Posts

Showing posts from May, 2015

Ayo berlari...eh jalan kaki saja deh

Image
Sepatu olahraga, sudah siap. Celana training, sudah ok, dompet, telepon gengam, tempat air minum, power bank, buah salak, nasi, mi goreng, piring, dan sendok, semua sudah masuk ke dalam tas. Lalu mau kemana kita hari ini?

Sudah pasti mencari keringat, ini jadwal hampir tetap setiap hari minggu. Makanya bangun pagi-pagi ya. Tapi kali ini tempat yang dituju tidak bisa dibilang dekat. Tidak bisa dicapai dengan jalan kaki seperti yang biasa dilakukan. Perlu waktu dan kendaraan untuk sampai ke sana. Mau naik motor, bisa saja, hanya kapasitasnya terbatas dan bakalan batal berolahraga. Kuatir masuk angin duluan. Maka kendaraan roda empat jadi pilihan. Penumpangnya adalah saya, si kecil, kakak, kakak ipar, dan seorang keponakan.



Jam 6.30 kami siap menuju kebun teh di kawasan puncak. Lokasi olahraga ini dipilih gara-gara pertanyaan dari kakak pada si bungsu. "Kamu sudah pernah ke kebun teh?". Maka sang keponakan dan pakde pun menyusun rencana. Saya dan kakak ipar yang dapat jatah menyi…

Biji salak ala nenek#2

Jam sembilan pagi Mia sudah berdiri di depan rumah nenek. “Selamat pagi nek,” serunya sambil mengetuk pintu.
Pintu rumah itu terbuka, “Ah, ini pasti Mia. Mari masuk. Nenek sudah menunggu didalam,” ujar seorang kakek mempersilahkan Mia masuk. “Mari kita ke dapur,” ajaknya lagi setelah menutup pintu. Mereka pun menuju dapur yang berada di bagian belakang rumah.
Di sana nenek sudah menyiapkan bahan-bahan dan peralatan untuk membuat biji salak. Bahan-bahan itu ditata rapih dalam mangkuk berukuran sedang. Sementara di atas kompor, sebuah panci berisi air ditaruh dan dibiarkan hingga airnya mendidih.
“Ah, mari sini,” ajak nenek sambil menimbang sagu.
“Wah, nenek hebat. Bahan-bahannya sudah disiapkan semua. Mia terlambat ya, jadi tidak bisa membantu nenek.”
Nenek tersenyum,”tidak sayang, masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan.”
“Nah, sebelum mulai memasak, sebaiknya kamu memotret semua bahannya setelah itu cuci tanganmua ya,” pinta nenek.
Mia langsung mengeluarkan kamera dan memotret semua bah…

Di angkot itu.....banyak cerita

Kalau akhir pekan atau libur tiba, jalan-jalan sudah pasti masuk agenda biar pun tempatnya tidak jauh. Sangat-sangat jarang sekali perjalanan dilakukan dengan motor. Saya lebih memilih naik kendaraan umum. Banyak angkot yang berseliweran siap mengantar kemana yang mau  dituju. Memang perlu naik turun kan tidak ada angkot yang langsung ketujuan. Kecuali kita carter angkot hehehe.

Naik angkot itu sebenarnya menyenangkan, asal kita waspada. Tinggal duduk manis, ngobrol sana-sini, ketawa-tawa juga boleh asal jangan terlalu keras ya. Nah duduk manis itu yang kami lakukan, saya, si sulung, dan si bungsu waktu berjalan-jalan ke kawasan Margonda. Tidak ada percakapan ramai yang kami lakukan. Justru duduk diam sambil memperhatikan jalanan. Sebab di sebelah kami, yang duduk berseberangan, ada dua orang perempuan muda yang berbicara dengan suara lumayan keras.

Sepertinya mereka habis keliling pusat pertokoan, ada belanjaan yang dibawa mereka. Tapi wajah mereka sama sekali tidak gembira. Justru sed…

Biji salak ala nenek

Mia duduk termangu di teras depan. Ia bingung karena belum membuat tugas sekolah, padahal besok senin sudah harus dikumpulkan. Tugas itu mungkin mudah untuk para murid, mereka diminta memotret dan menuliskan cara pembuatan makanan tradisional di rumah. Sayangnya, Mama di rumah tidak bisa memasak. “Maaf sayang, mama tidak bisa membuat masakan. Bagaimana kalau kita beli buku masakan saja jadi kamu bisa menulis cara membuatnya?” ucap mama yang jago merias wajah mencoba memberi jalan keluar.
Ide mama benar juga sih, tetapi bagaimana dengan fotonya. Kalau sudah begini Mia jadi ingat sama nenek di Semarang yang jago masak. Setiap hari ada saja masakan tradisional yang dibuat nenek. Mia paling suka sama lumpianya. Wuih, enak banget lho.
Ya, sejak sebulan lalu Papa dipindahkan ke Surabaya. Di kota ini mereka tinggal di sebuah perumahan di pinggir kota Surabaya. Udaranya yang panas membuat Mia jarang sekali keluar rumah. Pulang sekolah ia langsung bersembunyi di kamarnya yang berpendingin.
Baru s…

Dukungan itu ada

Image
Sabtu lalu, tepatnya 9 mei 2015, untuk pertama kalinya saya menginjakkan kaki ke sebuah mal di daerah jakarta barat. Jaraknya jauh dari rumah. Apalagi jalanan saat ini semakin macet saja. Untuk datang ke acara yang berlangsung sore hari itu, saya meninggalkan rumah sejak siang hari. Walau begitu saya senang melakukannya, sebab apa yang saya lakukan masih belum apa-apa dibandingkan teman-teman lain kerjakan.



Bertempat di sebuah toko buku ternama di negara ini, acara peluncuran buku berjudul "secangkir cinta dan air mata" dilakukan. Saya agak terlambat tiba di sana. Pertama, belum mengenal benar lokasi tokonya, kedua karena tidak bisa pakai lift supaya lebih cepat, antriannya memang tidak ada tapi liftnya selalu penuh, jadi pakai tangga berjalan saja.

Sesampaikan di lokasi, acara sudah setengah jalan. Tak apa, lebih baik terlambat dari pada tidak datang sama sekali. Banyak teman yang sudah tiba, beberapa langsung disalami, sementara yang lain ditunda dulu karena bisa menganggu a…

Salin rupa

Image
Sebuah baju, ketika sobek pada suatu bagian maka nasibnya akan berubah. Kemungkinan paling besar adalah menjadi lap buat membersihkan yang kotor-kotor. Cuma kok rasanya sayang ya. Apalagi sobeknya tidak besar dan dibagian atas saja. Bagian bawahnya masih bagus. Warnanya juga belum pudar.



Ditambal bagian yang robek pun lucu. Pasti jadi aneh ketika dipakai. Biar pun bajunya penuh motif. Kayaknya bakal tambah susah cari bahan penambalnya. Tenang, masih ada jalan lain untuk memanfaatkannya atau merubah nasibnya. Paling tidak, nasibnya tidak berakhir dibagian bersih-bersih.

Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah berkhayal. Mereka-reka akan seperti apa bentuk baju ini nantinya. Kalau agak mentok, boleh kok buka-buka majalah atau lihat google, cari inspirasi. Nah saya sudah menemukan mau jadi apa si baju ini. Rencana akan dirubah menjadi rok untuk si bungsu. Kebetulan dia lagi suka pakai rok dan persediaan roknya sangat minim, alias cuma satu.

Otak-atik dulu supaya dapat gambaran nanti ben…

Kering kentang

Kemarin si bungsu libur satu hari, para guru rapat untuk persiapan ujian negara kelas 6. Meski libur, si bungsu sudah bangun sejak pagi, langsung duduk manis di depan televisi. Sebentar kemudian, ketika mendengar suara teman-temannya di depan, ia pun berlari meninggalkan televisi yang menyala. Matikan dulu sayang, baru bermain ya.

Dia sama sekali tidak tertarik ketika saya pergi ke tukang sayur membeli kentang. Ya hanya kentang saja soalnya yang lain, seperti sayur dan lauknya sudah dibeli lebih dulu. Kentang ini bonus alias tambahan si kentang lain yang juga sudah ada. Rencana akan dibuat kering kentang, seperti kemarin, sebab kurang banyak.

Kentang-kentang ini baru diproses setelah sayur dan lauk matang. Sengaja dibuat siang hari supaya santai. Kan, prosesnya lama. Di kupas dulu semua, baru direndam di dalam air. Nah, si bungsu mulai tertarik dan meninggalkan teman-temannya, duduk di dekat baskom air sambil membersihkan kentang-kentang itu. Sstt, ini salah satu trik supaya boleh main …

jungkat-jangkit persahatan

Pagi ini Anita bangun lebih pagi. Biasanya pukul 6, ia bangun setelah dibangunkan ibu. Kali ini, ia bangun sendiri dan langsung mandi. Ibu juga sudah mandi dan bersiap dengan pakaian olahraga. Begitu juga dengan Reni, sepupunya. Mereka akan berolahraga di taman yang baru saja diresmikan oleh Pak Walikota.

"Taman itu bagus lho Ren. Ada kolam ikan, lapangan futsal, jalur untuk lari atau jalan cepat, ada saung-saung untuk beristirahat," ujar Anita berpromosi.

"Iya, iya. Kamu sudah cerita kemarin di telepon. Makanya aku menginap di sini buat membuktikannya," jawab Reni tak kalah semangatnya sambil mengikat tali sepatunya.

Anita tertawa gembira. Benar kata Reni, ia tahu keadaan dan fasilitas di taman itu karena ketika peresmian, beberapa siswa dari sekolahnya diminta ikut upacara di sana. Letak sekolahnya pun tidak jauh dari taman itu, hanya lima menit saja berjalan kaki.

"Ayo, kalian sudah siap?," tanya ibu pada Anita dan Reni.

"Siap dong bu," jawab Anit…

Keliling Museum

Image
Perjalanan kali berbeda karena dilakukan berdua dengan si bungsu. Tempatnya tidak jauh, maksudnya tidak di luar kota, hanya ke Taman Mini Indonesia Indah. Tidak repot juga mengurus angkutan untuk ke sana, termasuk makan-makannya. Sebab, perjalanan kali ini diadakan oleh sekolah tempat si bungsu belajar. Jadi tinggal duduk manis saja di bis dan mengikuti arahan para guru, sebelumnya tentu saja melakukan pembayaran buat perjalanannya.

Meski tempatnya dekat, persiapan penting dilakukan. Yang paling utama adalah air minum. Cuaca lagi panas, meski kadang hujan juga, maka payung tak boleh ketinggalan. Juga topi dan kacamata. Camilan secukupnya saja. Pastikan dulu bawa makanan buat sarapan, sebab ransum baru diberikan nanti siang. Semua oke, termasuk tisu dan minyak kayu putih.

Jam delapan, perjalanan dimulai. Tak sampai satu jam rombonga sudah sampai ke TMII, keliling dulu melihat anjungan. Ternyata ada beberapa anjungan baru seperti anjungan Bangka Belitung. Rumah-rumah adat baru ini dibangu…