Apa yang terjadi pasca banjir melanda Kalimantan Selatan

Menjadi Penggiat Budaya, mendekatkan diri pada masa lalu dan masa kini

 

Seragam penggiat budaya
Kelengkapan penggiat budaya


Ketika masih duduk di bangku Sekolah Dasar, saya sepertinya sudah meminati sejarah. Sebagai seorang anak kecil, saya bisa dengan tenang mendengar penjelasan guru tentang masa lalu. Tentang masa pra sejarah, tentang beragamnya suku di Indonesia, tentang candi-candi megah, tentang keindahan kain khas suatu daerah.


Begitu asyiknya menyimak, hingga ketika mendapatkan sebuah buku tentang sejarah negara Eropa, saya bisa dengan tekun membolak-balik lembarannya. Mengamati setiap gambar yang tertera, namun tak bisa membacanya karena menggunakan bahasa Inggris. 


Dari situ, kesukaan saya pada sejarah dan budaya terus bergulir. Meski tidak menempuh pendidikan di bidang sejarah, toh tetap bisa menikmati dan melakukan banyak hal (yang tidak disengaja) yang berkaitan dengan sejarah dan budaya.

 

Baca juga:

Warna-warni sejarah uang Indonesia


Kegemaran ini pula yang terus menggelitik untuk mencari tahu seperti apa adat istiadat dan budaya masyarakat Banjar. Saya masih ingat betapa antusiasnya ketika membaca spanduk kegiatan upacara Baayun Maulid. Bayangkan, cuma membaca belum melihat acaranya sudah bikin saya berbunga-bunga seperti lagi suka pada seseorang.


Sayang, ketika acara dilaksanakan saya justru gagal melihat karena tugas negara. Namun siapa sangka, tahun berikutnya saya bisa melihat dan mendokumentasikan, bahkan menuliskan upacara Baayun Maulid dalam sebuah buku cerita anak. Semesta sungguh baik.


Apa itu penggiat budaya.


Seperti seorang perenang, saya sudah mencelupkan kaki ke dalam kolam kebudayaan. Rasanya kok sejuk dan menyenangkan ya. Makanya begitu dapat info soal penggiat budaya, segeralah saya ikut serta.


Sambil menyiapkan berbagai dokumen pendukung, muncul juga pertanyaan seputar penggiat budaya. 


Apa sih penggiat budaya itu?


Dikutip dari laman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, penggiat budaya adalah orang yang ditugaskan Direktorat Jenderal Kebudayaan di daerah.

 

Baca juga:

Pesona musik tradisional Indonesia


Tidak semua daerah memiliki penggiat budaya. Syarat utamanya, daerah itu telah memiliki dokumen pokok-pokok kebudayaan daerah. Kota tempat saya bermukim telah memilikinya.


Nantinya di daerah tersebut akan ditugaskan seorang penggiat budaya. Benar-benar menantang, dilihat dari segi luas daerah dan tugas yang diembannya.


Seleksi dan seleksi


Waktu mengirimkan berkas, yang berada di benak saya adalah akan bertemu banyak pelaku seni budaya, melihat bangunan-bangunan cantik, mengamati berbagai upacara adat, dan hal-hal menarik lain yang membuat saya tak berhenti tersenyum.


Disisi lain, saya kudu menyiapkan hati kalau nggak lolos seleksi hahaha. Setidaknya ada 3 tahapan yang harus dilalui. Mulai dari tahapan seleksi administrasi alias kelengkapan data, lalu seleksi tertulis, dan terakhir wawancara. Semuanya melalui daring. 

 

Baca juga:

Rumahku di Bumi Seribu Sungai


Ketika itu belum pandemi. Ndilalah, tak lama setelah wawancara, keadaan mengharuskan setiap orang berdiam di rumah. Pupus sudah angan untuk melakukan perjalanan. 


Sebelum bertugas, pra aplikasi dulu


Sekian waktu berlalu. Setiap mengecek laman pendaftaran penggiat budaya, tak ada informasi baru selain pengumuman hasil seleksi wawancara. 


Hingga suatu hari, sebuah permintaan untuk bergabung di grup penggiat budaya muncul. Langsung setuju dong. Gabung. Siapa tahu saya bisa dapat informasi lanjutan.


Dan, benar. Saya dinyatakan lulus dan bertugas di kota Banjarbaru. Duhai Pemilik hidup, terima kasih atas karunia yang Kau limpahkan.


Kini saatnya bersiap mengikuti pembekalan secara daringlah. Zoom. Ketemu jarak jauh. Sesuai keadaan saat ini.


Mulai satu persatu materi dipaparkan. Rasanya kurang asyik sih, lebih enak ketemu langsung seraya menikmati segelas teh hangat dan kue manis. Tetapi maklumi dulu keadaan memang harus begini. Pastinya tetap semangat menimba ilmu.

 

Baca juga:

Cegah perundungan dengan konten positif


Puas melahap materi yang diberikan, saatnya mencoba menggunakan aplikasi penggiat budaya. Inilah "kantor" saya. 


Asyiknya, aplikasi dilengkapi fitur penyimpanan data jika mendatangi daerah minim sinyal. Tak ada tuh yang namanya nggak bisa mendata karena kendala jaringan. Semua akan tersimpan dan kirim saat berhasil menemui sinyal si pujaan hati.


Sebagai pelengkap, seragam, kartu pengenal, buku saku, buku catatan, dan tas dikirim ke rumah. Inilah seragam saya, seragam pertama yang saya kenakan untuk bekerja.


Berbekal pengetahuan yang diperoleh dari webinar dan buku saku serta aplikasi, saya akan memulai petualangan di masa lalu untuk disajikan di masa kini. 

 

Baca juga:

Melihat jembatan Barito, ikon kota Banjarmasin 

Kibarkan pesona sasirangan melalui Banjarmasin Sasirangan Festival

Melihat upacara 7 bulanan di kota Banjarbaru


Jadi, sejak 2 Januari 2021 saya menjalani kegiatan baru. Lengkap dengan seragamnya. Harapan saya, bisa dan mampu menjalani tugas dengan baik.





Komentar

  1. Bener banget, belajar budaya itu rasanya seru banget.. Apalagi kalau misalnya kita tahu cerita yang sebenarnya kayak gimana, duh kalau cuma satu artikel aja kayaknya gak bakal habis.

    Saya pertama kali menyukai budaya saat ada orang tua yang bercerita sangat panjang sekali, dari cerita saya mendengar sampai terkagum-kagum dan katanya ada bukunya. Langsung beli tapi sayangnya engresss dan semuanya text.. OMG haha.

    Tapi emang seru pake banget kok

    BalasHapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung ke blog saya. Mohon tidak membagikan tautan disini. Silahkan meninggalkan komentar yang baik dan sopan.