Sarapan sembari mengukir kenangan di Kota Lama Banjarmasin

Kerja keras untuk menciptakan lingkungan bersih dan hijau di Kampung Berseri Astra Syamsudin Noor


Memberi contoh langsung akan mudah dipahami oleh orang dari pada memintanya melalui kata-kata. Langkah tersebut efektif untuk mendorong lahirnya perubahan, dari tak peduli menjadi menyadari bahwa lingkungan yang hijau dan bersih memberi manfaat untuk kehidupan.




Lingkungan yang bersih dan apik akan membuat senang dan dapat memberi efek menenangkan  Namun untuk mewujudkannya perlu kerja keras dan semangat bersama. Inilah yang dilakukan Ibu Mufti bersama warga Kampung Berseri Astra (KBA) di Kelurahan Syamsudin Noor, Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan selama bertahun-tahun.

Berawal dari sebuah pot

Penasaran akan sepak terjang perempuan penggerak lingkungan ini, mendorong saya untuk mencari tahu keberadaan Ibu Mufti. Proses pencari seperti tengah bermain pesan berantai. Berawal dari Pak Agus, warga Rt.40, lalu bertukar pesan dengan salah seorang perwakilan Astra yang memberikan nomor telepon milik Ibu Mufti, penggerak KBA Syamsudin Noor.

Tanpa membuang waktu, saya segera membuat janji temu. Tempatnya di kediaman Ibu Mufti. Berbekal alamat yang diberikan, saya menuju Komplek Wenga 1 Kelurahan Syamsudin Noor, Kecamatan Landasan Ulin, Kota Banjarbaru. Letak komplek ini tidak jauh dari jalan utama, Jalan Ahmad Yani. Pada bagian depan jalan menuju komplek, masih berdiri gapura KBA.

Segera saya berbelok ke kanan, melewati jalan aspal mulus dan berhenti di depan gapura Komplek Wengga 1. Suasananya sunyi namun terlihat asri. Air mancur yang ada di kanan dan kiri gerbang tak difungsikan.

Walau baru pertama kali ke sini, pencarian blok rumah penghuni komplek ternyata mudah. Di setiap muka gang terpasang plang kecil bertuliskan blok A, B, C, dan D.

Rumah yang akan saya datangi berada di Blok C. Sebuah rumah yang penuh dengan berbagai tanaman hias. Perhatian saya langsung tertuju pada dua pohon anggrek yang sedang berbunga. Berwarna ungu dengan kelopak besar. Cantik sekali.

Merawat anggrek tentu tidak mudah. Apalagi bunga berbunga hingga sepuluh kuntum. Pastilah pemilik ya penyuka tanaman dan senang menjaga kebersihan. Begitu terka saya dalam hati.


Ternyata benar, Ibu Mufti seorang penyuka tanaman dan pemerhati lingkungan, khususnya area di sekitar tempat tinggalnya. “Dahulu keadaan komplek ini tidak seperti sekarang. Banyak sampah dan gersang,” cerita Ibu Mufti seraya mengenang masa lalu.

Menjaga dan merawat kebersihan lingkungan memang belum menjadi kebiasaan. Sangat mudah menemukan sampah berceceran di mana-mana.

Kondisi yang tidak menyenangkan. Untuk mengubahnya Ibu Mufti memilih memulainya dari rumah dengan membersihkan lingkungan di sekitar rumah. “Setiap hari saya menyapu halaman hingga jalan di depan rumah.”

Menyapu dan Menanam Bersama

Tak hanya menjaga kebersihan, ia mulai menanam berbagai tanaman. Sebagian besar tanaman berada dalam pot. Pot-pot plastik berukuran sedang pun berjajar rapih di tepi jalan. Rumahnya terlihat semakin asri dan indah.

Tidak sedikit warga yang tertarik melihat keasrian rumah Ibu Mufti. Dengan sigap ia mengajak warga melakukan hal serupa di rumah masing-masing. “Saya juga menemui ketua RT dan berdiskusi untuk membuat lingkungan menjadi bersih dan nyaman,” ujarnya.

Penggerak kba syamsudin noor
Ibu Mufti, penggerak KBA Syamsudin Noor



Pertemuan ini memang tidak serta merta membuat seluruh warga mau membersihkan dan menghijaukan tempat tinggalnya. Namun beberapa warga yang mau melibatkan diri akhirnya menjadi motor penggerak untuk lingkungan di komplek ini. “Kami terus bekerja sambil melakukan edukasi mengenai pentingnya menjaga kebersihan,” aku Ibu Mufti.

Gerakan kecil terus bergulir. Penanaman pohon secara bertahap dan berkelanjutan dari blok A hingga D berhasil mengubah wajah komplek menjadi asri. Jumlah warga yang terlibat bertambah. Kesadaran akan pentingnya menjaga kebersihan meningkat.

Namun demikian ada yang terasa menganjal di hati Ibu Mufti. Ruas jalan utama komplek kerap terlihat kotor karena tidak ada rumah menghadap ke sana. Dengan membawa sapu lidi, ia memutuskan untuk menyapu dan membersihkannya setiap hari. Warga yang melihat memintanya untuk membuat jadwal menyapu ruas jalan utama. Sejak itu secara bergiliran warga membersihkan ruas jalan komplek Wengga 1.

Juara Go Green and Clean

Gerakan bersih-bersih berlanjut dengan pembuatan bank sampah. Berbagai sampah dipilah sesuai jenisnya. Sampah plastik dan bernilai ekonomi dapat dijual langsung ke pengepul sampah. Sementara sampah daun bisa dijadikan kompos. Hasil penjualan sampah digunakan untuk kepentingan bersama.

Asrinya kba syamsudin noor
Asrinya KBA Syamsudin Noor


Kerja sama warga dalam meningkatkan kualitas lingkungan berbuah manis. Tahun 2015 Komplek Wengga 1 berhasil meraih penghargaan Juara 1 lomba Go Green and Clean se Kota Banjarbaru. Setahun kemudian berhasil meraih juara 1 Lomba Titik Pantau Adhipura se Kota Banjarbaru. Tahun 2017 menyabet juara 1 Best and The Best Go Green and Clean Kota Banjarbaru serta juara 1 Lomba Lingkungan Bersih dan Sehat (LBS) tingkat Provinsi Kalimantan Selatan. Setahun kemudian, 2018 menjadi juara 2 Lomba Lingkungan Bersih Sehat (LBS) tingkat Nasional.  

Kembali ke tahun 2017, rupanya menjadi tahun keberuntungan untuk warga komplek Wengga 1. Selain berhasil menjadi juara, Grup Astra menetapkan kawasan tersebut sebagai Kampung Berseri Astra di Kota Banjarbaru. Memang sebelum penetapan, Ibu Mufti dan kelompok penggerak mengetahui adanya peninjauan dan penilaian dari Astra. Ternyata peninjauan awal tersebut merupakan salah satu tahapan dari pembentukan KBA. Prosesnya sendiri sudah di awali dengan koordinasi di dalam intern perusahaan Grup Astra. Kemudian ditindaklanjuti dengan melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah agar program yang akan dilaksanakan dapat bersinergi dengan program yang telah ditetapkan pemerintah.

Baru setelah itu tim akan melakukan social mapping dengan tujuan mengetahui kesiapan dan potensi calon KBA. Selanjutnya Astra bersama warga akan menyusun program sesuai dengan pilar yang ditetapkan oleh Astra. Setelah itu kedua pihak akan melakukan komitmen bersama dan kick-off program KBA.

Tahapan KBA
Tahapan pembentukan KBA



Melihat alur penetapan suatu daerah menjadi KBA yang dilakukan dengan sepenuh hati tidak terlepas dari keinginan Astra untuk membuat program yang mampu memberikan kontribusi sosial berkelanjutan kepada masyarakat dengan tepat sasaran. Implementasinya diwujudkan dalam bentuk pengembangan 4 pilar program yaitu lingkungan, pendidikan, kesehatan, dan kewirausahaan. Visi program ini adalah untuk mewujudkan wilayah yang bersih, sehat, cerdas, dan produktif. Walaupun berada di bawah naungan Astra, pengurus KBA merupakan warga setempat yang akan bertanggung jawab untuk memastikan jalannya program 4 pilar tersebut.

Kampung Berseri Astra Syamsudin Noor

Sejak komplek Wengga 1 ditetapkan sebagai Kampung Berseri Astra, tidak serta merta membuat perempuan kelahiran Lampung ini berpuas diri. Sederet rencana dan program kerja dibuat bersama pengurus RT, warga, dan Astra. Kebersihan dan keindahan tentu menjadi prioritas utama yang menjadi lokomotif penarik gerbong kesehatan, pendidikan, dan kewirausahaan.

Pengurus KBA dan warga kemudian mengembangkan pilar kesehatan dengan mengadakan sosialisasi serta penyuluhan di Posyandu. Setiap bulan diadakan penimbangan balita, ibu hamil, dan lansia.

Dibidang pilar pendidikan, warga membuat  taman pendidikan alquran dan pemberian beasiswa untuk murid berprestasi baik ditingkat SD, SMP, SMA, dan perguruan tinggi.

4 pilar kba
Pilar KBA



Bergeraknya ketiga pilar mendorong warga mengembangkan pilar kewirausahaan. Beberapa orang ibu yang gemar memasak membuat berbagai produk makanan ringan seperti, kacang jaruk, keripik pisang, stik ubi unggu, cendol keju dan putri sembunyi. Aneka camilan ini dijual dengan cara dititipkan ke toko oleh- oleh dan melalui media sosial.

Menyadari bahwa lingkungan merupakan tiang utama KBA Syamsudin Noor, ditambah lagi dengan dukungan dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Banjarbaru dan Dinas Pertanian, Ibu Mufti mendorong warga khususnya perempuan untuk membuat Kelompok Wanita Tani (KWT). Di atas lahan milik Bandara Syamsudin Noor, mereka menanam dan mengembangkan usaha penjualan tanaman hias dan sayuran. Uang diperoleh digunakan kembali untuk kegiatan KWT.

Melebarkan sayap

Sayangnya ketika pandemi kegiatan KBA mengalami penurunan. Penjualan makanan kering menurun. Namun demikian kegiatan pendampingan tetap berjalan melalui zoom.

Menyadari bahwa kesehatan menjadi hal yang harus di prioritaskan, serta melihat kebutuhan warga akan buah-buahan segar cukup tinggi, sementara lahan dan kemampuan anggota KWT terbatas, Ibu Mufti berusaha menjadi alternatif pengembangan usaha. Waktu itu kabar tentang perkebunan melon menarik perhatiannya.

Letak perkebunan ini tidak terlalu jauh dan masih berada di Kelurahan Syamsudin Noor. Ia lantas mengusulkan kepada Astra untuk mengembangkan KBA di sana.

Melon di rt. 40
Melon siap panen di RT. 40


Kini Ibu Mufti kembali melakukan koordinasi dan pendampingan di wilayah RT. 40 Kelurahan Syamsudin Noor. “Saya kembali memulai dari nol, namun saya senang karena keberadaan KBA di Komplek Wengga 1 dapat menginspirasi dan mendorong wilayah lain untuk meniru dan melakukan apa yang telah kami kerjakan. Dengan demikian akan semakin banyak daerah yang menjadi hijau, tertata, dan berkembang dengan baik,” ujarnya senang.

Semoga usaha dan kerja keras Ibu Mufti akan memperlihatkan hasil yang baik, seperti KBA Syamsudin Noor.

 

Referensi

Www.satu-indonesia.com

Https://rri.co.id

https://m.kumparan.com/sulbarkini/kisah-kampung-berseri-astra-geliat-desa-laliko-menjadi-desa-wisata-terpadu-1zVSWAEYkfK

https://ahmadbulkini.blogspot.com/2018/12/kba-syamsudin-noor-kompleks-rasa-desa.html?m=1

 

 




Komentar