Ke Bambangin Barito Kuala lewat Jalan Darat atau Sungai Barito

6 Langkah Menyiapkan Anak Kembali Ke Sekolah



Cepat atau lambat anak-anak akan kembali ke sekolah. Tentu saja kegiatan belajar mengajar ini akan dilakukan dengan aturan baru yang mengutamakan kesehatan dan keselamatan siswa. Tugas orang tua adalah mengenalkan dan membiasakan perubahan baru tersebut pada anak-anak agar mereka terbiasa dengan penerapan ptotokol kesehatan di sekolah.


Beberapa hari ini media elektronik ramai memberitakan tentang proses penerimaan murid baru. Keriuhan yang terjadi lebih menyorot pada usia didik siswa. Anak dengan umur lebih tinggi mendapat prioritas di sekolah dekat tempat tinggalnya.


Saya memang belum ikut serta dalam proses pencarian sekolah, namun rasa cemas tetap melanda. Cepat atau lambat, anak-anak pasti akan kembali ke sekolah, kembali belajar secara langsung, kembali bertemu dengan teman-temannya.


Kerinduan sudah pasti dirasakan anak-anak. Saya bayangkan, betapa hebohnya  acara tukar menukar cerita antar mereka. Meski selama ini mereka bisa tetap bersua melalui tatap muka daring, tapi rasanya jauh lebih mengasyikan bertemu langsung. Benarkan? Karena saya pun merasa demikian. 


Belajar Dari Rumah


Seperti saya dan teman-teman ketahui, pandemi memang mengubah cara belajar anak-anak. Semula anak-anak belajar melalui tatap muka langsung, namun secara tiba-tiba kegiatan belajar berubah menjadi belajar dari rumah secara daring. 


Ternyata tidak mudah loh. Saya harus terus menerus mengingatkan anak untuk bangun dan bersiap mengikuti pelajaran. Paling sering terjadi si anak belum mandi dan langsung masuk kelas. Duh, saya jadi gemes.




Perubahan cara belajar ini tidak cuma di Indonesia, namun di negara lain  mengalami hal yang sama. Sayangnya, tidak ada yang tahu kapan keadaan berubah. Kapan situasi akan kembali aman. 


Kuota dan Pelajaran


Kalau melihat statistik jumlah penderita, hati tambah ngilu. Angkanya masih bertambah. Tidak salah dong jika saya lebih tenang saat anak belajar dari rumah. Memang sih jatah pembelian kuota bertambah, namun saya bisa mengawasi anak di rumah sambil mengerjakan pekerjaan rumah. Serta memastikan anak dalam keadaan baik-baik saja.


Meneruskan kegiatan belajar dari rumah memang bisa menjadi solusi, namun patut diingat bahwa tidak semua anak dapat melakukannya. Penyebabnya tentu beragam, baik karena ketiadaan telepon pintar, keterbatasan dana untuk membeli paket data, hingga kebingungan orangtua saat melihat pelajaran sang anak yang lebih sulit dibanding masanya dulu. 


Bagian terakhirlah yang membuat saya pusing kepala. Pelajarannya kok susah sekali ya? Bagaimana cara menyelesaikannya. Meskipun ikut memperhatikan materi di kelas daringnya, kok tidak terlalu membantu, terutama pelajaran matematika. Huah, benar-benar bikin stres.


Kembali ke Sekolah?


Level stress sempat turun saat anak libur sekolah. Namun tidak lama kemudian angkanya naik lagi waktu mendengar Kemetrian Pendidikan dan Kebudayaan menyatakan tahun pelajaran baru dimulai bulan Juli. Dalam pernyataannya Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mengatakan bahwa sekolah di zona hijau boleh menjalankan aktivitas belajar mengajar dengan menerapkan protokol kesehatan dan peraturan lainnya.


Duh, bagaimana ini!. Situasi belum pulih benar. Apa tidak menimbulkan masalah kesehatan kalau anak-anak harus ke sekolah? Apa yang harus saya persiapkan saat anak kembali ke sekolah?




Pertanyaan itu mendapat jawaban saat saya mengikuiti webinar "Back to School After Pandemic" ang digagas oleh Indiva Humania dengan Mbak Watiek Ideo sebagai narasumber. 


Sebagai pembuka mbak Watiek, yang dikenal sebagai penulis buku cerita anak, menyatakan bahwa orangtua  bertugas untuk mengajarkan anak-anak perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) serta menjalankan protokol kesehatan. Diharapkan anak tidak kaget saat kembali bersekolah dengan aturan baru. 


Sekarang, Besok, atau Lusa?


Lebih lanjut Mbak Watiek menyebutkan bahwa mengenalkan perilaku hidup sehat pada anak harus dilakukan sejak sekarang. Kenapa tidak nanti saja ketika mau masuk sekolah?




Ho ho ho, Mengajak anak-anak untuk mencuci tangan dengan sabun setelah beraktivitas di luar rumah butuh perjuangan. Saya saja harus terus menerus mengingatkan putri saya, walaupun sabun cuci tangan sudah tersedia di keran depan. 


Apalagi mengajarkan anak-anak yang berusia dini, pasti tidak mudah ya. Belum lagi soal memakai masker dan menjaga jarak dengan orang lain. Sudah  terbayang tantangannya ya.


Yuk Ajarkan PHBS Pada Anak


Wah jangan mumet dulu. Tarik napas dalam-dalam lalu hembuskan. Kalau sudah tenang yuk kembali fokus pada anak.


Ingatkan, ingatkan, ingatkan. Selalu. Biarpun dibilang Ibu cerewet, jangan lelah untuk mengingatkan anak-anak. Kita bisa mengingatkannya sambil bernyanyi, bercanda, atau bermain. 




Kalau pun bingung harus memulai dari mana, Mbak Watiek memberi sejumlah langkah yang bisa dilakukan orangtua dalam mengenalkan dan menerapkan PHBS pada anak-anak.


  1. Paling utama adalah menyiapkan mental orangtua dalam memberikan informasi tata cara menjalani PHBS pada anak. Lalu berikan informasi dan tata cara PHBS sesuai jenjang usia anak ya. Gunakan kata-kata yang sederhana supaya anak tidak kebingungan.

  2. Coba beri pertanyaan terbuka terkait kebersihan dan aturan protokol kesehatan yang berlaku saat ini. Dengarkan setiap jawaban anak dengan baik sehingga ia merasa nyaman dan aman.

  3. Jangan berbohong. Utamakan kejujuran saat menjelaskan masalah dan perbedaan perilaku yang terjadi di masyarakat. Contoh paling mudah adalah masih adanya anak bermain di luar rumah padahal kita melarang anak keluar rumah. 

  4. Sederhanakan pikiran saat menyampaikan dan menerangkan informasi seputar corona pada anak sehingga ia tidak bingung.

  5. Berikan energi posiif dan harapan bahwa pandemi pasti akan berakhir. 

  6. Mulai menjelaskan informasi terkait protokol kesehatan yang harus dijalankan, termasuk saat di sekolah nanti.

  7. Menjalankan protokol kesehatan di rumah. Dengan menyediakan sabun cuci tangan, menyediakan masker, dan mandi setelah pergi atau berkegiatan di luar rumah.


6 Langkah Mempersiapkan Anak Kembali ke Sekolah


Untuk mendorong anak mempraktekkan protokol kesehatan, saya mengajak anak menyiapkan sabun cuci tangan di teras. Ia bebas memilih warna dan keharuman yang diinginkan. Selain itu saya sengaja meletakkan kotak masker di tempat yang mudah dilihat dan dijangkau anak. 


Meski telah melakukan sejumlah langkah pengenalan protokol kesehatan, orangtua dapat melakukan langkah tambahan apabila anak benar-benar harus kembali ke sekolah. Ada 6 langkah yang bisa dilakukan orangtua dalam rangka persiapan anak-anak kembali ke sekolah


  1. Memantau informasi penyebaran corona.

Pastikan kasus penyebaran corona secara keseluruhan benar-benar terkendali. Informasi tersebut dapat diketahui dari berbagai media elektronik yang selalu diperbaharui oleh pemerintah setiap hari. 

  1. Jalin komunikasi dengan sekolah.

Jangan ragu bertanya pada pihak sekolah untuk memastikan apakah sekolah telah menyediakan dan memiliki sarana dan prasarana kebersihan yang diperlukan guna menjalankan protokol kesehatan. Orangtua juga bisa membekali anak-anak dengan hand sanitizer.

  1. Analisa risiko.

Ajak anak-anak untuk menganalisa risiko yang akan terjadi ketika kembali ke sekolah. Misalnya, apa yang akan dilakukan saat bertemu teman-temannya di sekolah. Dengan demikian anak-anak tahu risiko yang timbul jika melanggar protokol kesehatan. 

  1. Simulasi belajar di sekolah.

Jangan ragu menanyakan soal simulasi belajar di sekolah sebelum proses belajar berlangsung. Diharapkan dengan adanya kegiatan simulasi, anak memiliki gambaran nyata aturan dan proses belajar yang akan dijalaninya.

  1. Pastikan anak untuk patuh menjalani protokol kesehatan. 

Koordinasi dengan guru dan sekolah sangat diperlukan untuk membantu memantau anak di sekolah agar tetap patuh menjalankan protokol kesehatan yang berlaku.

  1. Terangkan tentang perbedaan.

Terangkan pada anak bahwa setiap siswa memiliki latar belakang keluarga dan pemahaman yang berbeda. Hal ini berkaitan dengan perbedaan tata cara protokol kesehatan atau perilaku hidup sehat yang berlaku di setiap keluarga.


Sebagai penutup, narasumber membagikan kunci sukses mengenalkan protokol kesehatan pada anak-anak, yaitu:

  1. Memberilan teladan pada anak-anak.

  2. Memberikan apresiasi atas keberhasilan anak dalam menjalankan protokol kesehatan.

  3. Gunakan cara yang menyenangkan saat menjelaskan protokol kesehatan ke anak-anak.

  4. Konsisten pada peraturan yang telah dibuat.






Komentar