Ke Bambangin Barito Kuala lewat Jalan Darat atau Sungai Barito

Melihat Jembatan Barito, Ikon Kota Banjarmasin

Jembatan barito
Jembatan barito (foto: pribadi)


Setiap kota memiliki bangunan yang menjadi ciri khas. Tak terkecuali kota Banjarmasin dengan jembatan barito nan memesona. Bangunan yang membelah sungai Barito ini menjadi penghubung sekaligus tempat wisata yang menarik. Dari atas kita bisa melihat kapal tongkang dan jika beruntung bisa melihat bekantan.


Sudah lama sekali saya tidak main ke kabupaten Barito Kuala. Terakhir kesana tahun 2019 waktu meneliti kain sasirangan bersama tim Museum Lambung Mangkurat.


Kala itu perjalanan dilakukan secara estafet. Dimulai dari kota Banjarmasin, kabupaten Barito Kuala, Kabupaten Tapin, dan berakhir di Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Karena penelitian di kota Banjarmasin berakhir sore, kami baru bisa melanjutkan perjalanan pada malam hari, jadi nggak bisa melihat keindahan jembatan barito yang tersohor itu.


Nah kali ini, tanpa rencana apa-apa, saya dan keluarga memutuskan untuk melihat jembatan Barito. Rencananya kami akan melintas saja lalu putar balik kembali ke rumah. 


Supaya tidak kehausan, sudah pasti membawa bekal makan dan minuman. Persiapan lain tidak ada soalnya perjalanan tidak terlalu jauh. Hanya 50 km saja.


Oke. Semua bekal sudah siap. Yuk kita mulai perjalanannya.


Rute ke jembatan barito
Rute perjalanan


Rute perjalanan kali ini akan melalui jalan Ahmad Yani hingga km 21 baru berbelok menuju Jl Gubernur Syarkawi yang tersambung dengan Jl Trans Kalimantan.


Meski jaraknya lumayan jauh, karena suasana jalan yang tidak terlalu ramai dan lumayan mulus, sekitar 1 jam kemudian kami sudah sampai di daerah Barito Kuala. 


Walau siang hari, matahari tidak terlalu terik. Mata pun tak terlalu silau berkat pohon-pohon yang ada di kiri kanan jalan. Kontur jalan yang lurus mulai sedikit menanjak. Tiba-tiba, woila, jembatan Barito sudah di depan mata. 


Sejarah Jembatan Barito


Semakin mendekati jembatan, saya jadi deg-degan. Bukan apa-apa, saya masih teringat sempitnya badan jalan di sana.


Yup, lebar jalan memang hanya 10.37 meter, cukup dilalui oleh dua kendaraan saja. Kalau kebetulan berpapasan dengan truk ya akhirnya mepet banget ke sisi jembatan.


Sudah sempit, masih ada pengendara roda dua yang memarkir kendaraannya di tepi jembatan. Sebenarnya pemerintah daerah sudah menyiapkan area parkir di ujung jembatan, namun tidak semua mau menyimpan kendaraannya di sana. Memang sih si pemilik ada di sekitar kendaraannya, lagi asyik foto-foto atau melihat kapal yang hilir mudik di sungai Barito.


Sebenarnya hal ini lumayan mengganggu, tetapi mau tidak mau harus dimaklumi sebab inilah ikon kota Banjarmasin.


Spesifikasi jembatan barito
Spesifikasi jembatan barito


Dari laman wikipedia, saya mengetahui sekilas sejarah jembatan berwarna kuning ini. Jembatan dibangun di atas sungai Barito dan menghubungkan Provinsi Kalimantan Selatan dengan Kalimantan Tengah.


Jembatan dibangun tahun 1993. Empat tahun kemudian, tepatnya tahun 1997 jembatan gantung tersebut diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 24 April 1997.


Beroperasinya jembatan Barito tentu saja disambut gembira oleh masyarakat. Iya dong, sekarang jadi lebih mudah kalau mau ke seberang. Tinggal wus, tidak perlu berganti moda transportasi lain.


Waktu tempuh pun lebih cepat. Hm, tapi saya penasaran sama transportasi yang dulu dipakai menyeberang sungai Barito? Apakah pakai kapal boat atau kapal feri seperti di Kotabaru?


Tercatat di Muri


Pada masanya, jembatan yang terbuat dari rangka besi ini tercatat sebagai jembatan gantung terpanjang di Museum Rekor Indonesia (MURI).


Bayangkan, jembatan Barito memiliki panjang 1.082 meter. Jarak sepanjang itu terdiri dari jembatan utama dengan panjang 902 meter dan jembatan pendekat sepanjang 180 meter.


Kalau dicermati, badan jembatan tidak semuanya melintas di atas sungai Barito. Sepanjang 800 meter jembatan berada di atas sungai dan 200 meter berada di atas Pulau Bakut.


Sungai barito
Sungai Barito (foto: pribadi)


Pulau Bakut ini istimewa loh karena merupakan daerah konservasi Bekantan. Kalau beruntung, dari tepi.jembatan bisa melihat hewan unik ini tengah bergelayutan di atas pohon.


Kalau pun Bekantan tak terlihat, masih ada pemandangan lain yang bisa dinikmati yaitu tongkang dan kapal pengangkut lainnya.


Kapal-kapal berukuran besar itu bisa bebas lalu lalang tanpa kuatir tersangkut karena ketinggian ruang bebas jembatan utama mencapai 15-18 meter.


Saya jadi ingat penyeberangan di sungai Puting, betapa saya takjub melihat tongkang mondar-mandir sambil membawa muatan. Asyik loh buat menghilangkan jenuh menunggu kapal penyeberangan datang.


Tidak salah kalau masyarakat dan wisatawan kerap menghabiskan sore di jembatan ini. Lain kali saya juga mau menikmati sore dari atas jembatan Barito. Tentunya setelah pandemi berlalu. 


Baca juga:

sasirangan dari kalimantan selatan

Menyusuri ribuan kilometer demi melihat kain sasirangan





Komentar