Ketika emak-emak berani #BilangAjaGak sama soceng

Ke Banjarmasin Pakai QRIS

 


Ilustrasi menggunakan Canva.



Suka atau tidak suka perubahan pasti terjadi, termasuk dalam hal transportasi dan cara pembayaran. Kombinasi keduanya membuat bepergian ke Kota Banjarmasin menjadi nyaman. Cukup duduk menikmati perjalanan tanpa pusing menyiapkan uang.


Hari ini Ratna ke sekolah tanpa mengendarai motor. Tunggangannya itu tengah mengalami perbaikan akibat alpa mengecek mesin. Akibatnya Ratna harus berbesar hati berangkat lebih pagi dan pulang lebih lambat bersama Ibu.


Di sekolah, gadis dengan tubuh semampai itu terpaksa menunggu di depan kelas. Pintu berwarna hijau tua itu masih tertutup rapat. Sebuah gembok masih menempel erat. Baru akan terbuka ketika petugas piket datang setelah membuka gembok.


Dengan dahi berkerut, Ratna mencari cara agar tak harus menunggu di sekolah. Siapa sih yang mau menjadi siswa yang pulang terakhir dari sekolah. Sudah sepi, sunyi, dan senyap. Ih, membayangkannya saja sudah membuat Ratna bergidik.


Lamunannya buyar saat satu persatu temannya datang. Mereka menyapa dengan penuh keheranan. Benar-benar peristiwa yang patut dicatat dalam ingatan melihat gadis yang selalu tiba di detik-detik terakhir pintu gerbang tertutup tiba-tiba muncul sebelum pintu kelas dibuka. 


"Tumben!" Seru Budi yang piket hari ini dengan nada keheranan.

Nanda yang datang bersama Budi langsung menyapa Ratna, "datang dari jam berapa?".


"Udah-udah, kayak lihat makhluk aneh saja," jawab Ratna dengan nada malas. Ketiganya lalu masuk kelas. Terlanjur datang pagi, Ratna memutuskan untuk membantu membersihkan kelas. Alasannya sih supaya tidak mengantuk.


Setelah kelas bersih, Ratna duduk dan membaringkan tubuhnya ke atas meja. Namun ketika Mira, teman sebangkunya datang, dia langsung bangun. Ah iya, mengapa tidak menunggu di rumah Mira, toh Ibu tahu rumah Mira jadi mudah untuk menjemputnya.


"Mir, nanti aku main ke rumahmu ya", pinta Ratna.

Mira tersenyum dan mengangguk, "oke!".


Jam demi jam berlalu. Tak lama kemudian bel tanda sekolah usai berdentang nyaring. Kedua teman sebangku itu segera membereskan peralatan sekolah. Usai mengucapkan salam, keduanya berjalan meninggalkan kelas. 


Ratna yang berjalan di samping Mira berhenti tak jauh dari pintu gerbang. "Aku tunggu sini ya, kamu ambil motor dulu deh," usulnya.

"Aku nggak bawa motor. Naik Bus Rapid Transport alias BRT atawa Tayo Lebih asyik," jawab Mira sambil melangkah.


Seketika wajah Ratna terlihat dipenuhi kebingungan. Dia tahu BRT itu moda transportasi berupa bus berukuran sedang yang melayani rute Banjarbaru ke Banjarmasin dan sebaliknya. Dia kerap kali melihatnya melintas di jalan raya utama kota ini. Tapi tak pernah terpikirkan untuk naik bus karena ada motor yang menemaninya mengukur jalan.


"Sejak kapan naik bus? Lalu naiknya darimana?" Cecar Ratna penasaran.

"Hm, dua minggu dong. Naiknya dari halte di depan sana," jawab Mira santai.

Ratna mengeluarkan hp dan memencet sesuatu. "Berarti pesan ojek ya".

Mira langsung menghentikan tindakan Ratna, "ngapain, jalan kaki saja dekat. Enak kok, sekalian olahraga sama kalau mau bisa mampir buat jajan."


Ratna melotot, dia tak percaya dengan kata-kata yang diucapkan Mira. Berjalan kaki ke jalan utama cukup jauh. Pasti kakinya akan lelah lalu dia harus urat-urat kakinya akan bermunculan. Duh, jadi jelek dan penampilannya bisa terpengaruh. Tidak, hal ini tidak boleh terjadi.


"Mir, nggak bisa. Kita harus naik ojek. Kamu nggak ada deposit ya? Sini aku transfer ya."

Mira tertawa dan memperlihatkan saldo pada aplikasi pemesanan ojek miliknya. "Nggak perlu. Tuh, lihat, saldonya banyak. Ayo, kita jalan kaki saja. Nanti kita mampir beli es krim di warung depan," rayu Mira dengan nada seperti tengah membujuk seorang anak kecil.


Meski memasang muka tak setuju, mau tidak mau Ratna pasrah mengikuti langkah Mira yang mengandengnya sembari tertawa. Keduanya lantas berjalan bersama. Untungnya Mira menepati janji membelikan es krim di warung di sebelah pabrik roti. "Habiskan ya, kita nggak boleh makan dan minum di bus," perintah Mira tegas.

Ratna mengangguk. Sambil menikmati es krim, tangan sibuk mengeluarkan uang dari saku. "Segini cukup buat bayar bus?"

"Woi, bayarnya nggak pakai uang. Pakai e money dong sama Qris," terang Mira santai.

"Apa? Aku nggak punya e money. Berarti nggak bisa naik bus dong. Gimana nih," Ratna menjadi panik.

Mira meminta Ratna mengeluarkan hp lalu menyuruhnya membuka aplikasi pemesanan ojek online. "Kamu bisa bayar pakai ini nanti tinggal scan kode Qris yang ada di bus. Beres. Masak gen-Z ketinggalan berita."

Ratna menatap Mira dengan tak percaya. Apa benar semudah itu naik bus?

Mira tidak menjawab namun langsung menarik tangan Ratna menuju halte bus. Tidak berselang lama sebuah bus berwarna biru datang dan berhenti. Mira langsung menempelkan kartu e money di tempat yang ditentukan. Kemudian dia memandu Ratna untuk melakukan pembayaran.

Pertama-tama Ratna membuka aplikasi pemesanan ojek online lalu memindai tanda QRIS dan pembayaran pun selesai dilakukan. Semudah itu, segampang itu, tinggal tap, tap, dan pembayaran selesai. 

Siang itu penumpang BRT tidak terlalu ramai. Suasana di dalam bus juga terbilang sepi. Para penumpang sibuk dengan telepon genggamnya, kecuali Ratna yang sibuk bertanya pada Mira.

"Kok, kamu tahu soal bayar bus pakai QRIS?" Selidiknya.

"Iya dong. Bank Indonesia memperkenalkan pembayaran pakai QRIS sudah lama dilakukan. Tepatnya diluncurkan pada 17 Agustus 2019 lalu, seperti kado untuk masyarakat Indonesia yang sedang berulang tahun."

"Kenapa disebut QRIS," tanya Ratna dengan nada mendesak.

Mira menarik napas, "QRIS itu singkatan dari Quick Response Code Indonesian Standard. Bisa dibilang QRIS merupakan kode standar QR Nasional supaya tidak perlu membuat banyak kode pembayaran dengan QR. Terbayang dong mau bayar pakai OVO, Gojek, Dana, pakai masing-masing QR mereka. Belum lagi pembayaran milik bank. BRI, BNI, sampai Bank apa gitu semua bikin QR. Bisa-bisa, Hp kita penuh sama aplikasi dari masing-masing bank. Repot banget deh."

"Oke-oke. Lalu QRIS bisa dipakai apa saja?"

"Tentunya untuk mendukung usaha dan jasa, kayak naik BRT. Terus pembayaran baik di restoran, toko, sampai pasar. Oh iya, UMKM juga sudah punya QRIS loh. Kerenkan," terang Mira. 

Ratna mengangguk-angguk lalu bergumam, "berarti QRIS bisa dipakai oleh semua orang dong."

"Nah, pintar. QRIS memang bisa digunakan oleh siapa saja, baik pemilik usaha maupun masyarakat. Nantinya kita bayar-bayar tanpa repot bawa uang lagi, cashless. Tinggal tap, tap," sahut Mira dengan nada antusias.

"Eh, tapi bayar BRT bikin penumpang berkurang ya? Lihat saja busnya sepi."

"No, no. Jangan salah. Jumlah penumpang BRT trennya meningkat Loh. Aku baca di Kalsel.antaranews.com jumlah penumpangnya per hari sampai 6.000 orang. Tepatnya di bulan Juni 2022 penumpang yang datang di terminal Gambut Barakat mencapai 84.109 orang, sementara yang berangkat tercatat ada 82.245 orang," terang Mira panjang lebar.


"Wow banyaknya ya. Hm, iya sih, busnya nyaman, aman, bayarnya murah dan gampang. Pantas saja kamu jadi suka naik bus," tutur Ratna sambil menyandarkan punggungnya ke bangku berwarna biru.

Mira tertawa, "iya dong. Sudah enak, nyaman, terjangkau, dan bersahabat dengan lingkungan karena nggak nambah polusi. Ya, kan."

Ratna tersenyum, "bener-bener. Bisa dibilang QRIS itu ramah lingkungan. Bisa mengurangi pemakaian kertas untuk membuat uang kertas, mengurangi polusi karena jumlah kendaraan berkurang. Bank Indonesia memang TOP ya."


"Bank Indonesia memang jempolan apalagi sejak September 2023, QRIS tidak cuma buat pembayaraan tapi fiturnya sudah dikembangkan jadi bisa untuk transaksi tarik tunai, transfer, setor tunai. Disebutnya QRIS TUNTAS," kata Mira.

"Wow! Beneran?" Ratna tak percaya.

"Hm, Bank Indonesia punya komitmen untuk terus mengembangkan fitur QRIS sebagai bagian dari implementasi Blueprint Sistem Pembayaran (BSPI) 2025," terang Mira lugas.

"Ya ampun. Keren banget sih. Lebih keren lagi sama kamu, kok bisa tahu perkembangan QRIS sampai segitunya," decak Ratna kagum.

"Oh tentu. Sebagai warga negara yang peduli pada perkembangan bangsa harus mau melihat perkembangan. Biar nggak kepo dan gaptek. Siapa tahu nanti bisa kerja di Bank Indonesia, ya kan," seloroh Mira sambil memperbaiki posisi duduknya agar terlihat anggun.

Ratna tertawa lalu mengamini ucapan Mira. 


Tak terasa bus bersiap untuk berhenti di halte terdekat dari rumah Mira. Keduanya lalu berdiri dan bersiap untuk turun. Perjalanan selama lima belas menit ini terasa sangat sangat dan sangat menyenangkan. Ratna senang karena Mira telah mengajarkan berbagai hal baru, terutama pemakaian QRIS untuk naik BRT. Pengetahuannya bertambah dan akan bertambah lagi soal QRISnya satu, menangnya banyak! agar dia bisa menjadi gen Z yang melek teknologi dan informasi. 


Kisah petualangan Ratna dan Mira dibuat sebagai Participant of BI Digital Content Competition 2023












Komentar