Jalan-jalan Ke Pasar Lama Tangerang, Takjub Melihat Keindahan Roemboer

walking tour pasar lama tangerang
Walking Tour Ke Pasar Lama Tangerang (dok. pribadi)

 

Daerah Pasar Lama Tangerang memiliki daya tarik yang kuat. Selain banyaknya sajian masakan lezat yang patut dicoba, kawasan ini juga menyimpan peninggalan masa lalu yang masih terjaga dengan baik. Maka, berkeliling ke kawasan ini tentu akan sangat menyenangkan.

Rasanya saya sudah 4 kali berkunjung ke kawasan Pasar Lama Tangerang dengan kurun waktu yang berbeda. Perbedaan waktu itu membuat saya mendapati suasana pasar yang berbeda, namun masakan yang ditawarkan tidak jauh berbeda. 

Setiap kali berkunjung ke sana, saya selalu bersama dengan teman dan jumlahnya sangat sedikit. Minimal 2 orang. Berjalan dengan teman membuat saya bisa bertukar pikiran dan punya teman ngobrol. Tetapi, saya tidak menampik jika harus keliling sendirian atau rame-rame. 

Maka ketika ada kelompok atau komunitas yang  membuka trip ke kawasan Pasar Lama Tangerang, saya pun ikut serta. Kali ini, perjalanan mengelilingi kawasan Pasar Lama Tangerang dilakukan bersama dengan komunitas Benteng Walking Tour.

Sesuai kesepakatan yang disebarkan melalui grup wa, seluruh peserta berkumpul di Stasiun Tangerang pada pukul 08.00 WIB. Pada jam telah ditentukan, saya justru masih berada di dalam kereta api. Masih ada 2 stasiun lagi. Saya pasrah kalau memang rombongan berangkat lebih dulu. Ternyata meski terlambat 15 menit, rombongan belum meninggalkan titip kumpul. Pemandu dari Benteng Walking Tour masih menjelaskan rute dan apa saja aktivitas yang akan dilakukan. Rupanya perjalanan ini tidak cuma berjalan kaki tetapi diselingi dengan permainan. Menarik sekali. Sebelum memulai perjalanan, pemandu mengingatkan agar peserta mempersiapkan air minum. Meski akan memasuki kawasan pasar, para peserta diminta untuk membekali diri dengan air minum karena kegiatan ini akan berlangsung selama sekitar 2 jam. 

Sebelum trip dimulai, pemandu dari Benteng Walking Tour menjelaskan tempat yang akan dikunjungi yaitu Jam Argo Pantes, Rumbur, rumah misterius, Masjid Kalipasir, Toa Pekong Air, Kelenteng Bon Tek Bio, dan Museum Benteng Heritage. Setelah memastikan semua peserta telah siap, perjalanan mengunjungi bangunan bersejarah di kawasan Pasar Lama Tangerang dimulai.

Rombongan yang terdiri dari 20 orang berjalan rapi menyusuri trotoar menuju Tugu  Jam Argo Pantes. Saya memilih jalan di belakang, rasanya lebih nyaman karena bisa melihat ke sekitar serta membaca nama-nama toko dan gerobak penjual makanan. Kegiatan ini membuat saya tidak menyadari kalau rombongan sudah mendekati Tugu Jam Argo Pantes. Bangunan sederhana itu berdiri kokoh di ujung Pasar Lama Tangerang merupakan titik Nol Tangerang. Dinamakan tugu jam Argo Pantes karena benda penunjuk waktu tersebut dibangun oleh perusahaan tekstil Argo Pantes dan menjadi tempat para karyawan menunggu kendaraan jemputan. Di titik ini semua peserta menyeberangi jalan raya dan bersiap untuk masuk ke kawasan Pasar Lama.

Rumah Misterius

Perjalanan kemudian dilanjutkan dengan menyusuri bagian luar pasar. Lapak para pedagang seakan memagari jalan yang tidak terlalu lebar. Lapak penjual daging terlihat penuh dengan jajaran daging. Di sebelahnya terdapat lapak penjual ayam. Meski cukup ramai, para peserta masih bisa berjalan dengan nyaman tanpa khawatir menginjak genangan air dari lapak para pedagang. Sambil berjalan mata ini seperti dimanjakan dengan warna-warni barang dagangan. Hal ini cukup ampuh untuk mengurangi kerja indra penciuman dalam membaui wangi pasar yang khas.

rumah kecap
Rumah untuk fermentasi kecap (dok. pribadi)


Tidak berapa lama, rombongan berbelok ke sebuah jalan yang lebih besar. Tampaknya ini adalah kawasan pemukiman penduduk. Sebuah kedai kopi terlihat ramai. Saya mengenali warung kopi ini karena pernah melewatinya saat ingin melihat kegiatan tudong para Biksu. Meski bangunan warung kopi itu terlihat kuno dan cukup ramai, rombongan tidak berhenti dan terus berjalan menuju sebuah bangunan kuno.

Bangunan berpintu kayu itu tertutup rapat. Cat hijau yang melekat tampak mengelupas. Sementara warna putih yang melapisi tembok bagian masih tampak baik. Rumah ini sama sekali tanpa jendela. Sirkulasi udara sepenuhnya mengalir melalui lubang angin yang ada di bagian atas. Saya dan rombongan berdiri cukup dekat dengan tembok rumah karena menghindari motor dan mobil yang melintas. 

Dari luar rumah ini tampak tidak dihuni, namun keadaannya tampak terawat. Tidak ada rumput liar di dekat tembok, walaupun sebuah gerobak diletakkan di sebelah kiri rumah. Kondisinya membuat saya terus bertanya mengenai keberadaan rumah ini.

Entah seperti apa suasana dan bagian dalam bangunan. Apakah bagian dalamnya adem atau justru panas karena tidak ada jendela? Meski beratap pelana yang tampak tinggi, namun tidak menjamin suasana di dalam rumah terasa adem. Lalu mengapa desain rumah ini begitu unik? Siapa yang tinggal didalamnya?

"Rumah ini sudah berdiri sejak lama dan tidak ada yang menghuni. Rumah ini digunakan untuk menyimpan atau memfermentasi kecap yang dibuat oleh perusahaan kecap Istana, kecap asli Tangerang yang sudah ada sejak tahun 1882," terang Ci Elsa yang memandu rombongan sambil memperlihatkan foto-foto kecap asli Tangerang. 

Ah, rupanya inilah jawaban dari desain rumah yang unik dan misterius itu. Rumah yang terkunci itu merupakan tempat untuk memeram cairan hitam dari kacang kedelai. Proses fermentasi membuat cairan itu menjadi kecap yang sedap. Selain kecap Istana, ada kecap bango dan kecap SH yang menjadi kecap khas dari Tangerang. 

Tuntasnya rasa ingin tahu menjadi tanda bahwa perjalanan akan berlanjut. Rombongan pun menuju Masjid Kalipasir yang berada ditepi Sungai Cisadane. Bangunan ibadah umat Muslim ini memiliki sebuah menara yang khas berbentuk menyerupai pagoda. Keberadaan menara ini menandakan akulturasi antara budaya Tionghoa dengan Indonesia. Diperkirakan masjid telah berdiri sejak tahun 1576 dan masih berfungsi hingg saat ini. 

masjid kalipasir
Makam di halaman masjid Kalipasir (dok. pribadi)


Pada halaman masjid yang tidak terlalu luas terdapat sejumlah makam para tokoh dan pemuka agama Islam dari masa Kesultanan Banten. Uniknya, terdapat sebuah makam baru. Pada nisan tertulis nama seorang perempuan keturunan Tionghoa. Sayangnya belum ada informasi mengenai keberadaan makam tersebut.

Dari tempat ibadah umat muslim, perjalanan berpindah ke sebuah tempat yang kerap digunakan warga Tionghoa untuk beribadah yaitu Toa Pekong Air atau disebut juga sebagai Prasasti Tangga Jamban. Di tempat ini warga Tionghoa memanjatka doa dan melepaskan ikan ke sungai Cisadane. Cukup lama rombongan berada di Toa Pekong Air. Selain karena tempatnya teduh dan angin yang berhembus membuat tubuh terasa sejuk, tempat ini bisa dimanfaatkan untuk berfoto bersama. Sembari mendengarkan penjelasan pemandu tentang kehidupan warga keturunan Tionghoa atau yang kerap disebut Cina Benteng, saya mendapat kesempatan memperhatikan sebuah keluarga kecil tengah menjalankan ibadah. 

toa pekong air
Toa Pekong Air (dok. pribadi)


Mereka berdiri sejenak untuk memanjatkan doa di altar yang berada di dekat tangga. Beberapa hio ditancapkan di tempat yang telah disiapkan. Setelah itu keluarga itu melepas ikan yang telah disiapkan. Ikan lele berukuran kecil itu dengan gembira berenang ke sungai Cisadane. Melihat hal tersebut saya jadi mengerti mengapa di sini banyak orang memancing. 

RoemBoer

Melihat warga sibuk memancing  sangat menyenangkan. Tapi, perjalanan harus dilanjutkan. Ada sebuah rumah dengan arsitektur kuno yang sudah menunggu.

Rumah ini berada di sebuah jalan yang tidak terlalu lebar. Letaknya tepat di samping sebuah gang. Dari luar, arrsitektur rumah ini sangat menawan. Bagian dinding luarnya dihias dengan tulisan beraksara Tionghoa. Sementara pintu dan jendela besar yang bercat merah membuat bangunan terlihat gagah. Sesungguhnya bangunan ini memiliki sejumlah detail yang menarik, seperti patung singa dibagian pagar depan. Lalu, ukiran pada kayu di bagian atas. Jika bagian luarnya seindah ini, bagian dalamnya tentu akan lebih menarik lagi. Tetapi, sayang, pintu rumah ini tertutup rapat. 

Bagian depan Roemboer (dok. pribadi)


Meski gaya Tionghoa tampak kuat, namun bagian samping bangunan ini justru bergaya kolonial. Percampuran desain ini semakin menarik ketika mengetahui sejarah bangunan yang dijaga oleh sebuah patung singa. Dahulu bangunan ini dimiliki oleh Keluarge Pee. Encim Pon, istri pemilik rumah adalah seorang pembuat kebaya dengan kerancang yang terkenal di Tangerang sehingga rumah ini merupakan modiste pembuatan kebaya encim. Fungsinya  menjadi rumah burung walet setelah rumah dijual. Siapa sangka bertahun-tahun kemudian bangunan bersejarah ini berubah kepemilikan dan dinamai Roemah Boeroeng sebagai upaya untuk mengenang kisah rumah ini.

rumah burung
Rumah burung - roemboer (dok. pribadi)


Tepat di depan RoemBoer terdapat rumah seorang penulis yang saat ini sudah tidak ditinggali, namun masih terpelihara. Tidak jauh dari situ, tampak sebuah rumah kosong. Dinding putihnya tampak kusam. Di beberapa tempat terlihat bercak-bercak hitam, namun demikian kondisi ini tidak menghilangkan pesona bangunan yang berhiaskan lukisan. 

Lukisan ini memang hanya ada di beberapa bagian, yaitu di ujung tiang bagian atas bagian depan rumah. Lukisan dari cat itu menggambarkan aktivitas warga Tionghoa. Lukisan juga dapat ditemui di bagian atas jendela yang berada di tepi jalan. 

Lonceng Tua Kelenteng Bon Tek Bio

Matahari semakin meninggi seperti menandakan agar seluruh peserta tur bergegas menuju Kelenteng Bon Tek Bio. Sudah saatnya melihat keindahan bagian dalam rumah ibadah yang cukup ramai dikunjungi umat. Tanpa berbicara, seluruh peserta melangkahkan kaki melewati altar dan tempat membakar hio. Sesekali langkah terhenti ketika berpapasan dengan umat yang akan beribadah.

kelenteng bon tek bio
Teras dalam kelenteng Bon Tek Bio (dok. pribadi)


Langkah saya terhenti tepat di sebuah teras di bagian dalam kelenteng. Teras dengan ubin merah itu tampak kontras dengan langit-langit berwarna kuning yang dipenuhi lampion berwarna merah. Saya memutar badan dan  memperhatikan ukiran dan detail hiasan pada dua guci besar di seberang teras, sementara indra pendengar menangkap penjelasan dari pemandu.  


guci di kelenteng bon tek bio
Guci berhias (dok. pribadi)




"Kelenteng Bon Tek Bio berasal dari bahasa Hokkian yang memiliki arti tempat bagi umat manusia untuk menjadi insan yang penuh kebajikan dan intelektual. Kelenteng ini dibangun sekitar akhir abad ke-17. Sejak pembangunannya, kelenteng ini telah beberapa kali dipugar."

tempat ibadah
Tempat ibadah di kelenteng Bon Tek Bio (dok. pribadi)


Rombongan kemudian berpindah ke bagian samping yang cukup luas. Ternyata di tempat ini terdapat lampion-lampion besar. Semua tergantung cantik sehingga pantas dijadikan tempat untuk berfoto. Tidak hanya cantik, Kelenteng ini juga memiliki beberapa benda yang bernilai sejarah, salah satunya adalah lonceng besar yang berada di depan kelenteng. Lonceng ini terbuat dari perunggu utuh dengan nama Wende Miao dalam aksara mandarin yang dilebur di Tiongkok. Letak lonceng berdekatan dengan sepasang patung batu singa.

bon tek bio
Kelenteng Bon Tek Bio (dok. pribadi)


Matahari semakin meninggi, rangkaian perjalanan pun mulai mendekati titik akhir yaitu Museum Benteng Heritage. Letaknya tepat di tengah pasar, berdekatan dengan lapak penjual bahan makanan. Walau demikian keberadaannya tidak serta merta surut, kehadirannya justru menguatkan kisah Pasar Lama sebagai kawasan perniagaan. 

museum benteng heritage
Museum Benteng Heritage (dok. pribadi)


Museum Benteng Heritage menempati bangunan kuno yang diperkirakan dibangun pada abad ke-17. Saat ini museum menjadi salat satu tempat untuk melestarikan peninggalan sejarah di wilayah Kota Tangerang. Dibalik dinding putihnya tersimpan berbagai artefak dari orang-orang Tionghoa Tangerang (Cina Benteng). Keberadaan museum di tengah denyut nadi ekonomi warga Tangerang semakin menguatkan kisah yang terekam sejak dahulu hingga saat ini. 

museum benteng heritage
Museum Benteng Heritage (dok. pribadi)


Duduk di bagian dalam museum sembari mengamati lalu lalang warga yang berbelanja menjadi sebuah kenangan  akan masa lalu. Bagaimana geliat kehidupan masyarakat berdenyut sejak dulu hingga kini dalam aktivitas yang sama namun bingkai waktu yang berbeda.





Komentar