Ketika Para Penulis Buku Anak Berkumpul Di GLN

Jalan-jalan ke KBA Syamsudin Noor

Dok: pribadi


Klak.

Heri membuka pintu depan lebar-lebar. Membiarkan udara dan angin masuk ke dalam rumah. 

Wus…wus.


Angin berhembus meniup tepian taplak meja. Seperti ada bendera di dalam ruang depan. Angin yang masuk membuat ruangan menjadi sejuk. 

Heri senang. Dia langsung membaringkan tubuhnya yang kepanasan di atas lantai. Senyum terkembang saat merasakan hawa dingin dari lantai. Rasa gerahnya berangsur-angsur menghilang.

Tubuh yang mulai dingin dan angin yang berhembus membuat mata Heri meredup. 


Baru saja Heri memejamkan mata, tiba-tiba telinganya menangkap suara motor di dorong ke teras. Matanya langsung terbuka lalu duduk sambil mencari arah suara.


"Ibu, mau pergi?" Tanyanya penasaran.


Ibu terlihat sudah menggunakan jaket dan membawa tas. "Iya. Ibu kira Heri tidur. Ibu mau ke Landasan Ulin," jawab Ibu sambil mengambil kunci motor yang tergantung di dekat pintu.


"Heri ikut ya!" Pintanya segera.


"Nanti mengantuk," goda Ibu.


Heri tertawa. Cepat-cepat dia bangun dan membasuh muka. Lalu mengganti kaos dan celana panjang. Kini dia siap pergi bersama Ibu ke Landasan Ulin.

Ibu segera menyalakan mesin motor lalu menggunakan helm. Heri segera membuka pintu pagar dan menunggu di luar untuk menutup pintu. Baru setelah itu naik ke motor.


Pelan-pelan motor meninggalkan komplek perumahan. Heri senang bisa berjalan-jalan di siang yang cerah. Anak laki-laki berbadan kurus ini sesekali menemani Ibu bekerja, terutama jika Ibu akan meliput berita yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah. Daerah Landasan Ulin tidak terlalu jauh dari rumahnya di Loktabat Selatan. Jika menggunakan motor hanya membutuhkan waktu 10 menit.


Ibu dan Heri akan melewati jalan-jalan kecil sebelum melaju di jalan utama Kota Banjarbaru yang lebar. Siang hari jalanan tidak terlalu ramai tetapi Ibu tidak memacu kendaraan dengan cepat. Laju motor bahkan dikurangi saat melintasi jalan di sebelah pagar bandara. Heri bisa melihat beberapa pesawat parkir di apron. Sayangnya, tidak ada pesawat yang akan mendarat atau akan terbang. Heri suka sekali melihat pesawat menukik terbang ke angkasa. Dia berharap saat besar nanti bisa pergi menjelajahi dunia dan naik pesawat terbang berbadan besar.


Mendekati ujung bandara, pemandangan berganti dengan jajaran toko. Lalu ada sebuah pesawat terbang yang menjadi salah satu ikon kota kecil ini. Tak jauh dari situ terdapat pasar tradisional. Ibu mulai memperlambat laju kendaraannya. Bersiap-siap untuk berputar arah. 


Motor berbelok ke jalan Gotong royong. Ukuran jalan kembali mengecil. Tapi sama sekali tak ada kemacetan. Tepat di ujung pagar bandara Syamsudin Noor, Ibu berbelok ke kanan kemudian masuk ke dalam sebuah komplek.


Heri sempat membaca plang nama komplek, Komplek Wengga. Heri melihat ke sekeliling. Kompleksnya tidak terlalu ramai tapi bersih. Di jalan tidak ada sampah plastik. Sampah daun pun terlihat menggunduk di salah sudut dekat taman kecil di sepanjang jalan. Waktu Ibu berbelok ke kiri, Heri sempat melihat saluran air. Ternyata tak ada sampah plastik. Heri jadi ingat sampah plastik yang terbawa angin dan jatuh ke saluran air. Kenapa dibiarkan saja ya? Harusnya segera diambil dan dibuat ke tempat sampah. 


Saat Heri sibuk dengan pikirannya, Ibu menghentikan motornya tepat di depan sebuah rumah. Rumahnya asri sekali. Ada beberapa pot berisi tanaman anggrek. Heri tidak suka anggrek namun Ibu suka memelihara anggrek. 


"Apakah Ibu akan meliput soal budidaya anggrek?" Terka Heri dalam hati.


Belum juga Heri bertanya, seorang perempuan keluar dari dalam rumah. Ibu langsung bersalaman. Heri juga mengulurkan tangan untuk bersalaman. Perempuan itu tersenyum dan mengelus kepalanya.


Perempuan bertubuh kurus itu memperkenalkan diri dan menyebutkan namanya. "Oh, namanya Ibu Mufti," ulang Heri dalam hati.


Ibu Mufti (dok. Pribadi)



Mereka lalu masuk ke dalam. Setelah duduk di sofa berwarna kuning pucat, Ibu Mufti bercerita tentang Kampung Berseri Astra Syamsudin Noor yang dibangun tahun 2003. Sejak awal, Kampung ini sudah fokus pada lingkungan dan mengusung tema Go Green and Clean.


Warga bahu membahu menjadikan lingkungan tempat tinggalnya lebih bersih dan hijau. Sedikit demi sedikit warga menanami tempat terbuka, seperti tepi jalan, dengan berbagai tanaman. 


"Oh, kerja bakti ya Bu." Celetuk Heri.


"Benar. Gotong royong menjaga lingkungan dari sampah. Baik yang ada di tepi jalan atau saluran air," jelas Ibu Mufti lalu tersenyum. "Tidak disangka, usaha kami menjaga lingkungan membuat PT. Astra Internasional menunjuk kami sebagai Kampung Berseri Astra pada tahun 2017."


Pantas saja lingkungan di sini terjaga kebersihan dan keindahannya. Melihat hal tersebut, Heri jadi teringat kebiasaannya membiarkan sampah berserakan di saluran air. Heri bertekad mengubah kebiasaannya agar saluran air bersih.


Sambil menunggu Ibu berbincang, Heri berjalan-jalan di teras rumah. Teras itu dipenuhi beberapa pot tanaman anggrek. Ada bunga anggrek yang sedang berbunga. Kelopak besarnya berwarna ungu. Lalu ada tumbuhan obat. Heri membaca tulisan yang ditempelkan di pot, ada jahe, kunyit, dan lengkuas. 


Tak lama, Heri mendengar suara Ibu dari arah belakang. Rupanya perbincangan sudah selesai. 


"Kita akan melihat masing-masing pilar dan kebun KBA di kampung ini," kata Ibu pada Heri.


Tentu saja Heri senang. Siapa tahu nanti dia bisa berlari dan bermain di kebun. Sebelum pergi, Ibu dan Heri berpamitan pada Ibu Mufti. 


Sesuai petunjuk yang diberikan Ibu Mufti, Ibu menjalankan motor ke arah kanan mengikuti jalan aspal. Tak lama kemudian Heri melihat plang berukuran kecil di depan mulut gang.


Dok : pribadi


"Ibu, itu pilar kesehatan," seru Heri.


"Oh iya. Mari kita berbelok ke sana," ajak Ibu.


Ibu memperlambat laju motor lalu berkata, "pilar kesehatan ini tujuannya untuk meningkatkan kesehatan warga di KBA Syamsudin Noor. Kegiatan yang dilakukan pasti Heri tahu."


Heri terdiam. Dia berusaha mencari jawaban dari perkataan Ibu. "Posyandu ya, Bu?" Tebaknya.


"Benar. Posyandu secara rutin dilakukan oleh warga. Dengan begitu kesehatan anak-anak balita dapat dipantau dengan baik," kata Ibu gembira.


"Berarti posyandunya sama dengan di komplek kita ya Bu."


"Iya. Posyandu memang program yang diadakan di semua wilayah. Tujuannya untuk meningkatkan kesehatan warga. Di posyandu anak balita akan ditimbang untuk mengetahui perkembangan kesehatannya. Lalu diberi vitamin dan imunisasi, seperti kamu dulu ketika masih kecil," kenang Ibu.


Dok : pribadi



Ibu dan Heri lalu berpindah ke gang berikutnya. Kali ini di muka gang ada plang bertuliskan pilar UKM.


"Pasti di sini ada yang membuat makanan," tebak Heri keras.


Ibu tertawa mendengar perkataan Heri. "UKM tidak melulu menjual makanan. Ada juga yang membuat barang-barang kerajinan seperti kain sasirangan."


"Kalau di KBA ini bikin apa Bu?" Heri penasaran.


"Informasi yang Ibu dapat dari Ibu Mufti, KBA Syamsudin Noor membuat berbagai makanan kecil, seperti keripik pisang, kacang balado, kacang bawang, stik ubi ungu, dan peyek kacang," terang Ibu.


"Heri tahu, ibu-ibu di ajari juga cara membuat berbagai macam camilan yang enak. Juga cara memasarkannya," sambung Ibu.


"Siapa yang mengajarkan Bu? Ada gurunya ya?" 


"Benar. Pelatihan ini diadakan oleh Astra dengan bantuan tenaga ahli yang pandai membuat makanan ringan. Sehingga rasa makanannya enak dan lezat," terang Ibu.


Dok : pribadi


Setelah mencapai ujung jalan, Ibu dan Heri berpindah ke gang berikut. 


Heri membaca keras-keras tulisan di plang berwarna putih, "pilar pendidikan!."


Ibu tertawa mendengar suara Heri. "Anak Ibu pandai membaca."


Ibu terus mengendarai motor hingga mendekati ujung gang. Di belakang Heri mencari-cari sesuatu.


"Bu, kok tidak ada sekolah?" Tanyanya dengan nada bingung.


"Sekolah?" Ibu keheranan. Tapi tak lama kemudian Ibu tertawa.


"Pendidikan tidak selalu berarti ada sekolah. Pendidikan itu bisa dilakukan di mana saja. Bisa di rumah, di tempat ibadah, atau di alam terbuka. Kalau di KBA Syamsudin Noor, pilar pendidikannya berupa belajar bersama di TPA. Ada juga pemberian beasiswa untuk anak yang berprestasi di sekolah. Sehingga mereka semakin semangat belajar."


"Bagaimana supaya dapat beasiswa Bu?"


"Tentu saja anak tersebut memiliki prestasi di sekolah. Nilai rapotnya pun bagus. Beasiswa ini untuk siswa sekolah dasar hingga Sekolah Menengah Atas. Besar uang beasiswa akan disesuaikan dengan tingkat pendidikan anak tersebut." Jelas Ibu lalu menambahkan, "sekarang kita melihat satu pilar lagi dan sepertinya Heri pasti suka."


"Kita mau kemana?" 


Dok : pribadi



Motor Ibu melaju pelan menyusuri jalan yang tidak terlalu besar. Berbeda dengan jalan-jalan yang tadi dilewati, di sisi kanan ruas jalan terlihat perkebunan.


Heri mencium bau harum buah kesukaannya. "Bu, itu kebun melon ya?" Tanyanya curiga.


"Ayo, kita cari tahu!" Ajak Ibu sambil menghentikan motor tak jauh dari kebun.


Heri langsung turun dan berlari ke arah kebun. Di hadapannya tampak pohon buah melon yang disangga batang bambu. Tanaman merambat ini menjulur hingga ke atas batang bambu. 


Mata Heri membesar ketika melihat buah melon menggantung di salah satu batang bambu. "Ibu. Melon!" Serunya takjub.


Kebun melon di KBA Syamsudin Noor (dok. Pribadi)



Ibu tertawa. Ibu tahu Heri akan terkejut mendapati kebun melon, buah kesukaannya. "Iya. KBA Syamsudin Noor memiliki kebun sesuai dengan pilar yang tadi Heri baca. Pilar lingkungan. Kebun ini secara tidak langsung menjadi upaya menjaga lingkungan sekaligus memberi pendapatan karena hasil panennya bisa dijual," terang Ibu sembari berjalan menghampiri Heri.


"Keren ya Bu," puji Heri tulus.


"Benar. Hasil panennya pun berbeda-beda karena jenis tanaman yang ditanam berlainan, sesuai masanya."


"Kenapa tidak menanam melon terus?" Heri keheranan. Matanya memandang ke arah perkebunan.


"Menanam bergantian dilakukan agar unsur zat dalam tanah terjaga. Memang kebun melon di Banjarbaru cukup luas. Data dari Badan Statistik, tahun 2019 luas kebun melon mencapai 10 hektar.  Setelah panen lahannya akan ditanami cabai atau kacang panjang. Ibu bisa membeli kacang panjang untuk memasak gulai ikan kesukaanmu?" Timpal Ibu.


Heri tertawa mendengar penjelasan Ibu. Tiba-tiba perutnya terasa lapar. 

"Bu, Heri lapar."


Ibu tertawa. Heri memang cepat merasa lapar karena suka bermain. Setelah membeli melon, Ibu mengajak Heri pulang. Sepanjang perjalanan wajah Heri tersenyum senang karena bisa mengetahui ada kampung keren di dekat rumahnya dan bisa menikmati buah melon kesukaannya.






Komentar