![]() |
| Bagang di tepi pantai Pandeglang (Dok. pribadi) |
Pernahkah melihat kerlap-kerlip lampu, seperti berasal dari tengah laut, pada malam hari? Apakah nyala terang itu berasal dari perahu nelayang yang tengah melaut?
Pertanyaan itu pernah muncul di benak saya ketika pertama kali berada di tepi pantai pada malam hari. Nyalanya yang terang jelas seperti memberi warna pada langit gelap. Pendarnya seperti naik turun mengikuti irama ombak di lautan. Rasanya senang sekali melihat kerlap-kerlip di tengah laut. Padahal saya berada cukup jauh, tapi rasanya gembira karena laut terasa ramai.
Waktu itu saya mengira kalau nyala terang itu berasal dari perahu nelayan. Lampu itu diperlukan untuk melihat di kegelapan. Tetapi ketika saya cermati, lampu itu tidak maju, tidak juga mundur. Seperti diam ditempat.
Entah berapa purnama ketika saya akhirnya tahu kalau nyala lampu di tengah laut itu berasal dari Bagang atau bagan. Tempat mencari ikan itu berada tidak terlalu jauh dari tepi pantai. Itu sebabnya cahaya lampunya masih terlihat. Pendar-pendar cahaya itu memang sengaja dibuat, bukan sebagai tanda atau suar seperti mercusuar, namun bermanfaat untuk menarik perhatian ikan-ikan kecil yang berenang di bagian bawah bagan.
Bambu dan Batang Kelapa
Beratus-ratus purnama, bahkan mungkin beribu-ribu purnama dari ketika saya mengetahui keberadaan bagan, saya tidak menyangka kalau dapat melihat bagan secara langsung. Tidak cuma melihat, saya bahkan bisa mengamati, memegang, dan ngobrol dengan para pembuat bagan di Kecamatan Sumur, Pandeglang, Banten.
![]() |
| Susunan bambu penyangga bagan (dok. pribadi) |
Saat itulah saya tahu kalau ilmu pembuatan bagan diteruskan secara lisan ke keluarga, atau orang yang mau mempelajarinya. Tidak ada kelas atau kursus yang menyelenggarakannya. Semua disampaikan secara langsung di lapangan yang berair karena berada di tepi pantai.
Tidak ada informasi yang bisa menjelaskan sejak kapan para pembuat bagan memulai pekerjaannya. Mereka hanya mengerjakan dan meneruskan apa yang telah dilakukan oleh orangtua atau keluarganya. Semua mengalir seperti air yang setiap hari mengusap telapak kaki.
Untuk bisa menguasi pembuatan bagan, seseorang akan belajar dari level paling rendah. Menyiapkan batang-batang bambu berukuran besar, membantu memasang bambu pada posisi yang sudah ditentukan, dan berbagai hal remeh yang tidak bisa dipandang sebelah mata.
Mengapa begitu, sebab ada banyak sekali bambu yang dipakai. Jumlahnya sekitar 200 batang. Bahan alami ini dipakai pada seluruh bagian bagan. Dari pondasi, tiang-tiang pendukung, hingga bagian atas yang menyerupai segitiga. Semua ada nama dan cara menyatukannya.
Batang-batang bambu ini juga menjadi penyangga untuk tiang utama yang berasal dari batang kayu kelapa. Kayu ini dikenal kuat dan tahan terhadap air laut. Butuh 20 pohon kelapa untuk membuat sebuah bagan. Kayu-kayu yang dipakai tidak berbentuk bulat tetapi telah dipotong seperti papan. Batang-batang ini akan ditutupi cat agar lebih kuat bertahan menghadapi angin dan badai lautan.
Pasak Besi dan Pelampung Plastik
Berbincang dengan para pembuat bagan mendorong saya untuk melihat lebih dekat. Jari-jari ini memegang tiang-tiang bambu. Permukaannya kering dan tidak terlalu kasar. Sinar matahari menghasilkan bayang-bayang di laut yang tenang.
Cuaca yang terik sempat membuat saya melamun, untung tidak lama karena teriakan pembuat bagan yang berada di atas lantai penyangga. Laki-laki bertopi hitam itu meminta pasak besi untuk memaku batang bambu dan batang kelapa. Pasak ini penting sebab tidak bisa menyatukan bagan dengan paku. Penyatunya hanyalah pasak besi dan tali.
![]() |
| Pelampung plastik biru (dok. pribadi) |
Tali plastik sebesar jempol tangan juga dipakai untuk mengikat pelampung plastik berukuran besar. Tanpa pelampung berwarna biru, bagan akan kesulitan mengapung. Pelampung plastik ini bentuknya seperti tabung dengan ujung kerucut. Setidaknya perlu 8 buah pelampung untuk menjaga bagan berada di permukaan laut.
Selamatan
Meski pembuatan bagan sudah menggunakan bahan-bahan modern, seperti pelampung plastik, saya mendapati masih ada tradisi yang tetap dipelihara. Tradisi berupa selamatan digelar sebelum pekerjaan pembuatan bagan dimulai. Ketika itu seluruh orang yang teribat dan pemilik bagan akan berkumpul untuk berdoa bersama.
Selamatan akan kembali dilakukan sebelum bagan yang sudah jadi dilepas ke laut. Lagi-lagi semua orang berkumpul untuk berdoa memohon keselamatan. Doa juga dipanjarkan agar bagan dapat memberi hasil tangkapan yang menggembirakan. Setelah semua selesai, bagan resmi melaut untuk menjalankan tugas mulianya, memenuhi pasokan ikan teri dan cumi untuk masyarakat.



Komentar
Posting Komentar
Terima kasih sudah berkunjung ke blog saya. Mohon tidak membagikan tautan disini. Silahkan meninggalkan komentar yang baik dan sopan.