Serupa tapi bukan gemblong.
Udara siang mulai menyapa. Angin yang berembus membuat daun asam bergerak perlahan. Tiupan angin terasa sepoi-sepoi membuat badan terasa nyaman. Begitulah udara pagi di Desa Tirtayasa, Kabupaten Serang sebelum siang hari, masih terasa sejuk dan menyenangkan. Namun, kesejukan itu akan pelan-pelan menghilang ketika hari semakin siang. Udara akan terasa panas dan kering.
Saya menyadari kalau udara siang akan panas, namun rasanya sangat sayang meninggalkan lantai yang sejuk. Ditambah sepiring kudapan tradisional khas Tirtayasa yang tersaji di atas piring. Kudapan itu berwarna coklat berkat gula merah yang melapisi seluruh permukaan makanan.
Sepertinya saya tahu makanan ini. Dengan penuh rasa percaya diri, saya meyakini kalau ini adalah gemblong. Namun, keyakinan itu runtuh, ambruk karena tebakan saya salah. Salah besar.
Makanan ini adalah Cioda.
Wah. Nama makanan ini baru saya dengar. Terdengar unik dan menggoda sekali. Dengan rasa penasaran, saya segera mengambil sebuah cioda. Terlihat jelas kalau makanan ini dimasak dengan cara digoreng. Jejak minyaknya masih terlihat jelas di atas permukaan kertas pembungkusnya.
Begitu digigit, rasa manis langsung terasa, setelah itu rasa singkong menyusul kemudian. Ah, ternyata cioda terbuat dari singkong. Rasanya kenyal tapi lembut. Teksturnya akan berubah menjadi lebih kenyal jika makanan ini dibiarkan hingga sore hari.
Mengetahui hal itu, saya tidak mau membiarkan cioda sia-sia begitu saja. Saya nikmati satu persatu cioda sembari berbincang dengan teman-teman dan ditemani sebotol minuman dingin dengan perasa jeruk nipis.
Singkong dan gula merah
Panganan berukuran tidak terlalu besar itu merupakan makanan tradisional khas Tirtayasa atau Kecamatan Pontang. Makanan ini dijual di beberapa warung yang berjualan sarapan pagi. Yang cukup mengejutkan adalah harganya yang sangat terjangkau. Sebuah cioda dijual dengan harga seribu rupiah.
Apa! mata saya setengah terbelalak. Bagaimana mungkin, padahal proses pembuatannya tidak mudah. Memerlukan waktu dan dua kali proses memasak, mengukus dan membesta.
Untuk menghasilkan cioda, singkong yang merupakan bahan baku utama perlu dikupas dan dicuci bersih. Potongan singkong kemudian di kukus agar mudah ditumbuk. Singkong yang lembut itu akan dibentuk menggunakan tangan.
Setelah itu gula pasir dan gula merah dicairkan. Selama proses pemasakan, gula harus dipantau dan diaduk agar tidak mengerak di wajan. Ketika cairan sudah tampak mengental, potongan adonan singkong dimasukkan ke cairan gula. Campuran ini harus terus diaduk hingga gula berubah menjadi seperti kristal dan mengeras. Barulah cioda selesai dan bisa dinikmati.
Pemakaian bahan alami tanpa pengawet atau pengental membuat umur saji cioda tidak bisa berlangsung lama. Menjelang siang, gula merah yang melapisinya akan meleleh. Membuat tampilan singkong terlihat jelas. Semakin sore, lapisan gula itu sudah sirna dan tekstur singkong menjadi lebih kenyal. Itu sebabnya cioda lebih enak disantap beberapa saat setelah matang. Seperti yang tengah saya nikmati hari ini, bersama sebotol minuman dingin dan sejuknya angin.

Komentar
Posting Komentar
Terima kasih sudah berkunjung ke blog saya. Mohon tidak membagikan tautan disini. Silahkan meninggalkan komentar yang baik dan sopan.