![]() |
| Cendol Latte (dok: pribadi) |
Siang yang gerah dan waktu luang menjadi kombinasi yang pas untuk menyandarkan tubuh di sebuah sofa hijau, sambil menikmati segelas cendol latte.
Sebagai seorang yang tidak terlalu maniak dengan kopi, saya tidak keberatan untuk menikmati waktu di sebuah kedai kopi. Meski tempat itu lebih memanjakan para penyuka kopi, masih ada menu minuman yang bisa saya nikmati. Biasanya, ketika singgah di sebuah kedai kopi, saya akan memesan segelas cokelat hangat atau dingin.
Tetapi siang itu berbeda. Dari deretan minuman yang tertulis di daftar menu Kopi Kovi, ada satu menu minuman yang menarik perhatian. Begitu kuatnya judul yang dituliskan, sampai-sampai saya tidak memerhatikan apakah ada menu "berbau" cokelat di sana. Nama menu yang menarik itu adalah cendol latte.
Cendol atawa Dawet
Entah mengapa ketika membaca namanya, Cendol Latte, saya seperti tertegun. Pikiran saya justru sibuk mengingat kelezatan es cendol dari penjaja cendol di dekat kantor. Minuman tradisional itu benar-benar membius dan menjadi favorit saya dan teman-teman. Kala panas menggantang, minum es cendol sungguh menyenangkan.
Apalagi kalau es cendolnya ditambahi duren. Kata teman-teman, kenikmatannya menjadi berlipat. Walaupun kalau beli cendol dengan duren itu artinya tidak bisa minum di dalam ruangan, karena ada teman yang tidak suka bau duren.
Biar pun harus menikmati cendol di luar ruangan, tetap saja minuman yang terbuat dari tepung beras ini telah menjadi bagian dari kehidupan di kantor. Saya dan teman-teman yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, tidak memusingkan soal nama minuman, cendol atau dawet.
Ya, minuman dengan bentuk khas ini ada yang menyebut cendol, ada pula yang mengatakan dawet. Padahal dari informasi yang saya baca, bahan pembuat keduanya berbeda. Cendol dibuat dengan menggolah tepung kacang hijau atau hunkwe, ada juga yang mencampurkannya dengan sagu aren dan tepung beras. Sementara dawet menggunakan tepung beras.
Selain itu penyebaran cendol berbeda dengan dawet. Cendol lebih dikenal oleh masyarakat Jawa Barat. Sementara dawet wilayah sebarannya berada di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Namun demikian, saat ini dawet juga dapat ditemui di wilayah Jakarta.
Umumnya minuman tradisional ini dijajakan dengan menggunakan gerobak yang dilengkapi dengan gentong sehingga terlihat khas. Bentuk yang unik ini membuat pembeli mudah mengenalinya, walaupun jaraknya belum terlalu dekat.
![]() |
| Kopi Kovi di Jakarta Timur (dok. pribadi) |
Cendol Latte
Kembali ke minuman Cendol Latte yang saya pesan. Ketika minuman itu diantarkan, saya sempat ragu apakah minuman berwarna cokelat ini benar-benar minuman yang saya pesan. Penyebabnya receh saja, minuman itu berwarna cokelat seperti kopi susu, lalu sedotan yang disertakan terbuat dari stainless steel dengan diameter kecil.
Apa mungkin cendol bisa dengan mulus melewati diameter sedotan?
Jangan-jangan ukuran cendolnya sangat halus, mungkin serupa ukuran mi.
Begitu pikiran saya berkecamuk meski jari-jari ini sibuk mengaduk dan menekan es batu yang ada di permukaan. Berharap bisa menemukan wujud cendol seperti yang biasa saya nikmati.
Sayangnya upaya itu gagal. Tidak tampak sebutir cendol pun di dalam minuman. Semakin diaduk, seberapa kuatpun, minuman itu tetap berwarna cokelat tanpa perubahan apa pun.
Tetapi, saat saya menyeruputnya. Ekspresi wajah yang semula penuh tanda tanya berubah menjadi terkesima. Bagaimana tidak, saat cairan menyentuh indra perasa, rasa yang disajikan adalah cendol. Cukup pekat sampai-sampai saya tidak percaya.
Seketika lidah merasai cendol dari tepung beras namun tanpa wujud. Dipadu dengan cairan gula aren yang khas dan menjadi teman akrab. Tetapi setelahnya, lidah dimanjakan dengan sentuhan rasa kopi, tidak terlalu kuat namun cukup menghadirkan rasa kopi berpadu cendol.
Kombinasi yang unik dan berbeda, tetapi berhasil memadukan minuman tradisional Indonesia dengan kopi. Paduan ini bisa menarik perhatian dan memikat hati orang-orang yang baru berkenalan dengan kopi, atau orang-orang yang tidak terlalu suka kopi, namun ingin mencoba.
Siapa tahu setelah berkenalan dengan cendol latte, hatinya akan terpikat pada cendol latte, seperti saya. ah, seharusnya terpikat kopi latte atau kopi hitam atawa kopi tubruk yang berasal dari Indonesia.


Komentar
Posting Komentar
Terima kasih sudah berkunjung ke blog saya. Mohon tidak membagikan tautan disini. Silahkan meninggalkan komentar yang baik dan sopan.