Sarapan sembari mengukir kenangan di Kota Lama Banjarmasin

Berburu nisan batu aceh

Makam sultan mustaimbillah
Makam Sultan Mustaimbillah


Awan mendung memayungi kota. Tak ada angin yang berembus. Tapi, di sebelah timur, langit tampak bersih. Hanya sedikit awan putih yang berarak. Sepertinya hujan lokal saja, artinya tidak semua bagian kota terguyur hujan. 

Mumpung belum ada air menetes, buru-buru memacu motor, setelah sebelumnya berpamitan pada si kecil yang asyik dengan kimia dan sebentar lagi menjalankan tugas mingguan. 

Sepanjang jalan yang teduh karena payung raksasa, saya berharap hujan tak turun di Telok Selong, Martapura. Saya dan ibu Laila Binti Abdul Jalil mau melihat plus riset kecil-kecilan batu nisan yang ada di makam para sultan banjar. 

Terima kasih, tak ada hujan deras di sepanjang jalan. Udara sebenarnya agak pengab tapi asyik saja dan tak menganggu kami. Namun karena asyik berdiskusi, rencana mau lewat Cindau Alus, lha kok belok kiri ke arah Sungai Sipai. Jalan yang belum kami lalui.

Dipandu Peta

Buka map saja. Dari panduannya saya cukup mengikuti jalan beraspal dan belok di beberapa tempat. Ayo kita ikuti sambil berharap kondisi jalannya bersahabat. 

Di beberapa tempat, jalan aspal telah terkelupas. Kondisi yang buruk terjadi di jalan yang letaknya lebih rendah dari permukaan irigasi atau sungai. Untungnya cuaca bersahabat, andai hujan turun sebaiknya putar haluan saja kalau tak mau terjebak lubang jalan.

Lepas dari tepian irigasi, jalan mulai terasa mulus. Dan, terhamparlah sawah di kiri kanan jalan. Sueger. Deretan padi berakhir digantikan deretan rumah dan rawa-rawa. 

Ah, itu rumah bubungan tinggi. Maaf, kali ini kami tak mampir. Kami terus melaju. Mendekati pertigaan, kendaraan dipelankan. Agak ngeri kalau tiba-tiba ada kendaraan turun dari arah jembatan. 

Badan jembatan ini cukup tinggi dan langsung berujung di pertigaan jalan. Saya pikir jembatan berikut kondisinya tidak seperti itu, ternyata sama saja hehehehe. Duh, keren banget deh. Sukses bikin deg-degan. Tapi setidaknya jembatan kedua, sisi lainnya lebih landai dan langsung di dekat makam sultan ke 5 yang berada di daerah Sungai Kitano, Martapura Timur.

Susunan sultan banjar
Urutan Sultan Banjar


Meski makam sudah di depan mata, kok ya tertarik sama sebuah spanduk kecil di sebelah makam. Akhirnya belok kiri mengikuti spanduk atau petunjuk jalan menuju makam seorang datuk baru kemudian ke datuk rambut panjang. 

Sebuah papan bertuliskan keterangan tentang makam datuk rambut panjang menjadi pentunjuk bahwa kami telah tiba di lokasi pertama. Sebelumnya kami sempat berhenti di sebuah makam yang diberi kain kuning namun tak ada keterangan apa pun.

Berbeda dengan makam sebelumnya, makam datuk rambut panjang tampak terpelihara. Makam berada di dalam bangunan beratap tinggi. Di dalamnya terdapat 21 makam kecil bernisan kayu dan batu.

Makam di kubur datu rambut panjang
Makam di area pemakaman Datu Rambut Panjang


Makam datuk rambut panjang berukuran cukup besar dan sudah di semen. Batu nisannya tidak ditutupi kain kuning. Di bagian luar terdapat beberapa makam yang diberi pagar kayu berukir khas Banjar.

Sayangnya, saya belum mendapatkan informasi tambahan mengenai Datuk rambut panjang.

Meski makamnya tidak menggunakan nisan batu aceh, tetap saja kami berhenti dan mempelajarinya. Begitu selesai, buka map lagi. Lho kok banyak titik yang menunjukkan makam datuk dan sultan. 

Dari Makam ke Makam

Akhirnya kembali dulu ke rencana awal ke makam Sultan Innayatullah, sultan ke lima yang berada di tepi jalan besar. Tepat di dekat makam terdapat plang besar yang dibuat pemerintah kabupaten untuk memudahkan peziarah yang ingin berkunjung.

Makam sultan innayatullah
Makam Sultan Innayatullah di tepi jalan


Makam Sultan Innayatullah berada di dalam bangunan serupa joglo. Makam ini menggunakan batu nisan yang berasal dari Aceh. Nisan ini berbentuk khas karena memiliki ukiran di sayap kanan dan kirinya. Pada bagian tengah terlihat pahatan dan ukiran, namun karena sudah tertutup cat, cukup sulit untuk mengetahui seperti apa bentuk ukiran secara detail. Dalam bangunan yang sama terdapat beberapa makam dengan nisan kayu dan batu sederhana.

Selama masa hidupnya Sultan Innayatullah sangat menjaga keberlangsungan kesultanan Banjar dan menghidupkan kembali Maruah Kesultanan Banjar bersama ayahnya setelah dihancurkan Belanda saat masih berada di Kuin, Banjarmasin. Makam yang berada di Dusun Sungai Tabukan ini telah ditinggikan dari tanah sekitar.

Setelah melakukan pendataan berupa pengukuran tinggi, ketebalan, dan panjang nisan dan makam, perjalanan dilanjutkan menuju Sultan Mustain Billah yang merupakan Sultan banjar ke 4. Sebenarnya letaknya tidak jauh, ada di belakang makam sultan ke 5, namun karena dipisahkan oleh aliran sungai kecil maka untuk menuju ke sana harus memutar.

Mengukur nisan
Pengukuran Nisan Makam Sultan Innayatullah


Sultan Mustain Billah atau Moestakim Billah bin Sultan Hidayatullah adalah Sultan Banjar ke 4 yang memerintah antara tahun 1595-1642. Ia menggantikan ayahnya Sultan Hidayatullah (Sultan Banjar III). 

Makam Sultan Mustain Billah juga sudah diberi atap dan tembok. Ukuran makamnya lebih panjang dengan nisa dari batu Aceh. Sayangnya, nisan tersebut ditutupi kain kuning sehingga sulit untuk melihat bentuk dan ukirannya. Andaikan ada penjaga makam atau juru kunci mungkin bisa meminta ijin untuk melihat dan mengambar bentuk nisan.

Sebenarnya saya sempat mencari keberadaan penjaga makam, namun justru menemukan sebuah makam keramat yang berada di sebelah makam Sultan Mustain Billah. Makam ini tidak terlalu terlihat karena terhalang dua rumah penduduk.

Makam keramat tersebut ternyata makam Al-Habib Abdullah bin Abdurrahman bin Abdullah bin Husin bin Toha Assegaf. Makam ini berada di dalam bangunan berkaca yang baru selesai dibangun. Bentuk batu nisannya memang berbeda tetapi berasal dari aceh. 

Makam sultan Tahmidillah
Makam Sultan Tahmidillah


Dari sini kami menuju makam sultan Tahmidillah yang bergelar Panembahan Dalam Pagar. Makam yang berada di desa Dalam Pagar, Martapura Timur ini berukuran tidak terlalu besar. Nisannya juga ditutupi kain kuning. Lilitan kainnya cukup tebal sehingga sulit mengetahui bentuk nisan meski sudah di tekan. 

Usai mengukur dan mencatat informasi awal, perjalanan berlanjut ke makam sultan yang ada di jl. Mantri empat. Wah, makamnya sudah di renovasi. Bahkan diberi penutup. Diputuskan untuk mengakhiri petualangan. Kembali ke rumah untuk mengatur langkah selanjutnya.

Komentar