Mendulang intan menjaga tradisi masa silam

Apa yang terjadi pasca banjir melanda Kalimantan Selatan

Efek banjir dinding dapur hancur
Dinding rumah hancur diterjang banjir (koleksi pribadi)


Curah hujan yang turun di Januari memberi dampak besar bagi masyarakat Kalimantan Selatan. Banjir terjadi di sebagian besar wilayah Provinsi ini. Efeknya masih dirasakan masyarakat pasca banjir melanda Kalimantan Selatan. Kekurangan stok pangan hingga kehilangan peralatan seni adalah sebagian kisah yang tak nampak di permukaan.


Malam itu hujan turun cukup deras. Ini hari kedua hujan membasahi kota tempat saya bermukim. Dari balik jendela titik air seperti tak berhenti. Turun dan turun lagi.


Di tengah balutan udara dingin, saya tak dapat melakukan aktivitas harian seperti menyapu halaman dan berbelanja sayur ke warung di depan sana. Untuk makan, sementara waktu menggunakan stok lauk yang ada.


Saat itu, saya berjanji untuk berbelanja esok hari. Walaupun hujan belum berhenti.


Namun, tidak ada yang menyangka kalau esok pagi keadaan benar-benar berbeda. Sebagian besar wilayah Kalimantan Selatan terendam. Tinggi air berbeda-beda. Ada yang semata kaki, ada pula yang mencapai 1 meter.


Kejadian ini sungguh mengejutkan. Seharian itu saya memantau media sosial untuk bertukar informasi. Sekaligus mengingatkan teman-teman agar berhati-hati. 


Meski hujan telah reda, air tidak serta merta hilang. Beruntung lokasi tempat tinggal tergolong tinggi. Sore itu saya putuskan keluar rumah untuk membeli bahan pangan sekaligus memantau keadaan. Saya benar-benar tidak tahu apa yang terjadi pasca banjir melanda Kalimantan Selatan.


Dampak Banjir Mulai Terasa


Betapa kagetnya saya mendapati ruas jalan besar terlihat kotor oleh dedaunan dan sampah ukuran kecil. Ternyata semalam ruas jalan berubah menjadi sungai kecil. Sampah yang semula berada di selokan, kini tertinggal di ruas dan tepi jalan. 

 

Baca juga:

Cara memasak nasi dengan kompor gas dan kukusan 

Rempongnya dapur umum untuk pengungsi banjir di Kalimantan Selatan


Sambil melaju pelan, saya kembali melanjutkan perjalanan ke toko penyedia bahan pangan. Di beberapa titik terlihat pohon besar tumbang. Beberapa petugas tengah bekerja memotong batang pohon yang menghalangi jalan. 


Listrik sempat padam, untuk mencegah jangan sampai terjadi konsleting saat petugas kebersihan bekerja. Jalanan pun relatif sepi. Saya kira kerusakan hanya itu, namun dampak banjir baru saya temui keesokan harinya.


Pengungsi

Luasnya wilayah yang terkena banjir menyebabkan sebagian besar daerah lumpuh. Untuk bertahan, masyarakat terpaksa meninggalkan rumah dan mengungsi ke daerah yang lebih tinggi. Begitu berita yang saya dapat dari televisi.


Kota tempat tinggal saya menjadi lokasi penampungan pengungsi yang berasal dari Kabupaten Banjar, Kabupaten Tanah Laut, hingga Kabupaten Barito Kuala. 

 

Baca juga:

Jalan-jalan di Kotabaru Kalimantan Selatan


Jumlahnya mencapai 8000 orang. Mereka ditampung di beberapa fasilitas milik pemerintah kota, tenda darurat, rumah penduduk, warung makan, hingga ruko yang tengah dibangun.


Posko-posko pengungsian itu tersebar di banyak tempat. Di dekat rumah setidaknya ada 4 lokasi. Beruntung para pengungsi dalam keadaan baik. 


Sayuran langka


Lonjakan jumlah pengungsi serta terendamnya lahan sayur berimbas pada ketersediaan bahan pangan. Sangat sulit mendapatkan sayuran segar.


Beberapa wilayah yang menjadi lumbung sayur kota Banjarbaru tidak bisa menyediakan sayur karena lahan terendam. 


Otomatis harga sayur melambung. Seikat kacang panjang yang semula dijual Rp10.000 kini harus ditebus dengan membayar Rp30.000. Bayam, sawi, daun singkong dan kangkung menghilang dari pasar. 


Beruntung dapur umum di dekat rumah masih bisa menyediakan sayur berkat kiriman buah pepaya muda dari warga.


Krisis mie


Rupanya tidak hanya sayur yang menjadi barang langka, mie pun ikut serta akibat truk pembawa bahan baku tidak bisa melintasi banjir.


Seorang teman yang bertugas sebagai relawan hingga memasang status mencari pasokan mie untuk di distribusikan ke lokasi pengungsian.

 

Baca juga:

Ke Bambangin Barito Kuala lewat jalan darat atau sungai barito


Dalam sekejab informasi tersebar di dunia maya. Bersyukur pihak produsen mie merespon dan menjelaskan situasi. Dua hari kemudian krisis mie berakhir setelah pasokan bahan baku tiba.


Tak hanya itu, telur yang menjadi sumber protein pun sempat sulit di dapat. Banjir menyebabkan peternak tidak bisa mendistribusikan telur seperti biasa. 


Saya sempat terkejut ketika mendapati telur dijual per butir dengan harga cukup mahal. Mau bagaimana lagi, permintaan tinggi sementara pasokan tidak ada. Hukum ekonomilah yang berbicara.


Kesenian terimbas


Banjir memang tidak pandang bulu. Begitu banyak yang terkena dampaknya, termasuk para pelaku seni dan pengrajin.


Tidak sedikit para pelaku seni kehilangan peralatan yang digunakan untuk latihan dan manggung. Kendang, pakaian pentas, keyboard, hingga rebana rusak dan tidak bisa digunakan.


Sementara beberapa pengrajin harus merelakan mesin jahit dan bahan baku rusak akibat terendam. Roda produksi terhenti sementara. 

 

Baca juga:

 

Pesona musik tradisional Indonesia


Apa yang terjadi setelah banjir melanda Kalimantan Selatan memang menghadirkan banyak cerita sedih namun selalu ada kisah indah pembangkit semangat. 


Saya melihat bagaimana semangat masyarakat untuk membantu sesama sangat kuat. Seorang pemilik rumah makan bahkan menutup warung dan mengubahnya menjadi lokasi penampungan.


Belum lagi para Ibu-ibu yang tak henti berkarya di dapur umum untuk menyediakan makanan bagi pengungsi.


Semangat ini menjadi pendorong bahwa kita bisa sama-sama berjuang dan bertahan melewati cobaan. 





Komentar