Ketika Para Penulis Buku Anak Berkumpul Di GLN

Di Karangantu ada stasiun lawas buatan Belanda.

Stasiun karangantu di kota serang banten
Bangunan stasiun Karangantu (dok. Pribadi)


Siapa yang suka melihat bangunan lawas? Berarti kita sama. Entah kenapa pesona bangunan lawas itu kuat. Bangunan ini tersebar di berbagai daerah, salah satunya Kota Serang. Daftarnya cukup panjang. Salah satunya Stasiun Karangantu. Hm, namanya menarik sekali, apakah semenarik bangunannya? Mari mencari tahu.


Keinginan untuk melihat bangunan bersejarah di Kota Serang seperti mendapat sambutan. Tiba-tiba seorang teman mengabarkan kalau hari libur besok mau bertandang ke Banten Lama. Tentu saya menyambut gembira. Kami berjanji untuk bertemu di depan Keraton Surosowan, setelah saya menolak berangkat bersama. Saya mau mencoba naik kereta api lokal dan melihat Stasiun Karangantu. Namanya itu mengundang rasa ingin tahu.

Papan nama stasiun karangantu
Papan nama stasiun Karangantu (dok. Pribadi)



Stasiun Karangatu sebenarnya tidak terlalu jauh dari pusat Kota Serang. Butuh waktu 30 menit dengan menumpang kendaraan roda dua. Pakai kereta api lebih cepat, hanya 10 menit saja. Tetapi karena menggunakan kereta api, tentu saya harus datang lebih dulu sebelum kereta datang. 


Untuk memastikan jadwal dan tiket bisa menggunakan aplikasi milik KAI. Di jadwal kereta lokal Merak, jadwal keberangkatan paling pagi tertera pukul 06.10 WIB. Harga tiketnya sangat terjangkau Rp3000 dan bisa dibayar dengan uang digital.


Saya memilih keberangkatan paling pagi. Jadi pukul 05.40 WIB saya sudah duduk manis di stasiun Kota Serang. Tak lama terdengar pengumuman kalau kereta sudah berangkat dari Stasiun Walantaka. Segera bersiap menuju jalur dua dan itu dia kereta Merak datang.


Keadaan di dalam kereta cukup ramai. Hampir semua bangku terisi. Segera saja saya menuju gerbong depan dan duduk dibangku yang telah saya pesan. Baru saja berbincang dengan seorang Ibu, kereta sudah melambatkan jalannya. Pertanda kereta Merak akan berhenti di stasiun Karangantu.


Lucunya, ketika memasuki stasiun, saya tidak mendengar pengumuman kalau kereta akan berhenti. Jadi saya hanya menduga bahwa stasiun ini adalah stasiun yang ingin saya tuju. Untungnya benar. Oh ya, tidak banyak penumpang yang turun, mungkin karena masih pagi ya.


Bata dan kayu.


Tidak banyak penumpang yang turun di stasiun yang berada di daerah Kasemen. Suasana di sekitar stasiun tidak terlalu ramai. Langit terlihat berwarna kelabu. Saya berharap hujan tidak segera turun. 


Saya sengaja berjalan pelan di peron. Mengamati sekilas keberadaan bangunan lawas yang masih eksis hingga kini. 

Pintu keluar dan masuk penumpang
Pintu kelaur dan masuk penumpang di stasiun karangantu (dok. Pribadi)



Bangunan Stasiun Karangantu tidak terlalu besar. Terdiri dari dua ruangan, tempat untuk masinis dan sebuah ruangan penjualan tiket. Di antara keduanya terdapat ruang terbuka beratap untuk penumpang. 


Kedua ruangan itu dibuat menggunakan batubata. Sementara atapnya ditopang balok-balok kayu besar. Papan juga dipakai untuk melindungi ruang tunggu penumpang. 

Ruang tunggu penumpang di dalam stasiun karangantu
Ruang tunggu di dalam stasiun karangantu (dok. Pribadi)



Kayu-kayu ini tertutup cat tebal. Entah sudah berapa kali cat dipulaskan untuk melindungi kayu dari terpaan cuaca. Perawatan rutin membuatnya bertahan hingga kini. 


Saya duduk untuk mengamati, asyik benar melihat jendela besar dan tembok stasiun. Jika jendela dibuka lebar tentu angin leluasa memberikan kesejukan. 

Jendela besar dari kayu tebal
Jendela di stasiun karangantu (dok. Pribadi)



Tiba-tiba seorang staf stasiun menghampiri. Menanyakan apakah saya tertinggal kereta api. Saya jawab tidak hanya ingin duduk sebentat mengangumi keindahan bangunan stasiun. Akhirnya kami jadi berbincang tentang sejarah stasiun Karangantu. 


Stasiun yang dibangun tahun 1900


Keberadaan Stasiun Karangantu dikenal sebagai Stasiun Banten Lama dibangun oleh pemerintah Belanda. Ukuran stasiunnya kecil sebab merupakan stasiun kereta api kelas III/kecil. Letaknya tidak jauh dari pelabuhan nelayan. Ketinggian jika di ukur dari permukaan laut sekitar 4 meter. Stasiun ini hanya melayani satu kereta api yaitu KA Commuter Line Merak.


Dahulu pemerintah kolonial membangun jalur kereta api untuk memudahkan pengangkutan barang dan orang. Dalam perencanaannya perusahaan Staatsspoorwegen (SS) bertanggungjawab membangun jalur kereta api yang menghubungkan Duri di Jakarta hingga daerah Serang.

Perlengkapan keamanan di stasiun karangantu
Mengutamakan keamanan dan keselamatan penumpang (dok. Pribadi)



Pembangunan jalur kereta api semula berjalan lancar. Namun terhenti pada tahun 1890. Jalur kereta api hanya sampai Rangkasbitung. 


Rencana pembangunan jalur kereta api akhirnya kembali dilanjutkan pada tahun 1900. Dari Rangkasbitung menuju Serang dan akhirnya sampai ke Pelabuhan Anyer Kidul. 


Nama Karangantu


Udara sejuk yang berembus membuat saya penasaran dengan nama yang disematkan, Karangantu. Apakah di sekitar pelabuhan ada karang berwarna putih atau tempat yang berkaitan dengan hal mistis.


Ternyata dugaan saya tidak terlalu meleset. Nama Karangantu berasal dari mitos yang lekat di masyarakat. Masyarakat memercayai kisah yang menceritakan seorang Belanda membawa serta sebuah guci berisi hantu.


Tidak diketahui apa dan bagaimana guci itu bisa berisi hantu. Tidak diketahui juga penyebab hancurnya guci tersebut sehingga membuat hantu di dalamnya keluar. Kejadian ini membuat daerah tersebut dikenal dengan nama Karangantu.


Menarik sekali ya. Saya benar-benar menikmati perjalanan pagi itu. Juga perbincangan dengan staf stasiun yang ramah. Semoga saya bisa mendatangi dan melihat bangunan lawas atau benda cagar budaya di tempat lain.


Baca juga:


Ke Kota Serang Naik Apa?

ada-apa-di-kota-serang

Melihat mandi sungai riam di Cempaka

6 wisata terindah di swiss






Komentar