Pengalaman Pertama Mengikuti Kelas Make Up Daring Bersama Wardah dan FBB

Utamakan Bahan Pokok Bukan Rokok

Berhenti merokok dapat meningkatkan kualitas hidup seseorang dan lingkungan terdekatnya. Uang pembelian rokok dapat digunakan membeli kebutuhan pokok rumah tangga.

Entah mengapa pagi itu saya merasa gelisah. Rasanya hati tak karuan seperti akan terjadi sesuatu. Entah apa. Untuk mengusir rasa gundah, saya mencoba membersihkan rumah.

Baru saja meletakkan sapu, telepon gengam berdering. Secara naluri saya merasa ada sesuatu yang tidak beres. Dan benar saja, Kakak tertua masuk rumah sakit.

Duh, seketika kecemasan melanda. Apa yang terjadi? Selama ini kondisi kesehatan Kakak baik-baik saja. Memang berat badan Kakak berlebih karena senang makan dan minum kopi. Setelah itu asyik menikmati rokok sambil berbincang atau bekerja.

puntung rokok
Foto : koleksi pribadi

Setelah bolak-balik berusaha menghubungi Kakak ipar, akhirnya saya mendapat kabar. Tadi pagi Kakak ditemukan pingsan di teras setelah berolahraga. 

Seorang tetangga yang melihat Kakak laki-laki saya tergeletak langsung mencari Kakak ipar yang tengah berbelanja. Di antar tetangga, Kakak segera dilarikan ke rumah sakit.

Setelah beberapa jam di ruang gawat darurat, kondisi Kakak mulai membaik. Dia sudah sadar dan bisa berkomunikasi.

Antara lega dan sedih. Lega karena kakak sudah sadar namun sedih karena tidak mendampingi. Tidak ada yang bisa saya lakukan selain berdoa dan berkomunikasi dengan keluarga di sana.

Menjelang sore, Kakak ipar menjelaskan hasil pemeriksaan dokter. Ternyata Kakak terkena serangan jantung.

Deg. Seketika saya teringat pesan dokter yang merawat almarhumah Ibu. Dokter sempat mengingatkan agar Kakak mengubah pola hidupnya, terutama menghentikan kebiasaan merokok, karena berpotensi terkena penyakit jantung.

Sayangnya Kakak mengabaikan pesan tersebut. Kebiasaan merokoknya jalan terus. Dalam sehari bisa menghabiskan dua bungkus rokok. Saya sampai menjulukinya lokomotif  berjalan karena asap seperti tak pernah berhenti keluar dari sela-sela bibirnya.

Meski kerap disindir, toh Kakak tetap bertahan. Saya sampai hapal alasan yang dilontarkannya setiap kali saya berbicara soal rokok. “Mas nggak enak kalau nggak merokok. Mulutnya pahit.”

Penyakit Yang Timbul Akibat Merokok

Mendengar diagnosa dokter, saya berusaha mencari tahu apa yang menyebabkan seseorang terkena serangan jantung. Menurut data dari British Heart Foundation, bahan kimia yang terdapat pada rokok dapat melekat pada dinding arteri.  Akibatnya sistem kerja arteri yang membawa darah ke jantung tersumbat dan dapat menyebabkan serangan jantung.

Saya tidak membayangkan apa jadinya kalau kemarin tidak ada yang melihat Kakak pingsan. Membayangkannya saja tidak berani.  

Setelah dirawat selama 5 hari, 2 hari di ICU dan sisanya di ruang perawatan, akhirnya Kakak diizinkan pulang. Dokter membekalinya dengan obat-obatan dan larangan untuk merokok.

katakan tidak pada rokok
Sumber : WHO

 

Kali ini Kakak sepenuhnya mematuhi larangan dokter. Pola hidupnya berubah drastis. Semua makanan berlemak tak lagi disentuhnya. Begitu juga batang-batang rokok dan kopi.

Sebagai gantinya Kakak mengonsumsi makanan sehat seperti sayuran, ubi rebus, dan kentang rebus. Lauk pauk pun diolah dengan cara direbus atau dikukus. Kalau pun menikmati ayam goreng harus direbus dulu agar lemaknya hilang. Baru digoreng dengan minyak tumbuhan.

Melalui telepon, Kakak sempat mengeluhkan makanan dan kerinduannya pada kopi. Saya tahu pasti tidak mudah melepas kebiasaan lama. Tetapi saya dan keluarga terus meyakinkan bahwa Kakak bisa melakukannya.

Dari kejadian yang menimpa Kakak, penyakit jantung hanyalah satu dari beberapa penyakit yang timbul akibat merokok. Penyakit mematikan lain yang menghantui para perokok adalah:

  1.  Kanker paru. Gejala awal yang tampak tidak terlalu khas, hanya batuk yang hilang timbul. Lama kelamaan batuk semakin berat disertai penurunan berat badan dan sesak napas.
  2. Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) yang menimpat perokok pasif. Ditandai dengan batuk berdahak lalu lama kelamaan disertai sesak napas yang makin lama makin berat.
  3. Stoke
  4. Penyakit buerger ditandai dengan nyeri hebat di lengan dan tungkai disertai pembusukan pada ujung-ujung jari. Penyakit ini menyerang perokok pasif.
  5. Gangguan kesuburan baik pada laki-laki dan perempuan.
  6. Age-related macular degeneration (ARMD) yang menyebabkan kelainan pada retina mata sehingga menurunkan fungsi penglihatan.
  7. Bayi lahir prematur dan kecerdasan rendah. Asap rokok yang mengenai ibu hamil akan mengganggu suplai oksigen dari ibu ke janinnya. Akibatnya perkembangan janin terganggu dan bisa menyebabkan kelahiran prematur atau lahir dengan berat badan di bawah normal.

Jumlah Perokok di Indonesia

Sayangnya, deretan penyakit mematikan yang mengintai para perokok aktif masih tidak membuat takut. Sebaliknya, konsumsi rokok Indonesia cenderung bertambah.

Berdasarkan data yang dikutip dari Tobacco Atlas tahun 2012, konsumsi rokok di Indonesia naik dari 182 milyar batang pada 2001 menjadi 260,8 milyar batang pada 2009. Jumlahnya fantastis ya.

Kenaikan ini terjadi karena rokok mudah didapat. Para perokok bisa membeli rokok di kios, warung, atau minimarket.

Yang menyedihkan larangan penjualan rokok untuk usia di bawah 18 tahun, sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 109 Tahun 2012 tentang pengamanan bahan yang mengandung zat adiktif berupa produk tembakau bagi kesehatan, kurang dipatuhi. Minimnya pengawasan membuat anak di bawah umur dapat membeli rokok dengan mudah.

Jumlah perokok muda
Sumber : Databoks


Dampaknya jumlah perokok pemula naik dari 7,2 persen pada tahun 2013 menjadi 9,1 persen pada 2018. Tidak hanya itu masyarakat umum yang terpapar asap rokok pun ikut bertambah.

Pada tahun 2007 sebesar 40.5% penduduk semua umur terpapar asap rokok di dalam rumah. sementara tahun 2013 jumlahnya menjadi 96 juta jiwa.


jumlah perokok pasif
Sumber : Kemenkes


Lebih Penting Rokok Ketimbang Kebutuhan Pokok

Kembali ke persoalan keuangan, naiknya konsumsi tembakau tentu berakibat pada pengeluaran masyarakat untuk membeli rokok.

Hal ini terungkap dalam obrolan di #RuangPublikKBR yang diselenggarakan oleh KBR. Kali ini mengusung tema “Pandemi: Kebutuhan Pokok vs Kebutuhan Rokok” menghadirkan Nurul Nadia Luntungan dan M. Nur Kasim.

dokter dan peneliti cisdi
Sumber : drisanacenter.com


Nurul Nadia Luntungan, peneliti CISDI mengungkapkan murahnya harga rokok secara tidak langsung mendorong perokok mengutamakan kebutuhan rokok dibanding makanan. "Harga rokok lebih murah dari mi, padahal masyarakat mengganggap makan instan tersebut sudah paling murah."

Saya terkesima mendengar penjelasan tersebut. Semakin menyedihkan karena masih banyak masyarakat yang lebih mengutamakan membeli rokok dibanding kebutuhan pokok, seperti susu dan telur.

Sangat disayangkan karena hal ini dapat memengaruhi kesehatan dan kecerdasan anak. Sementara saat ini kasus stunting di berbagai daerah masih memprihatinkan. 

Pekerjaan rumah terkait stunting masih belum tuntas, sudah ditambah dengan pandemi yang menyebabkan jumlah pengangguran bertambah. Sayangnya perokok tetap mempertahankan kebiasaannya.

Sikap mempertahankan rokok seakan menguat karena adanya pendapat yang menyatakan perokok tidak mungkin terjangkit virus corona. Wow. Tunggu dulu, informasi ini tidak berbasis data loh.

"Ini alasan yang dilontarkan oleh perokok untuk tetap mempertahankan kebiasaannya. Dari penelitian diketahui kalau perokok justru lebih rentan terkena corona," papar Nurul tegas. 

Kampung Bebas Asap Rokok

Memang sih disatu sisi merokok adalah hak pribadi, namun di sisi lain masyarakat berhak menghirup udara tanpa asap rokok.

kampung bebas asap rokok cililitan
M. Nur Kasim pengagas kampung bebas asap rokok di Cililitan

Untuk menciptakan ruang-ruang bebas asap rokok, pemerintah mengeluarkan UU no 36 tentang kesehatan pasa 11 yang menyebutkan bahwa yang termasuk kawasan tanpa rokok adalah fasilitas pelayanan kesehatan, tempat proses belajar mengajar, tempat anak bermain, tempat ibadah, angkutan umum, dan tempat lainnya.

Menyadari dampak yang ditimbulkan dari rokok, M, Nur Kasim, Ketua Rt 001/003 mengagas sebuah kampung bebas asap rokok dan covid 19 di Cililitan. Upaya ini dilakukan untuk mengurangi paparan asap terhadap anak-anak dan mereka yang tidak merokok.

Bersama warga, M. Nur menetapkan aturan larangan merokok di dalam rumah. “Mereka bisa merokok di area yang telah ditetapkan, seperti di teras atau halaman rumah. Kami juga menyediakan lokasi khusus untuk merokok,” terang Pak Nur.

Apabila ada warga yang diketahui melanggar, teguran akan diberikan ketika warga mengurus dokumen atau keperluan lain di rumah Ketua RT.

Cara ini ditempuh dengan harapan jumlah perokok aktif dapat berkurang akibat semakin sempit ruang untuk merokok.

Cara Berhenti Merokok

Membatasi ruang gerak para perokok merupakan upaya memaksa mereka untuk menghentikan kebiasaan merokok. Seperti yang dialami Kakak saya, baru berhenti merokok setelah terkena serangan jantung. Namun bukan berarti baru berhenti merokok setelah terkena penyakit loh. Justru upaya ini harus dilakukan jauh sebelum terlambat.

Ada beberapa cara yang bisa dilakukan perokok pasif untuk menghentikan kebiasaannya:

  1. Beralih pada produk pengganti nikotin secara perlahan agar tubuh terbiasa. Menghisap permen adalah salah satu cara untuk menggantikan rokok.
  2. Mengelola stress dengan mendengarkan musik, berolahraga, atau melakukan aktivitas lain yang menyenangkan.
  3. Menjauhkan diri dari lingkungan perokok agar tidak memicu keinginan untuk merokok
  4. Terapi konseling dan perilaku, tujuannya agar fokus pada strategi berhenti dari rokok.
  5. Dukungan keluarga dan sahabat merupakan faktor penting bagi perokok yang ingin menghentikan kebiasaannya.
  6. Olahraga secara teratur dapat mengalihkan hasrat untuk merokok.
  7. Mengatur pola makan untuk membantu tubuh menjalani proses pembersihan nikotin.
  8. Bersihkan rumah dari aroma asap rokok.
  9. Melakukan terapi hypnosis
  10. Konsultasi dengan dokter untuk membantu mengurangi hasrat untuk merokok.

Pemerintah juga tidak tinggal diam. Beberapa cara dilakukan seperti menaikkan cukai rokok, mewajibkan para produsen rokok masang larangan dan gambar seram di pembungkus rokok, menetapkan kawasan bebas asap rokok, melakukan penyuluhan kesehatan ke masyarakat, pembatasan iklan dan promosi rokok.

Meski demikian, upaya meningkatkan kesadaran akan kesehatan dan peningkatan taraf hidup terus digaungkan. Agar masyarakat, khususnya perokok, peduli dan mau berperan mengatasi masalah rokok di Indonesia.

Tidak pernah ada kata terlambat untuk berhenti merokok demi memperbaiki kesehatan diri dan taraf hidup masyarakat.

 

Saya sudah berbagi pengalaman pribadi untuk #putusinaja hubungan dengan rokok atau dorongan kepada pemerintah untuk #putusinaja kebijakan pengendalian tembakau yang ketat. Anda juga bisa berbagi dengan mengikuti lomba blog serial #putusinaja yang diselenggarakan KBR (Kantor Berita Radio) dan Indonesia Social Blogpreneur ISB. Syaratnya bisa Anda lihat di sini

Daftar pustaka

www.kemkes.go.id

www.tcsc-indonesia.org

www.liputan6.com


Komentar