Makan Siang di Kawasan Taman Nasional Ujung Kulon

Di depan gerbang Taman Nasional Ujung Kulon (dok. pribadi)


Siang yang cukup terik menyambut laksana seorang sahabat yang lama tak bertemu. Bersamanya, saya dan teman-teman menyusuri pesisir paling ujung Pulau Jawa. 

Tidak ada niat untuk melakukan perjalanan ke Taman Nasional Ujung Kulon. Rasanya tenaga ini sudah habis terkuras setelah 2 hari mencari data soal kehidupan nelayan di daerah Sumur, Pandeglang. Tetapi, sayang sekali jika melewatkan kesempatan untuk mampir. Apalagi cuaca cerah dan angin tak terlalu kuat. Lalu apa yang menghalangi? 

Lelah dan keinginan untuk pulang pun disisihkan. Semangat yang semula sudah menurun, kembali naik waktu melihat teman yang bertugas mengendarai mobil sangat bersemangat. 

"Kapan lagi mampir ke sini, belum tentu besok ada waktu," celotehnya sambil menyusuri jalan aspal nan mulus.

Oke, Mari kita lakukan perjalanan ke ujung Pulau Jawa, tapi sebelumnya atur strategi dulu, terutama soal makanan karena belum tentu di sana ada warung makan.

Ketika semua sepakat, mobil pun dipaju. Kecepatannya bertambah agar bisa secepatnya sampai di Ujung Kulon. Kami harus sampai sebelum tengah hari supaya teman-teman bisa mengikuti sholat jumat. 

Saya yang duduk di sisi kanan mobil, memilih menikmati perjalanan. Melihat pantai yang dihiasi pohon-pohon kelapa. Pemandangan lalu berganti dengan penginapan dan cafe, ada juga rumah penduduk dan warung-warung sederhana. 

Sambil melihat keluar, sesekali saya menimpali guyonan dan ikutan ngobrol dengan riang gembira. Suasananya seru sekali, sampai-sampai nggak terasa sudah sampai di daerah Ujung Kulon.

Patung Badak


Hoa, rasanya senang sekali bisa sampai di daerah Ujung Kulon. Mobil segera di parkir di bawah pohon yang berada di depan rumah penggelola Taman Nasional Ujung Kulon. Saya dan empat orang teman memutuskan untuk berjalan-jalan sejenak di sekitar gerbang. Hm, lebih tepatnya gapura. Niatnya mau meluruskan kaki yang ditekuk selama perjalanan. 

Kesempatan ini saya gunakan juga untuk mengamati penduduk yang lalu lalang melewati gapura. Dalam hati, saya menduga kalau di dalam masih ada perkampungan penduduk. Nanti mau dicari tahu, sekarang lebih baik foto-foto dulu.

Bergaya di depan patung Badak (dok pribadi)


Sebagai penanda kalau perjalanan sudah sampai di ujung pulau Jawa, sudah pasti harus foto di bawah gapura. Gapura ini sederhana namun informasinya jelas, bahwa kawasan ini adalah Taman Nasional Ujung Kulon merupakan kawasan konservasi. 

Taman Nasional ini luasnya mencapai 122,956 hektar. Di dalamnya tinggal berbagai hewan, serangga, burung, dan reptil. Hewan yang menjadi ikon dan keberadaannya sangat dilindungi adalah badak. Populasinya sudah sangat sedikit, sehingga perlu dijaga. 

Itu sebabnya berfoto di depan patung badak juga perlu dilakukan. Ikon Taman Nasional Ujung Kulon ini tampak berdiri kokoh tidak jauh dari gapura. Badak juga menjadi ikon provinsi Banten dan gambarnya disematkan pada bagian hiasan lampu jalan. 

Oh ya, di tempat kami memarkir kendaraan, ada sebuah mobil damri yang melayani penumpang. Trayeknya dari Rangkasbitung ke Ujung Kulon. Jadi kalau mau ke Ujung Kulon bisa naik damri. 

Makan di tepi pantai


Sudah kadung sampai di Ujung Kulon, sayang kalau nggak sampai ke dalam. Tentu saja bukan ke dalam Taman Nasional Ujung Kulon sebab memerlukan surat izin, tapi ke perkampungan penduduk yang ada di dekat Taman Nasional Ujung Kulon. Setidaknya mau melihat dan menikmati pantai di dekat perkampungan penduduk.

Usul dadakan itu langsung disetujui. Kebetulan kami belum makan siang. Tentu akan menyenangkan sekali menikmati makanan sambil melihat laut lepas. 

Untuk mewujudkan keinginan tersebut ternyata tidak mudah. Sepanjang perjalanan menuju Taman Nasional Ujung Kulon tidak ada warung penjual nasi. Mau tidak mau, seorang teman harus pergi mencari nasi bungkus di warung terdekat di daerah Sumur.

Sementara seorang teman berbelanja makanan, sisanya menunaikan ibadah dan jajan di warung dekat masjid. Udara pantai yang kering tidak terlalu terasa karena rindangnya pepohonan. Rasanya adem campur terik, khas daerah tepi pantai.

Begitu makanan tiba, kami langsung melanjutkan perjalanan dengan menyusuri jalan aspal hingga ke ujung. Meskipun ujung aspal ini berbatasan dengan pantai, tapi suasananya adem banget. Pohon-pohonnya tinggi dan rimbun. Teduh sekali.

Berteman angin dan deburan ombak, saya dan teman-teman menyantap nasi bungkus dengan lauk ayam. Ternyata lauknya cukup pedas, cocok dengan udara siang hari yang panas. Ternyata makan di tepi pantai di ujung Pulau Jawa itu memberi kenangan yang indah.

Bayangkan, dari tempat saya duduk sembari menyuap nasi terlihat lautan luas dan pulau Krakatau di kejauhan. Suara ombak yang susul menyusul benar-benar jadi musik indah yang membuai telinga. Tidak suara bising. Hanya nyanyian para burung yang bersahutan dengan suara ombak. Benar-benar pengalaman yang sulit untuk dilupakan.

Meski nasi telah habis, saya dan teman-teman masih enggan beranjak pergi. Kami memilih diam menikmati alam dengan tenang hingga matahari bergeser, menyisakan bayang panjang di atas pasir. 

 

Komentar