincir. Warna langit mulai berubah, tidak lagi putih namun ada semburat warna kuning dan merah. Saya harus cepat-cepat pulang kalau tak mau kemalaman. Akhirnya denga mengucapkan terima kasih, saya meninggalkan peternakan kelulut dengan gembira. Kali ini senyum lebar menghias wajah saya.

Mafu kelulut siap jual
Madu kelulut siap jual (foto: koleksi pribadi)

Komentar

  1. Aku slalu nyetok madu di rumah. Suka dengan berbagai jenis madu, nth itu madu hitam yg pahit, yg rasanya manis, manis asam kayak kelulut, kebanyakan madu EMG enaaak kok.

    Tp aku blm pernah makan madu secara lgs gitu mba.pgn iiih, penasaran jg gimana madu diproses dr awal :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lebih asyik madu yang langsung dari sarangnya mbak. Rasanya gimana ya? Sama sih cuma sensasinya lebih seru.

      Hapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung ke blog saya. Mohon tidak membagikan tautan disini. Silahkan meninggalkan komentar yang baik dan sopan.

Postingan populer dari blog ini

Cara Membuat Kain Sasirangan Dengan Pewarna Alam

Ke Banjarmasin Naik Transportasi Umum Yang Adem dan Nyaman? Ya, Pakai BRT dong.

Review: Vitalis Body Wash Hijau dan Body Positivity